SEMARANG – Persoalan sampah plastik di Kabupaten Kediri menjadi titik awal bagi lima mahasiswa untuk mengembangkan Daurika. Lewat usaha ini, limbah plastik yang sebelumnya tidak terpakai diolah menjadi berbagai produk eco-merchandise yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Daurika dirintis sejak Februari 2025 oleh Ummi Bad’il Hidayah bersama empat anggota timnya, yakni Mohammad Farrel, Risma Isnaini S., Aril Alfarizy, dan Azahra Aprillia.
Kelima mahasiswa tersebut membagi peran dalam pengelolaan usaha. Ummi bertanggung jawab sebagai ketua tim, Farrel menangani produksi, Risma mengelola pemasaran, Aril mengurus keuangan dan administrasi, sedangkan Azahra bertanggung jawab pada desain serta konten visual.
Ummi mengatakan, Daurika lahir dari dua persoalan yang ditemukan tim di lingkungan sekitar, yakni pengelolaan sampah plastik dan keterbatasan akses pekerjaan bagi sebagian pemuda usia produktif.
“Kami melihat dua persoalan ini sebenarnya bisa saling menjawab. Limbah plastik dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi, sementara proses produksinya bisa membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar,” ujar Ummi.
Tidak Sekadar Daur Ulang
Daurika memanfaatkan limbah plastik jenis HDPE dan PP, terutama tutup botol, sebagai bahan dasar produk. Material tersebut kemudian diolah menjadi plakat custom, medali, coaster bermotif marmer, hingga gantungan kunci.
Berbeda dengan produk yang dibuat dari material baru, hasil pengolahan limbah plastik Daurika memiliki karakter yang tidak seragam. Corak yang muncul secara alami membuat setiap produk memiliki tampilan yang berbeda.
Konsumen juga dapat melakukan kustomisasi dengan menambahkan nama maupun logo melalui proses pengukiran.
Konsep tersebut membuat Daurika tidak hanya menempatkan sampah sebagai material yang harus dikurangi, tetapi juga sebagai bahan baku yang masih dapat dimanfaatkan kembali.
“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah plastik tidak selalu berakhir menjadi sampah. Dengan pengolahan yang tepat, material tersebut masih bisa memiliki nilai dan digunakan kembali,” kata Ummi.
Libatkan Masyarakat Sekitar
Perkembangan usaha Daurika semakin terdorong setelah mendapatkan pendanaan dan pembinaan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.
Pembinaan tersebut membuat tim mulai melakukan penataan dari sisi produk, pemasaran, hingga pengembangan kerja sama.
“Setelah mengikuti P2MW, kami mulai lebih terarah dalam mengembangkan produk, pemasaran, dan kerja sama dengan berbagai pihak,” tutur Ummi.
Produk Daurika kemudian mulai digunakan oleh sejumlah instansi. Tim mencatat adanya pesanan ulang dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pertamanan Kota Kediri serta Biro Sistem Informasi Udinus.
Produk mereka juga telah dipercaya Kepolisian Kediri dan mulai menjangkau konsumen di sejumlah daerah, seperti Blitar, Tulungagung, hingga Kudus.
Meningkatnya permintaan membuat Daurika mulai melibatkan masyarakat sekitar dalam proses produksi. Saat ini terdapat delapan tenaga kerja yang terlibat, terdiri dari lima ibu-ibu dan tiga pemuda.
Bagi tim, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari konsep usaha yang mereka bangun. Daurika tidak hanya ingin menghasilkan produk dari limbah, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar.
Ke depan, Daurika menargetkan perluasan pasar ke Jakarta sebelum melakukan ekspansi ke berbagai wilayah di Indonesia. Tim juga mulai menjajaki peluang untuk membawa produk berbasis limbah plastik tersebut ke pasar internasional.
“Kami ingin Daurika berkembang bukan hanya sebagai bisnis, tetapi juga memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” pungkas Ummi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































































