Pernahkah kamu merasa sudah bekerja banting tulang di kantor, mengurus proyek besar, memimpin rapat, tetapi saat pulang ke rumah, kamu masih dituntut untuk menjadi sosok yang “sempurna” di dapur? Jika ya, selamat datang di work-life balance bagi perempuan modern bukanlah barang baru. Menariknya, isu yang hari ini sering kita perdebatkan di media sosial ternyata sudah dibahas dengan sangat progresif sejak 86 tahun yang lalu lewat sebuah mahakarya sastra: Novel Belenggu karya Armijn Pane (1940).
Dalam novel yang sempat menggemparkan dunia sastra Hindia Belanda ini, kita diperkenalkan pada sosok Sumartini (Tini). Dia bukan gambaran perempuan zaman dulu yang pasrah dan penurut. Tini adalah gambaran perempuan modern berpendidikan tinggi, cerdas, pemikir bebas, dan sangat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi sosial.
Namun, di balik kegemilangannya di ranah publik, kehidupan domestik Tini adalah sebuah neraka emosional. Pernikahannya dengan Sukartono, seorang dokter yang sibuk, berada di ambang kehancuran. Mengapa? Karena ada jurang pemisah yang besar antara ambisi aktualisasi diri Tini dan ekspektasi domestik suaminya.
Bagi Tini, mengurung diri di rumah demi menunggu suami adalah bentuk pemenjaraan intelektual. Tini menolak tunduk pada pakem tersebut. Dia memilih keluar rumah, menggalang dana, memimpin rapat organisasi, dan menyalurkan energinya untuk masyarakat luas. Dia ingin membimbing nasibnya sendiri, bukan sekadar menjadi bayang-bayang dari karier sang suami.
Di sinilah konflik bermula. Ketika Tini memilih mengaktualisasikan dirinya di luar, rumah tangganya berantakan. Sukartono merasa tidak diurus, dan Tini merasa tidak dihargai sebagai manusia seutuhnya. Sehingga, Tini dicap sebagai istri yang egois, keras kepala, dan tidak tahu berbakti, hanya karena dia menolak menomorduakan impian pribadinya.
Masyarakat kita sering kali menuntut perempuan untuk menjadi “pemenang” di dua tempat sekaligus. Di tempat kerja atau organisasi, mereka harus profesional, cerdas, dan tangguh. Namun, begitu melangkah ke area rumah, seluruh atribut profesional itu harus dilepas dan mereka harus kembali ke peran tradisional yang domestik.
Membaca cerita Tini membuat kita sadar bahwa meski teknologi sudah berubah dari telegram menjadi WhatsApp, dan dari rapat fisik menjadi Zoom meeting, struktur berpikir patriarki tentang peran perempuan tidak banyak bergeser.
Banyak perempuan karier hari ini yang mengalami kecemasan dan rasa bersalah yang konstan. Ada perasaan bersalah ketika harus lembur di kantor, namun ada pula perasaan terkekang dan tidak berkembang ketika hanya diam di rumah. Kita, seperti halnya Tini, masih kerap terperangkap dalam “belenggu” ekspektasi orang lain.
Novel ini berakhir tragis, tanpa ada pemenang. Tini akhirnya memilih pergi meninggalkan Sukartono, menyadari bahwa pernikahan yang didasarkan pada tuntutan kepatuhan satu arah tidak akan pernah membahagiakan.
Pesan moral dari Belenggu untuk perempuan karier dan pasangannya di generasi sekarang sebenarnya sederhana namun mendalam: hubungan yang sehat membutuhkan negosiasi, bukan dominasi.
Aktualisasi diri bagi perempuan bukanlah sebuah kejahatan atau tanda keegoisan. Rumah tangga modern tidak akan bisa berjalan seimbang jika salah satu pihak dipaksa mematikan cahayanya demi menerangi pihak yang lain. Sudah saatnya kita berhenti melabeli perempuan yang aktif bekerja sebagai “istri yang gagal di rumah”. Karena sejatinya, urusan domestik bukanlah kewajiban kodrati satu gender saja, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dipikul dua kepala. Jangan sampai, di era modern ini, kita masih mengulang kisah tragis Tini terjebak dan layu dalam belenggu tradisi yang kita ciptakan sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































