Ada sebuah adegan dalam novel Belenggu karya Armijn Pane yang terasa seperti cermin yang terlalu jujur. Dokter Sukartono pulang malam, mendapati isterinya berbaring membaca di sofa. Ia ingin menyapanya, menghampirinya, mungkin seperti dulu. Namun ia duduk di kursinya sendiri, mengisap rokok, dan diam. Isterinya, Sumartini, menunggu disapa. Tidak ada sapaan datang. Tidak ada percakapan terjadi. Dua manusia terpelajar, di bawah atap yang sama, sama-sama sepi, sama-sama menunggu yang lain memulai, dan tidak ada yang memulai. Armijn Pane menuliskan adegan itu pada 1938. Delapan puluh lebih tahun kemudian, kita masih tinggal di dalam adegan yang sama.
Kementerian Agama mencatat lebih dari 400.000 pasangan bercerai setiap tahun di Indonesia, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan angka perceraian tertinggi di Asia. Yang lebih mengkhawatirkan dari angka itu bukan cerai yang terjadi, melainkan pernikahan yang tidak cerai tapi juga tidak hidup. Para peneliti menyebutnya dengan berbagai nama: silent marriage, functional divorce, emotional estrangement. Dalam bahasa sehari-hari orang Indonesia, ia sering disebut lebih sederhana: sudah tidak cocok, tapi ya begini saja. Dua orang yang tetap satu rumah karena anak, karena keluarga, karena reputasi, karena belum tahu harus kemana, sementara di dalam hati masing-masing sudah lama gelap.
Sukartono dan Tini dalam novel Armijn Pane bukanlah pasangan jahat. Inilah yang membuat novel ini tidak nyaman untuk dibaca karena tidak ada penjahat yang jelas di sini. Sukartono adalah dokter yang dermawan, disukai pasiennya, peduli pada orang lemah. Tini adalah perempuan cerdas, progresif, punya pendapat sendiri di zaman ketika perempuan tidak diajarkan punya pendapat. Keduanya bukan orang buruk. Keduanya hanya tidak pernah belajar bagaimana berbicara satu sama lain tentang hal-hal yang paling penting. Tini tidak pernah bercerita tentang trauma masa lalunya yang membuat ia dingin. Sukartono tidak pernah mengakui bahwa ia merindukan kehangatan, bukan sekadar kecantikan. Keduanya menunggu pihak lain untuk membuka pintu terlebih dahulu, dan tidak ada yang membuka, dan pintu itu akhirnya berkarat dari dalam.
Dalam ilmu psikologi hubungan, kondisi ini dikenal sebagai demand-withdraw pattern, sebuah dinamika yang diteliti secara luas dan terbukti menjadi salah satu prediktor terkuat kehancuran pernikahan. Satu pihak menuntut kedekatan, yang lain menarik diri, yang kemudian membuat pihak pertama menuntut lebih keras, yang membuat pihak kedua semakin menjauh. Siklus ini tidak memerlukan kekerasan, tidak memerlukan pengkhianatan besar, tidak memerlukan momen dramatis. Ia bekerja perlahan, seperti rayap di balik dinding, tidak kelihatan sampai tiba-tiba tembok runtuh. Sukartono dan Tini hidup di dalam siklus itu selama berhalaman-halaman novel, dan Armijn Pane tidak memberi mereka resolusi yang mudah karena resolusi yang mudah tidak ada.
Yang menjadikan Belenggu terasa mendesak dibaca kembali hari ini bukan semata plot-nya, melainkan diagnosis yang ia tawarkan tentang cara kita dididik untuk tidak berbicara tentang perasaan dalam konteks rumah tangga. Tini terpelajar, aktif di organisasi perempuan, fasih berdebat tentang emansipasi di muka umum, namun di dalam rumahnya sendiri ia tidak bisa berkata kepada suaminya: aku kesepian, aku takut, ada sesuatu yang terjadi padaku dulu yang belum selesai sampai sekarang. Bukan karena ia tidak mampu. Melainkan karena tidak ada yang pernah mengajarkan bahwa itulah percakapan yang justru paling perlu terjadi di dalam sebuah pernikahan. Kita mengajarkan anak-anak perempuan cara memasak, cara berpakaian sopan, cara berbicara pada mertua, tapi jarang mengajarkan mereka cara menamai perasaan mereka sendiri dan menyampaikannya kepada orang yang paling dekat dengan mereka.
