Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meluas di sejumlah wilayah Kalimantan di tengah periode kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena kebakaran tidak hanya mengancam kawasan hutan dan lahan, tetapi juga berpotensi mengganggu lingkungan serta kehidupan masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
Memasuki Agustus 2026, kondisi kering semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat musim kemarau terus meluas dengan kondisi kering yang semakin dominan. Sejumlah wilayah Kalimantan juga telah mengalami kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Data yang dihimpun dari sejumlah laporan menunjukkan Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. Hingga 9 Agustus 2026, luas lahan terbakar di Kalimantan Barat tercatat sekitar 28.680,47 hektare, sementara Kalimantan Tengah mencapai 3.069,52 hektare dan Kalimantan Selatan sekitar 383,07 hektare.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan teknis pemadaman ketika api sudah membesar. Penanganan membutuhkan langkah yang lebih menyeluruh, mulai dari pencegahan, deteksi dini, pengawasan kawasan rawan, hingga penegakan hukum terhadap pihak yang menyebabkan kebakaran.
Koordinator Wilayah BEM SI Wilayah Bali Nusra, Rizky Falian Akbar, menyoroti pentingnya penguatan pendekatan pemerintah dalam menghadapi persoalan karhutla di Kalimantan. Menurutnya, upaya pengendalian perlu dilakukan secara menyeluruh dengan menempatkan pencegahan dan deteksi dini sebagai bagian penting dalam menghadapi ancaman kebakaran.
Pandangan tersebut menekankan pentingnya memperkuat langkah pencegahan sebelum kebakaran meluas. Menurut Rizky, penanganan karhutla perlu berjalan secara terpadu, mulai dari kesiapsiagaan di wilayah rawan, pengawasan terhadap potensi sumber api, hingga respons cepat ketika kebakaran mulai terdeteksi.
Risiko kebakaran juga semakin besar pada lahan gambut yang mengalami kondisi kering. Pemerintah sendiri telah memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dengan menambah dukungan personel, armada udara, termasuk pesawat water bombing, serta operasi modifikasi cuaca.
Namun, upaya pemadaman tetap perlu berjalan beriringan dengan pencegahan. BNPB menyebut aktivitas manusia sebagai salah satu faktor utama munculnya kebakaran, sementara kondisi kemarau, lahan gambut yang kering, dan angin dapat membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, pengendalian sumber api sejak tingkat masyarakat menjadi bagian penting dalam memutus rantai karhutla.
Di sisi lain, dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan lingkungan. Kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat. Di Kalimantan Tengah, misalnya, data BPBD per 18 Agustus 2026 mencatat 46 kejadian karhutla, sementara persoalan kesehatan akibat kondisi udara juga menjadi perhatian.
Karena itu, penguatan pengendalian karhutla perlu dilakukan melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, aparat, dunia usaha, dan berbagai elemen masyarakat sipil. Rizky Falian Akbar menilai langkah pencegahan, pengawasan, respons cepat, perlindungan masyarakat, serta pemulihan lingkungan perlu berjalan beriringan agar ancaman karhutla di Kalimantan dapat ditangani secara lebih komprehensif.

Penulis: Rizky Falian Akbar, Koordinator wilayah BEM SI wilayah Bali Nusra
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































