Yogyakarta – Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) turun langsung ke ruang-ruang pembelajaran MAN 1 Yogyakarta untuk mengevaluasi pemanfaatan bantuan Interactive Flat Panel (IFP), Rabu (5/8/2026). Dari hasil observasi dan evaluasi, perangkat digital bantuan pemerintah tersebut dinilai telah dimanfaatkan sesuai peruntukannya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Evaluasi Topik Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Pendidikan, khususnya pada pembangunan dan revitalisasi sarana prasarana satuan pendidikan serta digitalisasi pembelajaran. Dua tim BPKP ditugaskan melakukan pengawasan dan evaluasi secara langsung di MAN 1 Yogyakarta.
Fokus evaluasi diarahkan pada pemanfaatan empat unit IFP yang diterima MAN 1 Yogyakarta dari pemerintah. Didampingi Kepala Madrasah, Kepala Tata Usaha, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, staf, serta perwakilan guru, tim BPKP meninjau satu per satu ruang yang telah dilengkapi perangkat tersebut.
Tidak berhenti pada pengecekan fasilitas, tim juga masuk langsung ke proses pembelajaran. Tiga guru, yakni Tuslikhatun Amimah, Deti Prasetyaningrum, dan Muhammad Arju Shidqqol Yakin, mengikuti sesi wawancara sekaligus observasi pembelajaran untuk menunjukkan bagaimana IFP digunakan sebagai media pendukung kegiatan belajar di kelas.
Tim BPKP turut mewawancarai perwakilan murid. Mereka menggali pengalaman murid terkait penggunaan IFP oleh guru maupun murid, termasuk sejauh mana perangkat tersebut membantu penyampaian materi dan aktivitas pembelajaran di kelas.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan digitalisasi pendidikan tidak hanya tersedia secara fisik, tetapi benar-benar hadir dan memberi manfaat dalam proses belajar sehari-hari.
Berdasarkan rangkaian pengecekan lapangan, wawancara, dan observasi pembelajaran, tim BPKP menyimpulkan bahwa empat IFP bantuan pemerintah di MAN 1 Yogyakarta telah digunakan sesuai dengan peruntukannya.
Kepala MAN 1 Yogyakarta, Edi Triyanto, S.Ag., S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi pembelajaran menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas layanan pendidikan di madrasah.
“Bantuan IFP ini tidak cukup hanya tersedia di ruang pembelajaran. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana guru dan murid mampu menggunakannya secara optimal sehingga teknologi benar-benar memberi nilai tambah dalam proses belajar,” ungkapnya.
Menurut Edi, evaluasi BPKP juga menjadi momentum bagi madrasah untuk terus memastikan setiap fasilitas yang diberikan pemerintah dikelola secara bertanggung jawab, tepat guna, dan memberi dampak langsung bagi murid.
“Kami memandang bantuan dari pemerintah sebagai amanah. Karena itu, fasilitas yang ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan teknologi,” tambahnya.
Ia berharap pemanfaatan IFP tidak berhenti pada aspek teknis penggunaan perangkat, tetapi terus berkembang menjadi bagian dari inovasi pembelajaran di MAN 1 Yogyakarta.
“Teknologi hanyalah alat. Kuncinya tetap pada kreativitas guru dalam mengolah pembelajaran sehingga murid memperoleh pengalaman belajar yang semakin bermakna,” pungkas Edi. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































