MALANG – “Semester berapa?” menjadi pertanyaan yang sering terdengar di kalangan mahasiswa. Sayangnya, pertanyaan tersebut sering diiringi dengan penilaian terhadap pencapaian seseorang. Mahasiswa yang lulus tepat waktu sering dicap lebih sukses, sementara mereka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk lulus kerap dipandang kurang kompeten. Di tengah budaya yang semakin kompetitif, banyak mahasiswa merasa harus terus berlari mengejar target akademik agar tidak tertinggal dari teman-temannya.
Budaya “lulus cepat” yang semakin mengakar di lingkungan pendidikan tinggi telah memberikan tekanan yang besar terhadap kesehatan mental mahasiswa. Meskipun menyelesaikan studi tepat waktu merupakan tujuan yang baik, menjadikannya sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dapat memicu kecemasan, stres, bahkan menurunkan kualitas proses belajar mahasiswa itu sendiri.
Salah satu dampak paling nyata dari budaya ini adalah meningkatnya tekanan mental yang dirasakan mahasiswa. Banyak mahasiswa merasa cemas ketika melihat teman-teman mereka lebih cepat menyelesaikan skripsi, memperoleh pekerjaan, atau diwisuda lebih dahulu. Media sosial juga memperkuat tekanan tersebut karena mahasiswa terus-menerus terpapar unggahan tentang pencapaian orang lain. Akibatnya, mereka mulai membandingkan perjalanan hidupnya dengan orang lain tanpa mempertimbangkan kondisi dan tantangan yang berbeda.
Selain itu, tuntutan untuk segera lulus sering membuat mahasiswa mengabaikan kesehatan fisik dan mental mereka. Tidak sedikit mahasiswa yang memaksakan diri untuk terus bekerja, mengerjakan tugas hingga larut malam, atau mengambil beban akademik yang berlebihan demi mempercepat kelulusan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan emosional atau burnout yang berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan mereka.
Budaya kejar lulus cepat juga berpotensi menggeser makna dalam pendidikan tinggi itu sendiri. Kampus seharusnya menjadi ruang untuk belajar, mengembangkan keterampilan, membangun relasi, dan mengeksplorasi minat. Berdasarkan laporan McKinsey (2023), sebanyak 60% lulusan masih mengalami ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, baik dalam aspek keterampilan teknis maupun soft skill. Ketika fokus utama hanya tertuju pada kelulusan secepat mungkin, mahasiswa cenderung melihat perkuliahan sebagai perlombaan, bukan sebagai proses pembelajaran. Akibatnya, kualitas pengalaman akademik yang diperoleh bisa menjadi kurang optimal. Survei Katadata Insight Center (2024) menunjukkan bahwa sebanyak 43% lulusan baru mengalami kebingungan dalam menentukan arah hidup dan karier setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Di sisi lain, tidak semua mahasiswa memiliki kondisi yang sama. Ada mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah, memiliki tanggung jawab keluarga, menghadapi kendala ekonomi, atau mengalami berbagai tantangan pribadi lainnya. Oleh karena itu, mengukur keberhasilan mahasiswa hanya dari kecepatan kelulusan merupakan pendekatan yang tidak adil dan mengabaikan keragaman pengalaman yang dimiliki setiap individu.
Dengan demikian, budaya “lulus cepat” perlu dipandang secara lebih kritis. Kelulusan tepat waktu memang patut diapresiasi, tetapi tidak seharusnya menjadi standar tunggal untuk menilai keberhasilan mahasiswa. Setiap mahasiswa memiliki perjalanan, tantangan, dan ritme perkembangan yang berbeda.
Pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang siapa yang mencapai garis akhir lebih dulu, melainkan tentang bagaimana proses tersebut membentuk individu menjadi pribadi yang kompeten dan siap menghadapi kehidupan setelah kampus. Sudah saatnya lingkungan akademik, keluarga, dan masyarakat berhenti memberikan tekanan berlebihan terkait kecepatan kelulusan. Dengan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkembang sesuai kapasitasnya, kita dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih sehat, inklusif, dan mendukung kesehatan mental generasi muda.
Oleh: Maria Palma Cahyaningtyas, Mahasiswa Universitas Brawijaya, Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan S1 Sastra Inggris.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































