Tidak semua orang memiliki kebebasan penuh untuk memilih pasangan hidupnya. Dalam beberapa komunitas, cinta sering kali harus berhadapan dengan keyakinan, tradisi, dan harapan keluarga. Konflik semacam inilah yang dihadirkan Okky Madasari melalui tokoh Maryam dalam novel “Maryam”.
Maryam mencintai Alam dan berharap dapat membangun kehidupan bersama laki-laki yang dipilihnya. Sayangnya, hubungan itu tidak mendapat restu dari orang tuanya karena Alam bukan bagian dari komunitas Ahmadi. Penolakan tersebut sudah tampak sejak awal ketika ibu Maryam mengatakan, “Lebih baik tidak usah pacaran dengan orang luar. Daripada nanti sama-sama kecewa. Sama-sama terluka. Lebih baik diakhiri sekarang saja” (hlm. 17).
Sekilas, sikap orang tua Maryam mungkin terlihat terlalu membatasi kebebasan anak. Namun, jika dicermati lebih jauh, penolakan itu lahir dari ketakutan yang telah lama mereka pelihara. Bagi mereka, pernikahan bukan sekadar persoalan dua orang yang saling mencintai, melainkan penyatuan dua cara pandang, dua lingkungan sosial, dan dua keyakinan yang akan dijalani seumur hidup. Pengalaman anggota komunitas Ahmadi yang mengalami konflik rumah tangga karena perbedaan keyakinan membuat mereka semakin yakin bahwa menikah dengan sesama Ahmadi adalah pilihan yang paling aman.
Pandangan tersebut terlihat ketika ibu Maryam bertanya kepada Alam, “Apa itu berarti Nak Alam sudah siap menjadi seorang Ahmadi?” (hlm. 18). Pertanyaan itu menunjukkan bahwa penerimaan keluarga tidak hanya bergantung pada kesungguhan cinta Alam kepada Maryam, tetapi juga pada kesediaannya mengikuti keyakinan yang dianut keluarga Maryam. Dalam posisi ini, cinta seolah harus tunduk pada identitas dan aturan komunitas.
Di sisi lain, Maryam menghadapi persoalan yang tidak kalah rumit. Ia menyadari bahwa perasaan tidak dapat diatur sebagaimana aturan yang dibuat manusia. Kegelisahan itu tampak ketika ia mempertanyakan, “Bagaimana caranya mengatur hati agar jatuh cinta hanya pada orang dalam?” (hlm. 17). Pertanyaan tersebut menjadi inti dari konflik yang dialaminya. Maryam tidak sedang menolak keluarganya atau keyakinan yang selama ini membentuk dirinya. Ia hanya berhadapan dengan kenyataan bahwa perasaan tidak selalu tumbuh pada orang yang dianggap “tepat” oleh lingkungan dan komunitasnya.
Konflik yang dialami Maryam menunjukkan bahwa persoalan terbesar dalam hidup tidak selalu berkaitan dengan memilih yang benar atau yang salah. Terkadang, seseorang justru dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama penting: mempertahankan nilai yang diwariskan keluarga atau memperjuangkan kebahagiaan yang diyakininya sendiri. Dalam situasi seperti itu, setiap keputusan selalu menuntut pengorbanan.
Melalui tokoh Maryam, pembaca diajak melihat bahwa pilihan hidup seseorang sering kali dipengaruhi oleh berbagai tekanan di luar dirinya. Cinta tidak hanya berhadapan dengan perasaan, tetapi juga dengan nilai-nilai yang telah diwariskan sejak kecil. Ketika keduanya saling bertentangan, seseorang dapat terjebak dalam dilema yang sulit diselesaikan.
Pada akhirnya, kisah Maryam mengingatkan bahwa menjaga keyakinan dan tradisi memang penting, tetapi kebahagiaan individu juga tidak dapat diabaikan begitu saja. Keinginan Maryam untuk tetap hidup bahagia bersama Alam tanpa harus kehilangan keluarganya menunjukkan harapan akan ruang yang lebih terbuka bagi perbedaan. Novel Maryam menunjukkan bahwa persoalan terbesar sering kali bukan terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuan untuk memberi ruang bagi pilihan yang berbeda. Di tengah tuntutan untuk patuh pada keluarga dan komunitas, Maryam mengingatkan bahwa setiap individu juga memiliki hak untuk menentukan kebahagiaannya sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































