Pagi itu, suasana rumah dipenuhi kesibukan. Beberapa anggota keluarga tampak menyiapkan berbagai perlengkapan, sementara tamu mulai berdatangan satu per satu. Di balik ramainya persiapan tersebut, tersimpan harapan dan doa yang mengiringi perjalanan dua orang yang akan memulai kehidupan baru. Di Rantau Prapat, Sumatera Utara, pernikahan adat Jawa masih menjadi bagian dari tradisi yang dijaga oleh sebagian masyarakat hingga saat ini.
Meskipun kehidupan masyarakat terus berubah, adat pernikahan Jawa tetap dilaksanakan dalam berbagai kesempatan. Pelaksanaannya memang tidak selalu sama seperti dahulu. Beberapa prosesi disederhanakan sesuai kebutuhan dan kemampuan keluarga, namun nilai-nilai yang diwariskan oleh generasi sebelumnya masih dipertahankan.
“Kalau orangnya suku Jawa, biasanya tetap pakai adat Jawa. Tapi di sini juga ada suku Batak Toba dan Mandailing,” ujar Sunarsih (40), warga setempat.
Keberagaman suku yang hidup berdampingan di Rantau Prapat membuat masyarakat terbiasa menghargai perbedaan budaya. Di tengah kondisi tersebut, adat pernikahan Jawa tetap dijalankan sebagai bagian dari warisan keluarga yang ingin terus dikenalkan kepada generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Jawa, pernikahan bukan hanya acara seremonial. Setiap prosesi memiliki makna yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, hubungan keluarga, serta penghormatan kepada orang tua. Nilai-nilai inilah yang membuat berbagai tahapan adat masih dipertahankan hingga sekarang.
Salah satu prosesi yang masih dilakukan adalah upah-upah, yaitu pemberian doa dan restu dari keluarga kepada kedua mempelai. Jika dahulu prosesi ini berlangsung secara sederhana di lingkungan keluarga, kini banyak yang mengabadikannya melalui foto dan video untuk disimpan sebagai kenangan.
Setelah itu, pasangan menjalani temu manten, yaitu pertemuan pertama setelah resmi menjadi suami dan istri dalam rangkaian adat. Saat ini, prosesi tersebut sering dikemas lebih menarik dan menjadi salah satu momen yang dinantikan dalam acara pernikahan.
Prosesi berikutnya adalah geger mayang yang biasanya melibatkan anggota keluarga yang belum menikah. Bentuk dan tampilannya mungkin telah menyesuaikan dengan dekorasi masa kini, tetapi makna yang terkandung di dalamnya tetap dijaga oleh keluarga yang melaksanakannya.
Ada pula balangan surah, yaitu tradisi saling melempar daun sirih antara kedua mempelai. Prosesi ini melambangkan kasih sayang dan kebersamaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Meskipun terlihat sederhana, tradisi tersebut masih menarik perhatian para tamu yang hadir.
Rangkaian adat kemudian dilanjutkan dengan wiji dadi. Dalam prosesi ini digunakan telur, air, dan bunga sebagai bagian dari simbol kehidupan rumah tangga yang akan dijalani pasangan pengantin. Sebagian pasangan muda saat ini memaknai prosesi tersebut sebagai lambang kerja sama dan saling mendukung dalam kehidupan berkeluarga.
Selanjutnya terdapat prosesi sinduran, yaitu ketika orang tua mengantarkan anaknya menuju kehidupan baru sebagai pasangan suami istri. Bagi banyak keluarga, momen ini menjadi simbol kasih sayang dan dukungan orang tua kepada anak mereka.
Suasana haru biasanya terasa saat sungkeman. Pada prosesi ini, kedua mempelai memohon doa restu kepada orang tua. Tangis dan pelukan sering kali mewarnai jalannya acara karena menjadi momen perpisahan sekaligus ungkapan rasa terima kasih kepada orang tua yang telah membesarkan mereka.
Sebagai penutup, terdapat prosesi dulangan atau saling menyuapi antara suami dan istri. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan serta kesiapan pasangan untuk saling berbagi dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Menurut Sunarsih, pelaksanaan adat saat ini memang tidak lagi selengkap dahulu. “Sekarang lebih sederhana, disesuaikan dengan keadaan,” katanya. Faktor ekonomi, waktu, serta kebutuhan keluarga menjadi beberapa alasan mengapa sebagian prosesi mengalami penyesuaian.
Meski demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam adat pernikahan Jawa masih tetap dijaga. Penghormatan kepada orang tua, kebersamaan dalam keluarga, serta tanggung jawab dalam membangun rumah tangga tetap menjadi bagian penting dari setiap prosesi yang dilaksanakan.
Bagi masyarakat Jawa di Rantau Prapat, adat pernikahan bukan sekadar warisan masa lalu. Tradisi tersebut masih dianggap memiliki makna dalam kehidupan keluarga hingga saat ini. Walaupun pelaksanaannya terus menyesuaikan perkembangan zaman, nilai-nilai yang diwariskan tetap hidup dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































