Beberapa bulan terakhir, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Beras, cabai, bawang, hingga sejumlah komoditas strategis mengalami fluktuasi yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, perhatian publik tidak hanya tertuju pada kenaikan harga itu sendiri, tetapi juga pada bagaimana media, pemerintah, dan aktor politik membingkai penyebab dari persoalan tersebut.
Sebagian pemberitaan menempatkan faktor global sebagai penyebab utama. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, konflik geopolitik internasional, gangguan rantai pasok, hingga perubahan iklim menjadi narasi yang sering muncul dalam berbagai pernyataan resmi. Di sisi lain, terdapat kelompok yang menilai bahwa persoalan utama justru terletak pada tata kelola distribusi pangan, efektivitas kebijakan pemerintah, serta lemahnya pengawasan terhadap rantai perdagangan.
Perbedaan sudut pandang tersebut dapat dipahami melalui Teori Framing yang dikemukakan oleh Erving Goffman dan kemudian dikembangkan dalam studi komunikasi massa. Teori ini menjelaskan bahwa media tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menentukan bagaimana fakta tersebut dipahami oleh publik melalui pemilihan sudut pandang tertentu.
Dalam konteks kenaikan harga kebutuhan pokok, framing menjadi faktor penting yang membentuk persepsi masyarakat. Ketika media lebih sering menyoroti faktor eksternal, publik cenderung melihat pemerintah sebagai pihak yang sedang menghadapi situasi sulit di luar kendalinya. Sebaliknya, ketika media menekankan persoalan distribusi, pengawasan pasar, atau kebijakan ekonomi domestik, perhatian masyarakat akan lebih tertuju pada kinerja pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Persoalannya, framing bukan sekadar persoalan teknis jurnalistik. Cara suatu isu dikemas dapat memengaruhi opini publik, arah diskusi sosial, bahkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Dalam era digital, situasi ini semakin kompleks karena masyarakat memperoleh informasi dari berbagai sumber yang sering kali memiliki kepentingan dan agenda berbeda.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa setiap pemberitaan membawa perspektif tertentu. Sikap kritis terhadap informasi menjadi penting agar publik tidak hanya menerima satu narasi sebagai kebenaran tunggal. Di sisi lain, media juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan pemberitaan yang berimbang sehingga masyarakat dapat memahami persoalan ekonomi secara lebih utuh.
Pada akhirnya, kenaikan harga kebutuhan pokok memang merupakan persoalan ekonomi. Namun lebih dari itu, fenomena ini juga menunjukkan bagaimana realitas sosial dibentuk melalui komunikasi. Di tengah derasnya arus informasi, tantangan terbesar masyarakat bukan hanya menghadapi kenaikan harga, melainkan juga memahami bagaimana suatu peristiwa dibingkai dan dimaknai di ruang publik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































