Panggung pariwisata berbasis budaya (cultural tourism) seperti Hajat Laut Pangandaran yang berlangsung meriah pada tanggal 16 juni kemarin kini telah bergeser menjadi arena di mana pelestarian tradisi terjadi secara fisik di pesisir pantai dan juga secara naratif di media sosial. Salah satu upacara adat yang paling disorot oleh perhatian publik adalah prosesi pelepasan sesaji sebagai bentuk rasa syukur para nelayan.
Ritual budaya berupa kegiatan Hajat Laut Pangandaran berakhir dengan khidmat setelah seluruh rangkaian upacara adat selesai dilaksanakan di tengah laut. Namun, perhatian terhadap tradisi ini tidak hanya berlangsung di lokasi acara. Di media sosial, Hajat Laut juga memperoleh sorotan yang sangat besar melalui berbagai unggahan foto, video, dan pemberitaan yang beredar luas.
Melalui berbagai konten yang dibuat oleh kreator digital, media massa, serta instansi terkait, Hajat Laut Pangandaran semakin dikenal sebagai salah satu daya tarik budaya dan pariwisata unggulan. Beragam dokumentasi visual yang menampilkan kemeriahan acara, keindahan laut, dan partisipasi masyarakat berhasil menarik perhatian publik dari berbagai daerah.
Proses publikasi tersebut tidak terjadi tanpa tujuan. Sejak masa persiapan hingga pelaksanaan acara, berbagai konten di TikTok, Instagram, dan YouTube menampilkan Hajat Laut sebagai tradisi budaya yang menarik, meriah, dan layak dikunjungi. Akibatnya, masyarakat tidak hanya melihat Hajat Laut sebagai upacara adat nelayan, tetapi juga sebagai peristiwa budaya yang memiliki nilai wisata dan daya tarik visual yang tinggi.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Teori Framing yang dikemukakan oleh Erving Goffman (1974) dan dikembangkan oleh Robert Entman (1993). Teori ini menjelaskan bahwa media cenderung memilih dan menonjolkan aspek tertentu dari suatu peristiwa sehingga lebih mudah diperhatikan, dipahami, dan diingat oleh khalayak.
Dalam konteks Hajat Laut Pangandaran, media dan para pembuat konten lebih banyak menampilkan unsur-unsur yang menarik perhatian publik, seperti kemeriahan karnaval, warna-warni perahu nelayan, keindahan pantai, serta tingginya antusiasme masyarakat. Melalui penyajian yang berulang, unsur-unsur tersebut menjadi gambaran utama yang melekat dalam ingatan publik mengenai Hajat Laut.
Ketika acara berlangsung dengan meriah dan mendapat banyak kunjungan wisatawan, kondisi tersebut semakin memperkuat citra Hajat Laut sebagai festival budaya yang besar dan sukses. Berbagai video sinematik, foto dokumentasi, serta narasi promosi yang beredar di media sosial turut memperkuat kesan tersebut.
Di sisi lain, terdapat sejumlah aspek yang memperoleh perhatian lebih sedikit, seperti kondisi ekonomi nelayan, pengelolaan lingkungan setelah kegiatan berlangsung, maupun pemahaman generasi muda terhadap makna dan nilai budaya yang terkandung dalam tradisi tersebut. Perhatian publik lebih banyak tertuju pada kemeriahan acara dan keindahan visual yang ditampilkan.
Oleh karena itu, Hajat Laut Pangandaran menunjukkan bagaimana media sosial dapat memengaruhi cara masyarakat memahami sebuah tradisi budaya. Media mendokumentasikan suatu peristiwa dan juga membantu membentuk cara publik memandang dan memberi makna terhadap peristiwa tersebut.
Masyarakat, terutama generasi muda, perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial. Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada aspek hiburan dan promosi wisata, tetapi juga pada nilai budaya, filosofi, serta kehidupan masyarakat pesisir yang menjadi bagian penting dari tradisi Hajat Laut itu sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































