Ada satu hal yang hampir selalu muncul setiap kali ada startup atau bisnis kuliner yang ambruk di Indonesia. Salah satunya cerita tentang orang yang dipercaya atau dianggap sebagai sesepuh bisnis, tetapi ternyata mengkhianati kepercayaan itu. Kasus Menantea ini juga tidak terhindari dari permasalahan ini.
Ketika Jerome polin seorang influencer yang terkenal dengan kepintarannya dalam matematika, membangun sebuah usaha franchise Menantea mengumumkan penutupan gerai menantea per 25 April 2026. Publik tidak hanya menyaksikan runtuhnya sebuah brand minuman yang sempat viral. Mererka juga menyaksikan sesuatu yang lebih dalam yaitu, cerminan dari cara kebanyakan bisnis Indonesia dijalankan berdasarkan atas kepercayaan personal, bukan sistem.
Ketika “Kekeluargaan” Jadi standar Operasional
Menantea diluncurkan pada 10 April 2021 oleh Jehian Panagian dan Jerome Polin. Dalam waktu singkat, brand Menantea berkembang jadi jaringan gerai di berbagai kota dengan tipikal kisah sukse anak muda yang sering muncul atau dibahas di media. Tapi di balik pertumbuhan cepat itu, ada satu hal yang luput dibangun dengan serius yaitu, sistem control keuangan.
Jerome mengaku sendiri dalam akun media sosial pribadi nya, bahwa laporan keuangan Menantea selama ini hanya berbasis Spreadsheet Excel. Tidak ada audit internal yang rutin, tidak ada pemisahan akses rekening, dan tidak ada pengecekan mutasi rekening secara berkala dimana hal tersebut merupakan kesalahan yang fatal dalam berbisnis.
“Kesalahan gua adalah gua engga ngecek mutasi,“ kata Jerome polin dalam salah satu keterangannya kepada publik. Kerugian yang kemudian terungkap mencapai Rp 38 Miliar, sebagaian besar karena dana perusahaan dipindahkan untuk keperluan lain oleh pihak yang dipercaya mengelolanya.
Ini bukan hanya semata – mata permasalahan teknis, ini adalah masalah budaya. Di banyak bisnis Indonesia, mulai dari warung sampai Startup muncul kecenderungan kuat untuk menggantikan sistem formal dengan kepercayaan personal. “Dia orang baik,” “Sudah kenal lama,” “dia sudah ahli, banyak bisnis yang sudah ia pegang,” atau “kita kan satu tim, satukeluarga”. Frasa – frasa inilah yang sering jadi alasan untuk tidak membuat kontrak yang ketat, tidak memasang sistem pengawasan berlapis, atau tidak memverifikasi laporan secara independen.
Akar Kulturalnya : Bukan Sekedar Kelemahan, Tapi juga Warisan
Budaya bisnis di Indonesia punya akar kuat dalam nilai – nilai komunal seperti, gotong royong, kepercayaan antar individu, dan orientasi relasional yang tinggi. Dalam banyak penelitian tentang UMKM Indonesia, ditemukan bahwa praktik transaksi berbasis kepercayaan dan usaha yang dikelola bersama jaringan keluarga atau komunitas adalah hal yang sangat umum. Ini bukan sesuatu yang sepenuhnya negatif, seperti dalam lingkungan yang sumber dayanya terbatas, modal sosial berbasis kepercayaan seringkali lebih efisien daripada birokrasi formal yang mahal dan lambat.
Masalahnya muncul ketika bisnis tumbuh melampaui skala “Keluarga” tapi masih dioperasikan dengan logika keluarga. Budaya clan dalam organisasi yang di mana pemimpin dianggap sebagai figur ayah atau kakak, dan kedekatan personal diutamakan. Hal ini diharapkan bisa bekerja sangat baik untuk menciptakan loyalitas dan kenyamanan di skala kecil. Tapi ketika bisnis sudah melibatkan puluhan gerai, ratusan karyawan, dan uang miliaran rupiah, kepercayaan personal saja tidak cukup jadi mekanisme kontrol.
Menatea bukan Satu – satunya
Sebelum menantea, ada eFishery yaitu Startup agritech yang sempat menjadi kebanggaan ekosistem startup Indonesia sebelum terlibat dugaan manipulasi data pengguna dan pelanggaran transparansi keuangan pada pertengahan 2024. Kasusnya memperlihatkan pola yang serupa, seperti pertumbuhan cepat yang tidak diiringi penguatan tata kelola, serta fokus berlebihan pada pencapaian target dan ekspetasi investor tanpa membangun mekanisme pengawasan yang memadai terhadap pihak internal.
Dua kasus ini bukan kebetulan. Mereka adalah simptom dari satu masalah struktural yang sama, bahwa Startup dan bisnis kuliner Indonesia sering tumbuh terlalu cepat sementara governance masih berjalan dikecepatan warung.
Dampak ke Ekosistem yang Lebih Luas
Penutupan Menantea tidak hanya merugikan para pendiri. Mitra usaha, karyawan gerai, dan konsumen juga terdampak. Jerome mengakumenggunakan dana pribadi untuk menyelesaikan kewajiban kepada mitra, ini adalah sebuah gestur yang patut diapresiasi secara moral, tapi tidak seharusnya menjadi solusi terakhir dalam bisnis yang punya tata kelola yang baik.
Bagi ekosistem UMKM dan Startup kuliner secara keseluruhan, kasus ini mestinya menjadi titik refleksi. Ketua asosiasi Industri Usaha Mikro, kecil, dan menengah Indonesia (Akumandiri), Hermawati Setyorini, menekankan bahwa akses rekening sebaiknya membutuhkan persetujuan lebih dari satu orang.
Rekomendasi ini sederhana tapi mendasar yaitu menekankan jangan biarkan satu orang punya akses penuh atas seluruh aliran uang bisnis, tanpa pengawas lain.
Kepercayaan seharusnya jadi dasar memilih mitra, membangun budaya kerja, dan mempertahankan relasi jangka panjang. Tapi kepercayaan tidak bisa menggantikan kontrak tertulis, audit keuangan independen, pemisahan akses rekening, atau SOP yang jelas. Dua hal ini bukan oposisi yang mereka seharusnya bekerja berdampingan. Seperti yang dikatakan salah satu pakar tata kelola bisnis merespons kasus Menantea bahwa bisnis yang berkelanjutan butuh tiga hal yaitu pembagian tugas yang menciptakan akuntabilitas, dan sistem keuangan yang menjaga transparansi. Tanpa itu, bisnis berjalan tanpa pagar pengaman, seberapa pun kuatnya rasa percaya antar pihak yang terlibat.
artikel ini disusun oleh : Kelompok 5
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan, foto, gambar, ilustrasi, apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































