Mahasiswa IPB University yang tergabung dalam tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Forest Management Students’ Club (FMSC) 2026 kembali meluncurkan inovasi pangan kreatif di lokasi pengabdian Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Melalui analisis potensi lokal, kawasan Desa Barengkok diketahui kaya akan pepohonan durian dengan produktivitas mencapai 5.000 buah per tahun. Namun, melimpahnya panen durian selama ini menyisakan limbah limbah biji durian (pongge) yang terbuang sia-sia. Mengatasi permasalahan tersebut, tim PPK Ormawa FMSC IPB University menciptakan produk makanan ringan bernilai gizi dan ekonomis tinggi yang diberi nama EBiD sebuah singkatan inovatif untuk Emping Biji Durian yang bertekstur renyah dan berasa gurih.
Inovasi EBiD ini terinspirasi dari kreasi olahan biji durian di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, yang pernah diulas dalam liputan kanal BeritaSatu pada tahun 2014. Melihat keberhasilan pemanfaatan limbah di daerah tersebut, mahasiswa IPB University mereplikasi serta mengadaptasi resepnya bersama kelompok ibu-ibu setempat, antara lain Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Mekar Sari, KWT Pelangi Gunung Suling, serta pelaku UMKM Online Bukit Sakinah di Desa Barengkok.
Resep olahan EBiD cukup sederhana dan mudah dipraktikkan secara mandiri oleh warga. Untuk setiap 500 gram biji durian, bumbu halus yang diperlukan terdiri dari 1½ sendok makan bawang putih, 1 sendok makan ketumbar, serta 1 sendok teh garam.
Proses pembuatannya diawali dengan merebus biji durian terlebih dahulu. Tahap perebusan ini sangat krusial untuk menghilangkan lendir khas biji durian sekaligus memadatkan teksturnya. Setelah direbus, kulit luar berwarna kecokelatan dihaluskan hingga bersih. Biji durian yang sudah bersih kemudian diblender hingga lumayan halus. Adonan halus tersebut lalu dicampur rata bersama bumbu halus (bawang putih, ketumbar, dan garam), kemudian dicetak dan dibentuk pipih menyerupai emping berukuran kecil (bite size). Setelah terbentuk, adonan emping dijemur di bawah terik matahari hingga benar-benar kering. Tahap akhir dilakukan dengan menggoreng emping kering dalam minyak panas hingga berwarna kuning keemasan dan bertekstur renyah.
“Inovasi EBiD hadir sebagai wujud nyata penerapan metode Circular EcoSmartForest melalui kerangka kerja BARAKSA (Barengkok Raksa) atau ‘Jaga Barengkok Berdaya’. Pendekatan ini mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular (zero waste) dengan pemanfaatan teknologi yang tepat guna cerdas untuk mewujudkan kemandirian masyarakat desa hutan. Kami berharap olahan EBiD ini tidak hanya mengeliminasi limbah organik durian, tetapi juga mampu bertransformasi menjadi produk UMKM unggulan khas desa yang mendongkrak pendapatan keluarga,” ujar Tabryan, anggota tim PPK Ormawa FMSC IPB University.
Pelatihan pembuatan EBiD ini mendapat sambutan hangat dari para peserta. Antusiasme terlihat dari semangat para anggota KWT dan pelaku UMKM dalam transmisi setiap tahapan pembuatan emping tersebut.“Alhamdulillah, mahasiswa ini banyak idenya dan menarik banget. Kita aja belum pernah kepikiran untuk mengolah biji durian yang selama ini hanya kita buang begitu aja,” pungkas Ibu Enung, Ketua KWT Melati Mekar Sari usai mengikuti kegiatan pelatihan.
Melalui pemanfaatan limbah berbasis kearifan lokal ini, mahasiswa IPB University terus berkomitmen menggalang pemberdayaan ekonomi perdesaan secara kreatif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Menandai:
BARAKSA, Biji Durian, EBiD, Emping Biji Durian, FMSC IPB University, IPB University, KWT Melati Mekar Sari, KWT Pelangi Gunung Suling, Olahan Pangan Lokal, PPK Ormawa FMSC 2026, UMKM Bukit Sakinah, Zero Waste
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































