SINGARAJA – Berawal dari sebuah penggalan kisah dalam Mahabharata, mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menemukan gagasan untuk mendampingi anak-anak penderita kanker melalui cara yang dekat dengan dunia mereka. Adegan pertemuan Yudisthira dengan Yaksha dalam kisah Yaksha Prashna tidak hanya menghadirkan rangkaian pertanyaan tentang kehidupan, tetapi juga memuat nilai keberanian, kesabaran, keteguhan, harapan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi keadaan sulit.
Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Tahun 2026 bertajuk “Binar Asa: Merajut Resiliensi Anak Penderita Kanker melalui Terapi Bermain Bermuatan Kisah Reflektif Tutur Yaksha Prashna Bali”. Melalui program ini, mahasiswa Undiksha berupaya menghadirkan pendampingan psikososial bagi anak-anak penderita kanker di Yayasan Peduli Kanker Anak Bali (YPKA Bali).
Gagasan tersebut berangkat dari ketertarikan Putu Meidyana Ardiyanti selaku ketua tim terhadap kisah Mahabharata. Ia mengatakan bahwa salah satu bagian yang paling menarik perhatiannya adalah ketika para Pandawa bertemu dengan Yaksha saat berada dalam masa pengasingan.

“Awalnya karena saya memang suka menonton Mahabharata. Ada satu scene yang paling saya suka, yaitu ketika Pandawa sedang dalam masa pengasingan dan kemudian bertemu dengan Yaksha. Setelah saya telusuri lebih jauh, ternyata dialog dalam Yaksha Prashna ini penuh dengan nilai kebijaksanaan dan pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang kehidupan,” ujar Putu.
Dari kisah tersebut, tim melihat adanya keterkaitan dengan pengalaman anak-anak yang sedang menjalani pengobatan kanker. Pandawa dalam kisah Yaksha Prashna harus menghadapi ketidakpastian dan situasi sulit selama masa pengasingan. Sementara itu, anak-anak penderita kanker juga menghadapi perjalanan pengobatan yang panjang dengan berbagai perubahan dan tekanan yang menyertainya.
“Yang menarik bagi saya adalah bagaimana adegan antara Yaksha dan Yudisthira mengajarkan tentang bagaimana seseorang tetap bijaksana dan teguh ketika berada dalam kondisi yang sulit. Hal itu saya lihat memiliki korelasi dengan anak-anak penderita kanker. Mereka juga sedang berada dalam sebuah perjalanan yang penuh tantangan, sehingga nilai tentang keberanian, kesabaran, keteguhan, dan harapan terasa relevan untuk mereka,” jelasnya.
Keterkaitan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam Binar Asa dengan tujuan membantu anak mengembangkan resiliensi, yakni kemampuan untuk beradaptasi dan tetap bertahan ketika menghadapi tekanan. Nilai-nilai dalam Tutur Yaksha Prashna tidak diberikan dalam bentuk nasihat secara langsung, tetapi dikemas melalui cerita dan aktivitas yang memungkinkan anak memahami pesan dengan cara yang lebih sesuai dengan perkembangannya.
Untuk mendukung proses tersebut, Binar Asa menggunakan Narrative Play Therapy yang memadukan cerita dengan permainan. Metode ini dipilih karena memberikan kesempatan kepada anak untuk berkomunikasi dan mengekspresikan pengalaman melalui aktivitas yang sederhana dan fleksibel. Hal ini juga memungkinkan kegiatan menyesuaikan kondisi anak yang tidak selalu dapat melakukan aktivitas dengan banyak gerakan.
“Anak-anak penderita kanker memiliki kondisi yang berbeda-beda dan tidak selalu memungkinkan mereka untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak gerak. Karena itu, Narrative Play Therapy kami pilih karena anak tetap bisa bermain, bercerita, dan mengekspresikan dirinya dengan aktivitas yang sederhana dan fleksibel,” ungkap Putu.
Dalam kegiatan, cerita Tutur Yaksha Prashna dipadukan dengan permainan edukatif, kegiatan bercerita, menggambar, serta worksheet kreatif. Anak diajak mengenali emosi, menceritakan pengalaman, melihat sisi positif dalam dirinya, dan menyusun kembali harapan yang ingin mereka miliki.

Program Binar Asa memperoleh pendanaan PKM Tahun 2026 dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim yang diketuai Putu Meidyana Ardiyanti ini beranggotakan Gek Ayu Prabha Indah Cahya Dewi, Kadek Ardelia Dwi Aprily, Ni Ketut Vera Wulanprataminingsih, dan I Gusti Ayu Chandra Devi, dengan pendampingan Dr. I Putu Pasek Suryawan, S.Pd., M.Pd.
Pelaksanaan program berlangsung selama empat bulan dan dikemas melalui lima subprogram, yaitu Binar Synergy, Binar Discovery, Binar Journey, Binar Treasury, dan Binar Story. Rangkaian kegiatan mencakup pengenalan program, pre-test, penyerahan Binar Guide Book, terapi bermain dan bercerita, hingga kegiatan refleksi serta pembuatan karya simbolik yang menggambarkan harapan anak.
Melalui Binar Asa, tim berharap kisah reflektif Tutur Yaksha Prashna tidak berhenti sebagai cerita, tetapi dapat menjadi media bagi anak untuk belajar menghadapi situasi sulit dengan cara yang dekat dengan keseharian mereka. Dengan bermain, bercerita, dan berefleksi, anak diharapkan memiliki ruang untuk mengenali dirinya, mengekspresikan perasaan, serta menumbuhkan resiliensi selama menjalani proses pengobatan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































