PALEMBANG – Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian serius di Indonesia. Penyakit ini terjadi ketika kadar gula dalam darah meningkat akibat gangguan produksi insulin atau ketidakmampuan tubuh menggunakan insulin secara efektif. Saat ini, Diabetes Melitus tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga mulai banyak ditemukan pada usia produktif akibat perubahan gaya hidup.
Melalui pelaksanaan surveilans, diperoleh informasi yang komprehensif mengenai situasi penyakit, tren kasus, serta faktor risiko Diabetes Melitus Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Multiwahana. Berdasarkan hasil pengumpulan dan analisis data, kasus Diabetes Melitus Tipe 2 paling banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut, khususnya rentang usia 60–69 tahun dengan 30 kasus (7,7%). Selain itu, proporsi kasus pada perempuan tercatat lebih tinggi 64 kasus (5,7%) dibandingkan laki-laki. Faktor risiko yang paling dominan ditemukan adalah riwayat hipertensi dan obesitas 506 kasus (34,0%) yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2.
Berdasarkan kegiatan Praktik Belajar Lapangan (PBL) mahasiswa Program Studi Pengawasan Epidemiologi di Puskesmas Multiwahana Palembang, Diabetes Melitus menjadi salah satu penyakit tidak menular yang memerlukan perhatian khusus karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius apabila tidak dikendalikan dengan baik.
Diabetes Melitus tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling banyak ditemukan, mencakup sekitar 90–95 persen dari seluruh kasus diabetes. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan resistensi insulin yang dipengaruhi oleh pola hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, serta obesitas. Selain itu, faktor keturunan juga berperan dalam meningkatkan risiko seseorang mengalami diabetes.
Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian Diabetes Melitus antara lain obesitas, merokok, hipertensi, usia yang semakin bertambah, serta riwayat keluarga dengan diabetes. Kebiasaan merokok diketahui dapat meningkatkan risiko diabetes karena nikotin dapat mengganggu kerja insulin dan metabolisme glukosa dalam tubuh. Sementara itu, obesitas terutama penumpukan lemak di area perut menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya resistensi insulin.
Apabila tidak dikendalikan dengan baik, Diabetes Melitus dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Komplikasi tersebut meliputi gangguan penglihatan akibat retinopati diabetik, kerusakan ginjal, gangguan saraf, penyakit jantung koroner, stroke, hingga amputasi pada kasus yang berat. Selain berdampak pada kesehatan, diabetes juga dapat menurunkan produktivitas dan kualitas hidup penderitanya.

Upaya pencegahan Diabetes Melitus dapat dilakukan melalui penerapan pola hidup sehat. Masyarakat dianjurkan untuk menjaga berat badan ideal, melakukan aktivitas fisik secara rutin, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak konsumsi buah dan sayur, mengurangi asupan gula, serta menghindari kebiasaan merokok. Pemeriksaan gula darah secara berkala juga penting dilakukan untuk mendeteksi penyakit sejak dini.
Melalui kegiatan Praktik Belajar Lapangan di Puskesmas Multiwahana, mahasiswa memperoleh pengalaman dalam memahami pelaksanaan surveilans penyakit tidak menular, menganalisis faktor risiko, serta menyebarluaskan informasi kesehatan kepada masyarakat. Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan Diabetes Melitus sehingga angka kejadian dan komplikasi penyakit dapat ditekan.
Oleh:
Dea Octa Cima
Siti Dian Fadhila
Risa Halimatusyahdia
Violin Ayu Ningsih
Mahasiswa Program Studi Pengawasan Epidemiologi, Poltekkes Kemenkes Palembang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































