JAKARTA – Tidak semua perjalanan menuju kesuksesan dimulai dari ruang kelas yang nyaman atau lingkungan yang serba berkecukupan. Sebagian justru lahir dari jalanan kota, dari pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata, hingga dari keberanian untuk terus bermimpi di tengah berbagai keterbatasan. Kisah itulah yang tergambar dalam perjalanan hidup Afriandi Azhar, seorang mantan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) yang kini mengemban amanah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Pertanian.
Perjalanan hidup Afriandi menjadi bukti bahwa latar belakang ekonomi maupun jenis pekerjaan bukanlah penentu masa depan seseorang. Dengan tekad, kerja keras, serta dukungan keluarga, ia berhasil membalikkan keadaan hingga dipercaya sebagai Perancang Peraturan Perundang-undangan di lingkungan Kementerian Pertanian. Di balik keberhasilan tersebut, tersimpan perjuangan panjang yang tidak pernah mudah.
Titik balik kehidupan Afriandi bermula dari sebuah kalimat sederhana yang diucapkan sang istri. Kalimat itu bukan berasal dari seorang motivator ataupun tokoh publik, melainkan dari pasangan hidup yang setiap hari menyaksikan langsung perjuangannya mencari nafkah. “Aku sanggup hidup susah bersamamu. Tapi aku tidak ingin anak-anak kita tumbuh dalam keadaan susah karena kita tidak berani mengubah nasib.” Bagi Afriandi, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan merupakan jalan untuk mengubah kehidupan keluarga.
Jauh sebelum mengenakan pakaian dinas ASN, Afriandi tumbuh dalam keluarga sederhana yang akrab dengan keterbatasan ekonomi. Masa kecilnya diwarnai dengan kehidupan berpindah-pindah tempat tinggal, mulai dari menumpang di rumah nenek hingga tinggal di rumah kontrakan sederhana. Sang ayah bekerja sebagai sopir pribadi, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga agar anak-anaknya tetap dapat mengenyam pendidikan.
Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat berbagai kebutuhan harus diprioritaskan secara hati-hati. Menunggak pembayaran uang sekolah menjadi pengalaman yang tidak asing bagi keluarganya. Sejak usia dini, Afriandi telah memahami bahwa pendidikan bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah, melainkan harus diperjuangkan melalui kerja keras dan pengorbanan. Meski demikian, kedua orang tuanya terus menanamkan nilai kejujuran, semangat belajar, dan pantang menyerah sebagai bekal menghadapi kehidupan.

Perjalanan baru dimulai pada 2015 ketika Afriandi diterima sebagai petugas PPSU di Kelurahan Tebet Timur. Dengan gaji pertama sebesar Rp2,7 juta, ia berupaya membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mulai menyimpan harapan untuk melanjutkan pendidikan. Setiap hari ia berangkat bekerja sebelum matahari terbit, membersihkan jalan, saluran air, serta berbagai fasilitas umum agar lingkungan tetap bersih dan nyaman bagi masyarakat.
Di balik pekerjaannya sebagai petugas kebersihan, Afriandi juga harus menghadapi berbagai pandangan yang meremehkan kemampuannya. Salah satu kalimat yang masih diingatnya hingga kini datang dari seseorang yang meragukan mimpinya untuk kuliah. “Beli buku saja kamu tidak akan mampu,” ujar orang tersebut. Alih-alih membuatnya menyerah, keraguan itu justru menjadi motivasi bagi Afriandi untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Selama tiga tahun bekerja, Afriandi memilih menunda kuliah demi mengumpulkan biaya pendidikan. Baginya, mimpi harus diwujudkan melalui usaha nyata, bukan sekadar angan-angan. Pada 2018, ia akhirnya berhasil mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular. Sejak saat itu, kehidupannya dipenuhi rutinitas yang nyaris tanpa jeda antara bekerja dan menuntut ilmu.
Pagi hingga sore ia menjalankan tugas sebagai petugas PPSU. Ketika malam tiba, ia mengikuti perkuliahan. Bahkan pada waktu istirahat kerja, Afriandi tidak memilih beristirahat, melainkan membuka buku-buku hukum untuk membaca materi kuliah. Trotoar, yang selama ini menjadi bagian dari pekerjaannya, berubah menjadi ruang belajar. Di samping sapu, gerobak sampah, dan perlengkapan kerja lainnya, ia mempelajari teori hukum, mencatat materi, serta mempersiapkan ujian demi meraih cita-cita yang selama ini diperjuangkan.
Seluruh pengorbanan tersebut membuahkan hasil. Afriandi berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Mpu Tantular dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,54. Prestasi akademik tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras mampu mengalahkan berbagai keterbatasan yang selama ini membayangi kehidupannya.
Di balik keberhasilan itu, terdapat peran besar sang istri yang senantiasa memberikan dukungan tanpa syarat. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, keduanya sepakat mengurangi pengeluaran rumah tangga agar sebagian penghasilan dapat dialokasikan untuk membiayai kuliah. Tidak ada gaya hidup mewah maupun pengeluaran yang tidak mendesak. Seluruh pengorbanan dilakukan dengan keyakinan bahwa pendidikan merupakan investasi terbaik untuk masa depan keluarga dan anak-anak mereka.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya menemukan titik terang ketika Afriandi dinyatakan lolos seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) dan resmi diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara di Kementerian Pertanian sebagai Perancang Peraturan Perundang-undangan. Profesi yang dahulu terasa begitu jauh kini menjadi kenyataan. Dari seseorang yang setiap hari membersihkan jalanan ibu kota, ia kini berkontribusi dalam penyusunan regulasi yang menjadi bagian dari penyelenggaraan pemerintahan.
Kisah Afriandi Azhar menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh keadaan ekonomi, latar belakang keluarga, maupun jenis pekerjaan yang dijalani seseorang. Perjalanan dari trotoar menuju ruang penyusunan regulasi membuktikan bahwa keberanian untuk terus belajar, bekerja keras, dan bertahan mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Di balik setiap pencapaian besar, selalu ada proses panjang yang dipenuhi pengorbanan, doa, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