Di sisi lain, Sukartono berlari ke Rohayah bukan karena Rohayah lebih cantik atau lebih baik. Ia berlari ke sana karena di sana ia tidak perlu berusaha memahami, tidak perlu menghadapi kompleksitas, tidak perlu berhadapan dengan sesuatu yang menantangnya. Rohayah hangat dan menerima karena Rohayah tidak punya banyak pilihan selain menerima. Ini adalah dinamika yang sampai hari ini masih hidup dalam banyak relasi: pasangan yang “sulit dipahami” di rumah, dan orang ketiga yang “mudah diajak ngobrol” di luar, tanpa pernah mempertanyakan bahwa kemudahan itu mungkin lahir dari ketidaksetaraan posisi, bukan dari kecocokan jiwa yang sejati. Armijn Pane cukup jujur untuk tidak meromantisasi pilihan Sukartono. Novel ini tidak berakhir dengan kebahagiaan siapa pun.
Data dari berbagai riset konseling pernikahan Indonesia menunjukkan bahwa alasan utama perceraian yang diajukan ke pengadilan adalah pertengkaran terus-menerus dan tidak ada keharmonisan, yang dalam banyak kasus, jika ditelusuri lebih jauh, berujung pada satu akar yang sama: ketidakmampuan pasangan untuk mengomunikasikan kebutuhan emosional mereka. Bukan karena mereka tidak mencintai. Bukan karena pernikahannya salah. Melainkan karena mereka tidak punya kosakata untuk itu, tidak punya ruang untuk itu, dan kadang tidak punya izin budaya untuk mengaku bahwa mereka membutuhkannya. Laki-laki tidak boleh kelihatan butuh. Perempuan tidak boleh terlihat menuntut. Dan di antara dua larangan itu, tumbuh diam yang perlahan menjadi jarak.
Belenggu bukan novel yang menyenangkan. Ia tidak menawarkan pasangan ideal, tidak mengajarkan resep perkawinan bahagia, dan tidak mengakhiri ceritanya dengan rekonsiliasi yang hangat. Yang ia lakukan adalah sesuatu yang lebih berharga dan lebih langka dalam sastra Indonesia: ia memperlihatkan manusia apa adanya, dengan segala kerumitan batinnya, dan tidak menghakimi mereka. Tini tidak jahat karena dingin. Sukartono tidak jahat karena selingkuh. Rohayah tidak salah karena pernah jatuh. Mereka hanyalah manusia yang tidak cukup tahu cara menyelamatkan diri sendiri dan satu sama lain dari kesunyian yang mereka bangun bersama tanpa sadar.
Pesan itu terasa paling relevan justru di era ketika percakapan tentang kesehatan mental semakin ramai di permukaan, namun masih sangat sedikit yang meresap ke dalam ruang-ruang paling privat kehidupan manusia Indonesia: kamar tidur, meja makan, dan percakapan yang tidak pernah terjadi sebelum lampu dimatikan. Ribuan konten kesehatan mental beredar di media sosial setiap hari, namun angka perceraian tidak turun, dan lebih banyak lagi pernikahan yang tidak cerai tapi juga tidak hidup. Pengetahuan tentang attachment theory tidak otomatis mengajarkan seseorang cara membuka mulut kepada pasangannya di malam hari dan berkata: aku tidak baik-baik saja, dan aku perlu kamu tahu itu.
Armijn Pane menulis Belenggu di pengujung 1938 dengan keyakinan yang ia nyatakan sendiri dalam kata pembukanya: banyak yang hendak saya nyatakan, apakah yang dapat menghalangi saya. Delapan dekade kemudian, pertanyaan itu masih melayang di atas banyak rumah tangga Indonesia. Bukan karena tidak ada yang hendak dikatakan. Melainkan karena begitu banyak yang terasa menghalangi untuk mengatakannya. Dan selama belenggu itu tidak dikenali, tidak dinamai, tidak dibicarakan, ia akan terus bekerja dalam diam, persis seperti yang digambarkan novel ini, sunyi, rapi, dan menghancurkan perlahan-lahan.
Penulis: M.ikrom Alawi Ibnaz, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































