Sukorejo, Gresik – Mahasiswa Subkelompok Inovasi Produk 2 Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa Pelatihan Pembuatan Fruit Leather Melon di Famora Farm (Greenhouse Melon), Desa Sukorejo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik pada Jumat, 10 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat melalui diversifikasi produk olahan melon guna meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini didampingi oleh Rizki Dwi Bakhtiar Surin, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Program dilaksanakan oleh mahasiswa Subkelompok Inovasi Produk 2 yang terdiri atas; Tri Hutomo Yogiantoro (NBI: 1212300011), Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya; Sinthike Teresa Ekowati Botto (NBI: 1212300222), Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya; Delfina Rahmania Sadewi (NBI: 1512300197), Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada Jumat, 10 Juli 2026, bertempat di Famora Farm (Greenhouse Melon), Desa Sukorejo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pentingnya diversifikasi produk berbasis komoditas lokal, dilanjutkan dengan pengenalan Fruit Leather Melon sebagai salah satu produk inovasi berbahan dasar melon, serta sharing session mengenai pemanfaatan komoditas melon menjadi produk bernilai tambah dan peluang pengembangannya sebagai usaha berbasis potensi lokal. Melalui kegiatan ini, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pengolahan buah melon yang memiliki nilai tambah, daya simpan lebih lama, serta potensi untuk dikembangkan menjadi produk usaha berbasis potensi lokal.
Sebagai mitra dalam kegiatan ini, Famora Farm (Greenhouse Melon) menjadi lokasi pelaksanaan pelatihan yang melibatkan pelaku usaha dan masyarakat setempat yang memiliki ketertarikan terhadap pengembangan produk olahan berbasis komoditas lokal. Dalam pelatihan tersebut, mahasiswa memperkenalkan proses pembuatan Fruit Leather Melon, yaitu camilan berbentuk lembaran tipis yang diolah dari daging buah melon menggunakan teknik pengolahan sederhana sehingga memiliki daya simpan lebih lama dibandingkan buah segar. Selain itu, peserta juga memperoleh pendampingan mengenai tahapan pengolahan, pengemasan produk, serta peluang pengembangan usaha berbasis potensi lokal.
Kegiatan diawali dengan pemaparan mengenai potensi komoditas melon di Desa Sukorejo, dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan Fruit Leather Melon, praktik bersama peserta, serta pendampingan mengenai pengemasan produk agar memiliki nilai jual yang lebih baik. Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai peluang pengembangan usaha melalui diversifikasi produk berbasis melon.
Program ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya diversifikasi produk olahan melon di Desa Sukorejo. Selama ini, hasil panen melon sebagian besar dipasarkan dalam bentuk buah segar sehingga nilai tambah ekonomi yang diperoleh masih relatif terbatas. Selain itu, buah melon yang tidak memenuhi standar pemasaran belum dimanfaatkan secara optimal menjadi produk olahan bernilai ekonomi. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya inovasi produk yang mampu meningkatkan nilai jual sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan komoditas melon lokal.
Melalui pelatihan Fruit Leather Melon, mahasiswa bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah buah melon menjadi produk bernilai tambah, memperkenalkan alternatif diversifikasi usaha berbasis potensi lokal, serta mendorong tumbuhnya peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM di Desa Sukorejo.
Menurut Rizki Dwi Bakhtiar Surin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, pengabdian kepada masyarakat tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga harus memberikan solusi yang dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat.
“Potensi lokal akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila mampu diolah menjadi produk bernilai tambah. Melalui pelatihan ini diharapkan masyarakat memperoleh keterampilan baru yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha sehingga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan.”
Sementara itu, perwakilan mahasiswa Delfina Rahmania Sadewi menjelaskan bahwa pemilihan Fruit Leather Melon didasarkan pada potensi komoditas melon yang dimiliki Desa Sukorejo.
“Kami berharap masyarakat dapat melihat bahwa buah melon tidak hanya memiliki nilai jual sebagai buah segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk inovatif yang memiliki daya simpan lebih lama serta berpotensi meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.”
Mas Ilham selaku perwakilan Famora Farm (Greenhouse Melon) mengapresiasi inovasi yang dibawa oleh mahasiswa dalam program pengabdian masyarakat ini. Menurutnya, ide diversifikasi produk berupa Fruit Leather Melon merupakan gagasan yang menarik karena masih jarang dikembangkan, khususnya dengan memanfaatkan buah melon sebagai bahan utamanya.
“Menurut saya, ide yang dibawa teman-teman mahasiswa sangat bagus karena belum banyak yang terpikir untuk mengolah melon menjadi fruit leather. Selama ini masyarakat umumnya hanya mengenal melon sebagai buah segar atau diolah menjadi jus, es buah, salad buah, puding, selai, sirup, maupun manisan. Padahal masih banyak peluang pengembangan produk lain yang memiliki nilai tambah. Semoga inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan komoditas melon dan membuka peluang usaha baru di Desa Sukorejo,” ujar Mas Ilham.
Menanggapi program tersebut, Tresnani Galuh Larasati, S.Psi selaku Sekretaris Desa Sukorejo memberikan respons positif terhadap inovasi Fruit Leather Melon yang diperkenalkan oleh mahasiswa. Menurutnya, inovasi pengolahan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu mengoptimalkan pemanfaatan hasil panen melon di Desa Sukorejo.
“Artinya program ini dapat membantu petani melon di Desa Sukorejo yang selama ini umumnya memasarkan hasil panennya dalam bentuk buah segar. Adanya inovasi pengolahan seperti Fruit Leather Melon dapat menjadi alternatif pemanfaatan hasil panen, terutama ketika melon tidak seluruhnya terjual. Daripada dibiarkan terlalu lama hingga membusuk, melon tersebut dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai dan layak dikonsumsi,” ujar Laras selaku Sekretaris Desa Sukorejo.
Melalui pelaksanaan program ini, masyarakat memperoleh pengalaman baru dalam mengolah buah melon menjadi produk bernilai tambah yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai usaha berbasis komoditas lokal. Selain menghasilkan produk inovatif, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan semangat masyarakat untuk terus berinovasi dalam memanfaatkan potensi desa.
Ke depan, mahasiswa berharap pelatihan yang telah diberikan dapat menjadi langkah awal bagi mitra untuk mengembangkan Fruit Leather Melon secara berkelanjutan, baik dari aspek kualitas produk, legalitas usaha, maupun strategi pemasaran sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Desa Sukorejo.
Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
Penulis:
D.R.S
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































