JAKARTA, 15 September 2026 – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) merespons ancaman kemarau panjang tahun 2026 akibat fenomena El Nino dengan mendorong masyarakat memperkuat ketahanan air secara mandiri dan gotong royong. Penanganan dampak kemarau ini dilakukan melalui pendekatan komprehensif yang memadukan konservasi lingkungan, pemanenan air hujan, serta penguatan ikhtiar spiritual melalui pelaksanaan Salat Istisqa di berbagai daerah.
Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menegaskan pentingnya membangun sistem pengelolaan air sejak jauh-jauh hari ketimbang sekadar mengandalkan bantuan darurat saat sumber air mulai mengering. Rumah ibadah seperti masjid dinilai memiliki potensi besar menjadi pusat ketahanan air berbasis masyarakat.
”Tidak ada kata terlambat, hari ini adalah pelajaran untuk tahun mendatang. Air memang perlu kita kelola sebagai sumber daya yang harus ditabung untuk menghadapi musim kering. Karena itu, masyarakat perlu membangun sistem ketahanan air secara mandiri dan gotong royong,” ujar Dody Taufiq Wijaya.
Ia menambahkan bahwa atap masjid yang luas dapat dimanfaatkan untuk memanen air hujan dan ditampung sebagai wadah pemberdayaan masyarakat. Inovasi penampungan air ini telah diterapkan secara konkret oleh LDII Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, Masjid Al-Fattah mengintegrasikan dua bak penampungan air berkapasitas total 30.000 liter pada bangunan masjid. Konsep serupa juga diterapkan di Gedung Serba Guna LDII DIY dengan memanfaatkan bagian atas gedung untuk menyimpan air hujan yang dialirkan ke tandon-tandon bawah tanah.
Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan (Lisdal) DPP LDII, Atus Syahbudin, mendorong agar inovasi berbasis Program Kampung Iklim (Desa ProKlim LDII) ini direplikasi di wilayah lain sesuai kebutuhan geografis setempat.
”Prinsipnya sederhana: ketika air berlebih kita simpan, ketika kekurangan kita manfaatkan. Jangan sampai air hujan yang begitu banyak ketika musim hujan justru terbuang, sementara ketika kemarau masyarakat kesulitan mendapatkan air,” jelas Atus Syahbudin.
Langkah teknis-ekologis tersebut diselaraskan dengan ikhtiar spiritual melalui instruksi pelaksanaan Salat Istisqa kepada pengurus LDII di tingkat daerah hingga pondok pesantren. Pelaksanaan Salat Istisqa telah digelar di beberapa lokasi, seperti Pondok Pesantren Asy-Syifa di Kabupaten Sukoharjo, Distrik Tembagapura di Mimika, serta Pondok Pesantren Budi Utomo di Surakarta yang diikuti oleh 2.000 santri dan pelajar.
Ketua DPD LDII Kota Surakarta, Muhammad Zain, menyampaikan bahwa Salat Istisqa merupakan bentuk dukungan kepada pemerintah dengan mengetuk “jalur langit” agar hujan segera turun dan dampak kemarau, termasuk risiko kebakaran di TPA Putri Cempo, dapat teratasi.
Sebagai penutup, Dody Taufiq Wijaya mengimbau seluruh warga LDII untuk menyempurnakan doa dengan aksi nyata di lapangan demi menjaga ketahanan ekosistem secara berkelanjutan.
”Doa adalah bagian dari ikhtiar umat. Tetapi doa juga harus berjalan bersama usaha nyata. Untuk itu seluruh warga LDII kami anjurkan melakukan Salat Istisqa. Salat Istisqa kita ikuti dengan gerakan menghemat air, memanen air hujan, menjaga lingkungan, dan membangun ketahanan pangan,” pungkas Dody.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































































