Siaran Berita, Pontianak – Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat kian memasuki fase kritis dan mengkhawatirkan. Menindaklanjuti aksi dokumentasi udara yang sebelumnya sempat menyita perhatian publik, Muhammad Rayka Pramudhyta Rizqi Ramadhany (pemilik akun Instagram @harbatahduo) kembali turun ke lapangan untuk merekam langsung kondisi atmosfer terkini. Kali ini, siswa SMAN 1 Kota Pontianak tersebut bergerak bersama sahabat dekat sekaligus rekan satu sekolahnya, Maulana Abid Ibrahim (@mbudgallagher).
Dokumentasi lapangan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026, dalam rentang waktu siang hari antara pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Menggunakan perangkat kamera dan drone, keduanya menyusuri koridor-koridor vital penghubung Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya guna merekam wajah kota yang mendadak temaram akibat pekatnya partikel debu pembakaran gambut yang menghalau sinar matahari siang. Titik pantauan krusial yang mereka sasar mencakup kawasan hijau Taman Digulis Untan yang memutih pekat dengan jarak pandang menyusut drastis, gerbang perbatasan Tugu Gaforaya di Kubu Raya yang terselimuti lapisan abu-abu tebal karena berdekatan dengan sebaran titik api, jalur perlintasan vital Jembatan Duplikat Kapuas yang tertutup kabut gantung berbahaya di atas permukaan sungai, hingga pusat perniagaan di sepanjang Jalan Gajah Mada yang tampak lengang dengan deretan ruko yang nyaris lenyap dari pandangan mata telanjang.

Kondisi visual yang memprihatinkan tersebut selaras dengan data pemantauan kualitas udara ilmiah. Dilansir dari data resmi IQAir.com pada rentang waktu pemantauan tersebut, indeks kualitas udara (AQI) di Kota Pontianak mencatatkan rekor tertinggi yang sangat berbahaya, yakni melesat hingga 1.500+, yang menempatkan udara kota jauh melampaui batas ambang kategori berbahaya (hazardous). Bahkan, di beberapa titik sensor wilayah sekitar yang berdekatan langsung dengan pusat sebaran api gambut, indikator polutan sempat menyentuh angka ekstrem di atas 2.000+.
Dampak publikasi rekaman ini melesat luar biasa di ranah digital; dalam waktu kurang dari 24 jam, video dokumentasi tersebut langsung menembus jajaran FYP di Instagram hingga ditonton ratusan ribu kali (views). Tak hanya angka penayangan yang meroket, konten tersebut juga dibanjiri puluhan ribu tanda suka (like), dibagikan secara masif lewat fitur share dan repost, serta dipadati ratusan komentar dari warganet seluruh penjuru negeri yang kompak mengirimkan doa serta menyemangati masyarakat Kalimantan yang tengah berjuang menghadapi bencana karhutla di mana-mana. Gaung kepedulian ini kian meluas berkat kolaborasi strategis bersama deretan akun informasi regional terkemuka, seperti @kalbar_info, @daily_kalbar, @kuburayakab, dan @kuburaya_infomedia, yang turut menyebarluaskan potret darurat ini ke lini masa publik yang lebih luas. Bagi Rayka dan Abid, dokumentasi tanggal 12 September 2026 ini bukan sekadar arsip konten viral, melainkan rekaman data faktual mengenai bencana ekologis riil yang sukses menjadi alarm darurat nasional agar penanggulangan karhutla segera dituntaskan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





































































