Jambi — Tim mahasiswa Universitas Jambi (UNJA) menghadirkan program pengabdian masyarakat yang menyasar isu sensitif namun mendesak yaitu kemandirian seksualitas remaja penyandang Down Syndrome (DS). Program ini didanai melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Kemendikbudristek, dan akan dilaksanakan di SLB Negeri Prof. Dr. Sri Soedewi Masjchun Sofwan, S.H., Kota Jambi.
Program “PURNAMA: Penguatan Socio-Sexual Skills Melalui Metode Circles Curriculum Guna Membangun Kemandirian Seksualitas Remaja Down Syndrome di SLB Sri Soedewi Jambi” ini diketuai oleh Fauzatul Fitri dari Program Studi Ilmu Keperawatan, dengan anggota tim Abella Dwi Ariesti (Ilmu Keperawatan), Adellia Martha Syabillah (Ilmu Keperawatan), Fathur Rahman Rofiq (Psikologi), dan Livia Rahma Handini (Psikologi). Tim ini dibimbing oleh dosen pendamping, Ns. Meinarisa, S.Kep., M.Kep.
“Dari hasil observasi dan wawancara kami di sekolah, kami melihat kebutuhan yang cukup mendesak terkait edukasi batasan diri dan seksualitas pada remaja DS. Kami berharap program ini bisa jadi jembatan supaya mereka lebih paham menjaga dirinya sendiri,” ujar Fauzatul Fitri
Program PURNAMA dirancang dengan mengusung tiga pilar utama yaitu Body Privacy Awareness, Social Boundary Skills, dan Digital Safety Awareness. Pendekatan yang digunakan adalah metode Circles Curriculum yang dipadukan dengan Learning Through Play, memanfaatkan media visual, boneka peraga, permainan peran, dan pengodean warna agar sesuai dengan gaya belajar siswa DS.
Program ini akan dijalankan melalui tiga subprogram inti yaitu Purnama Tabir (Sasmita, Atma, Nirmala) untuk pemahaman privasi tubuh dan pubertas; Purnama Mandala (Karsa, Loka) untuk pembentukan batasan interaksi fisik; serta Purnama Cakrawala (Kirana, Grahita) untuk etika dan keamanan bermedia sosial. Untuk menjaga keberlanjutan setelah program berakhir, tim juga akan membentuk Kader PELITA, yaitu guru-guru sekolah yang dilatih agar mampu mendampingi siswa secara mandiri.
Menanggapi rencana ini, Tim PURNAMA berkoordinasi dengan Waka Kurikulum SLBN Sri Soedewi Jambi, menyambut baik kehadiran program tersebut.
“Selama ini kami sudah berupaya melakukan pengawasan ketat dan bekerja sama dengan orang tua, tapi memang belum ada program pembelajaran seksualitas seperti ini. Kami menyambut baik dan siap mendukung penuh pelaksanaannya,” ungkapnya.
Dosen pendamping, Ns. Meinarisa, S.Kep., M.Kep., menilai program ini menjadi ruang belajar penting bagi mahasiswa dalam merancang intervensi sosial yang relevan.
“Isu kemandirian seksualitas pada remaja Down Syndrome ini sensitif tapi penting untuk diangkat. Saya optimis proses perancangan dan pelaksanaan program ini akan jadi pengalaman berharga, baik bagi mitra maupun bagi mahasiswa sendiri dalam belajar merancang edukasi yang relevan dengan kebutuhan kelompok rentan,” jelasnya.
Program PURNAMA sejalan dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 5 tentang Kesetaraan Gender, serta tema ke-7 PKM tentang Penguatan Kesetaraan Gender dan Perlindungan Hak-Hak Perempuan, Anak, dan Penyandang Disabilitas.
Melalui program ini, tim berharap dapat membekali remaja DS dengan pemahaman privasi tubuh, batasan sosial yang tepat, dan kesadaran keamanan digital sebagai langkah awal mewujudkan kemandirian seksualitas dan mencegah risiko kekerasan seksual pada kelompok rentan ini.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































