Lima mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika membuktikan bahwa kepedulian sosial dan identitas digital bisa berjalan beriringan.
Minggu, 3 Mei 2026 • Jakarta Timur • Bakti Sosial | Kampus Merdeka | BSI
Di tengah ritme kehidupan kota besar yang terus bergerak cepat, nilai-nilai kebersamaan kerap tersisih oleh kesibukan sehari-hari. Namun pada Minggu pagi, 3 Mei 2026, lima mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) hadir di Musholla Miftahussa’adah, Jakarta Timur, membawa semangat yang berbeda. Mereka tidak sekadar datang, mereka bekerja.
Kegiatan yang diberi nama Gema Musala ini merupakan inisiatif bakti sosial yang dirancang dan dieksekusi langsung oleh kelompok mahasiswa BSI. Dengan mengenakan jas almamater, mereka memulai aktivitas sejak pagi dengan membawa perlengkapan kebersihan yang disiapkan secara mandiri.

Siapa Saja Yang Terlibat
Anggota Kelompok Gema Musala
Rahmah Amelia Azzahra (Ketua), Nur Diana, Rafly Nur Aufa, Adjie Permana, dan Rianto.
Kelima mahasiswa tersebut turun langsung ke lapangan dan membagi tugas secara merata. Tidak ada yang menonton — semua bergerak.
Apa yang Mereka Kerjakan
Cakupan kegiatan jauh dari sekadar menyapu halaman. Tim Gema Musala mengerjakan seluruh bagian musholla secara menyeluruh:
• Menyapu dan mengepel area dalam serta teras musholla
• Membersihkan kaca-kaca jendela dari debu
• Menata ulang rak Al-Qur’an dan perlengkapan ibadah
• Menggulung dan merapikan karpet sajadah
Hasilnya: sebuah ruang ibadah yang bersih, rapi, dan nyaman bagi jamaah yang datang.
Mengapa Musholla?
Tempat ibadah bukan sekadar bangunan. Bagi warga sekitar, musholla adalah pusat pertemuan sosial dan spiritual. Merawatnya berarti merawat kualitas kehidupan komunitas secara keseluruhan.
Langkah ini juga selaras dengan arah program Kampus Merdeka, yang mendorong mahasiswa keluar dari batas ruang kelas untuk bersentuhan langsung dengan realitas sosial. Kepekaan terhadap lingkungan dinilai sama pentingnya dengan kecakapan akademik.
Pesan dari Ketua Kelompok
“Kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa memiliki peran sebagai agen perubahan — tidak hanya di ranah akademik dan digital, tetapi juga dalam kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Menjaga kebersihan rumah ibadah adalah tanggung jawab bersama, dan kami sangat bangga bisa berkontribusi langsung bagi kenyamanan warga.”
— Rahmah Amelia Azzahra, Ketua Kelompok Gema Musala
Lebih dari Aksi Satu Hari
Kelompok ini tidak hanya membersihkan musholla. Mereka juga menggulirkan kampanye sosial dengan pesan “Ayo Dukung Gerakan Mahasiswa!” yang dikuatkan dengan tagar #GemaMusala, sebagai ajakan terbuka kepada sesama generasi muda untuk mengambil peran serupa di lingkungan masing-masing.
Respons dari pengurus musholla dan warga sekitar sangat positif. Kehadiran fisik mahasiswa memberi dampak yang langsung terasa, sekaligus mengirimkan sinyal bahwa generasi digital tidak kehilangan akar sosial dan budayanya.
Catatan Akhir
Universitas BSI selama ini dikenal dengan identitas Kampus Digital Kreatif. Gema Musala memperlihatkan sisi lain dari identitas tersebut: mahasiswa yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga sadar bahwa kemajuan sejati tidak bisa dilepaskan dari karakter dan kepedulian terhadap sesama.
Nilai dari kegiatan ini tidak terletak pada dokumentasinya, melainkan pada apakah semangat ini akan berlanjut. Satu hari bersih-bersih mudah dilakukan. Yang lebih sulit — dan lebih berarti — adalah menjadikannya kebiasaan.
#GemaMusala #BaktiSosial #MahasiswaBSI #KampusMerdeka #GotongRoyong #JakartaTimur
Ditulis berdasarkan kegiatan bakti sosial kelompok mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika, 3 Mei 2026. Musholla Miftahussa’adah, Jakarta Timur.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































