BOYOLANGU, TULUNGAGUNG – Sebanyak 52 anak-anak RA Kelas B beserta orang tua atau wali murid mengikuti program Edukasi Gemar Makan Ikan yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 20 Universitas Brawijaya (UB) PSDKU Kediri, Kamis (17/7/2026). Kegiatan berlangsung di RA Syariful Mutaqqin, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.
Program ini bertujuan meningkatkan minat konsumsi ikan sejak usia dini sekaligus memperkenalkan peluang usaha berbasis olahan ikan patin melalui pelatihan pembuatan dimsum dan nugget. Dengan pendekatan yang menyenangkan, mahasiswa berharap anak-anak tidak lagi enggan makan ikan, sementara orang tua mendapatkan keterampilan mengolah ikan patin menjadi produk yang diminati anak.
Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan gizi dan ketahanan pangan berbasis protein hewani, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan mendorong pola makan bergizi sejak dini, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan UMKM berbasis komoditas lokal.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan story telling berjudul “Cerita Anak Ikan Patin”, penyampaian materi kandungan gizi ikan, edukasi pemasaran produk olahan, hingga demonstrasi pembuatan dimsum dan nugget berbahan dasar ikan patin.

Sesi pertama menghadirkan Chykha Artika Putri yang mengajak anak-anak mengikuti sesi story telling secara interaktif. Melalui cerita yang dikemas ringan dan menghibur, anak-anak dikenalkan dengan manfaat ikan patin serta pentingnya mengonsumsi ikan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tubuh.
“Ikan patin memiliki kandungan protein tinggi serta kaya akan omega-3 yang baik untuk perkembangan otak dan daya tahan tubuh anak. Harapannya, melalui cerita yang menyenangkan ini anak-anak menjadi lebih tertarik makan ikan tanpa merasa dipaksa, dan orang tua juga tergerak untuk membuatkan olahan dari ikan patin,” ujar Chykha Artika Putri.
Sesi kedua menghadirkan Rena Putri Arista yang menjelaskan bahan dan proses pembuatan dimsum serta nugget ikan patin. Bahan utama yang digunakan meliputi ikan patin, paha ayam, tepung tapioka, labu siam, wortel, daun bawang, telur, serta berbagai bumbu pelengkap. Untuk dimsum, adonan dibungkus kulit dimsum kemudian dikukus, sedangkan nugget dibentuk sesuai ukuran, dilapisi tepung cair dan tepung panir, lalu digoreng hingga keemasan.
“Kami memilih menggunakan bagian paha ayam karena teksturnya lebih lembut, kandungan lemaknya cukup sehingga menghasilkan adonan yang lebih juicy, serta dapat menyatu dengan daging ikan patin tanpa menghilangkan cita rasa ikannya,” jelas Rena Putri Arista.
Sesi ketiga menghadirkan Lidya Nova Ananda yang mengenalkan aspek pemasaran kepada para peserta. Ia menjelaskan pentingnya membangun identitas produk melalui nama merek, desain logo, dan kemasan yang menarik agar mampu bersaing di pasaran.
“Dalam berwirausaha, kualitas produk harus didukung dengan identitas yang kuat. Oleh karena itu kami memperkenalkan merek DimPang, yang berasal dari gabungan kata Dimsum dan Pangasius, nama latin ikan patin. Harapannya, produk ini mudah diingat dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” tutur Lidya Nova Ananda.
Diskusi berlangsung interaktif. Para wali murid aktif bertanya kepada mahasiswa KKN. Salah satu peserta menanyakan alasan penggunaan bagian paha ayam dalam pembuatan dimsum dan nugget. Pemateri menjelaskan bahwa paha ayam dipilih karena teksturnya lebih lembut, gurih, dan mudah dipadukan dengan ikan patin.
Pertanyaan lain yang menarik perhatian adalah mengenai kisaran harga jual apabila produk tersebut dipasarkan sebagai peluang usaha rumahan. Tim pemateri menjelaskan bahwa harga dapat disesuaikan dengan biaya produksi dan ukuran produk. Sebagai gambaran, dimsum ikan patin dapat dipasarkan pada kisaran Rp20.000 hingga Rp30.000 per kemasan, sedangkan nugget ikan patin sekitar Rp25.000 hingga Rp35.000 per kemasan, tergantung berat bersih, kualitas bahan baku, serta kemasan yang digunakan.
Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, menunjukkan minat masyarakat terhadap diversifikasi produk berbahan dasar ikan patin. Selain meningkatkan konsumsi ikan dalam keluarga, inovasi ini dinilai memiliki prospek sebagai usaha rumahan yang mampu memberikan nilai tambah bagi komoditas lokal Desa Boyolangu. Hal ini sekaligus menjadi kontribusi nyata terhadap SDG 8, dengan membuka peluang ekonomi baru berbasis sumber daya lokal.
Kepala RA Syariful Mutaqqin menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang digagas mahasiswa KKN UB PSDKU Kediri. Menurutnya, program ini sangat bermanfaat karena tidak hanya memberikan edukasi gizi kepada anak-anak, tetapi juga membekali orang tua dengan keterampilan mengolah ikan patin menjadi produk yang digemari anak-anak.
“Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa KKN. Anak-anak sangat antusias mengikuti cerita dan mencicipi hasil olahan ikan patin. Orang tua pun mendapatkan ilmu baru yang bisa diterapkan di rumah bahkan dikembangkan menjadi usaha,” ujarnya.
Melalui program ini, mahasiswa KKN Kelompok 20 Universitas Brawijaya PSDKU Kediri berharap edukasi Gemar Makan Ikan tidak hanya mampu membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia dini, tetapi juga mendorong masyarakat memanfaatkan potensi ikan patin menjadi produk olahan bernilai ekonomi. Dengan menggabungkan edukasi gizi, inovasi pangan, dan kewirausahaan, program ini menjadi langkah nyata dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat sekaligus membuka peluang berkembangnya UMKM berbasis komoditas lokal di Desa Boyolangu. Ke depannya, kegiatan serupa diharapkan dapat terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak pihak agar dampaknya semakin luas dan berkelanjutan.
Oleh: KKN PSDKU UB Kediri kelompok 20 desa Boyolangu
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































