Air bersih merupakan salah satu kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia. Namun kenyataannya, tidak sedikit wilayah di Indonesia yang hingga kini masih kesulitan mendapatkan air dengan kualitas layak, terutama daerah pesisir yang sumber airnya cenderung payau dan mengandung zat besi tinggi disertai bau yang tidak sedap. Persoalan semacam ini juga dialami oleh sebagian warga RT 03 Desa Pegundan, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, tempat air sumur yang dipakai untuk keperluan sehari-hari belum memenuhi standar kelayakan sehingga rentan menimbulkan gangguan kesehatan bagi warga yang menggunakannya. Bagi saya, persoalan air bersih bukanlah hal yang bisa dianggap sepele atau dibiarkan berlarut larut. Setiap hari, air digunakan untuk berbagai keperluan seperti memasak, mandi, mencuci, dan menjaga kebersihan rumah tangga. Ketika kualitas air yang dipakai buruk sehingga memberi ancaman terhadap kesehatan, mulai dari iritasi kulit hingga gangguan lainnya maka hal tersebut akan semakin nyata. Oleh sebab itu, dibutuhkan solusi yang bukan hanya bersifat darurat, tetapi juga bisa terus dimanfaatkan dalam jangka panjang. Salah satu jawaban atas persoalan tersebut adalah pemasangan alat filter air keran dengan sistem tiga tahap penyaringan. Alat ini bekerja secara berurutan: tahap pertama menggunakan kombinasi batu zeolit dan karbon aktif yang berfungsi menyerap zat besi, mengurangi bau, serta menangkap zat pencemar dalam air; tahap kedua berupa filter kapas yang menyaring partikel-partikel halus dan kotoran yang masih tersisa; dan tahap ketiga menggunakan filter kain dua lapis yang menyempurnakan proses penyaringan sebelum air sampai ke keran. Perbedaan hasilnya pun terlihat jelas: air yang semula keruh, berwarna kecokelatan, dan berbau tidak sedap berubah menjadi lebih jernih dan segar setelah melewati ketiga tahap penyaringan tersebut. Alat semacam ini cocok diterapkan di daerah dengan keterbatasan akses air tawar karena cara pemasangannya sederhana, biayanya terjangkau, dan tidak memerlukan perawatan yang rumit. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi bukti bahwa dunia perguruan tinggi bisa turun langsung membantu menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat. Pemasangan alat filter air keran tiga tahap ini tidak sekadar menghadirkan solusi teknis, melainkan juga cerminan kepedulian terhadap kebutuhan dasar warga sekaligus wujud penerapan ilmu di lapangan secara langsung. Melihat ke depan, saya berpendapat bahwa keberlanjutan alat filter ini sangat bergantung pada dukungan bersama, baik dari pemerintah desa, warga setempat, maupun pihak kampus. Kerja sama tersebut diperlukan agar alat yang sudah terpasang tetap berfungsi optimal, misalnya lewat penggantian filter kapas dan filter kain secara berkala, pemahaman cara perawatan yang benar, serta kemungkinan pengembangan sistem penyaringan yang lebih baik di masa mendatang. Dengan cara ini, manfaat alat filter tidak hanya dirasakan sesaat, tetapi bisa terus dinikmati warga dalam jangka panjang. Pada akhirnya, penyediaan air bersih bukan sekadar urusan teknologi, melainkan juga bentuk investasi bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Hadirnya alat filter air keran tiga tahap penyaringan di Desa Pegundan menunjukkan bahwa solusi sederhana, apabila dilandasi kepedulian dan kerja sama yang baik, mampu memberikan perubahan nyata bagi kehidupan warga. Semoga langkah kecil ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain yang menghadapi masalah serupa, sehingga akses air bersih bisa dinikmati secara lebih merata.

Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































