Salah satu kumpulan cerpen konvensi yang berjudul “Sang Primadona” menceritakan tokoh “aku” yang memang dari lahir hidup berkecukupan, memiliki cita-cita yang tinggi seperti ingin menjadi pengacara yang besar dan sukses, serta aelalu berprestasi pada masa-masa sekolah. Hingga pada suatu hari tokoh “aku” ini pada saat pertengahan semester kuliahnya memenangkan lomba foto model yang membuat dirinya menjadi lebih terkenal dan menjadi seorang artis, lalu ditawari banyak projek seputar dunia perfilman. Akan tetapi dengan kesibukannya yang sudah menjadi artis seperti artis-artis populer di negerinya sampai menjadi incaran-incaran perusahaan dalam acara TV ini membuat tokoh “Aku” tidak menlanjutkan kuliah nya.
“aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup.”
kutipan tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan dan ke unggulan dalam juara-juara pada masa sekolah tokoh “Aku” ini seperti sia-sia, sebenarnya apabila dipikir kembali bukankah seharusnya tokoh utama ini bisa membagi waktu anatara pekerjaan dengan kewajiban belajarnya.
kemudian tokoh “Aku” atau tokoh utama ini menikah dengan tokoh “suami” yang diceritakan dalam cerpen sebagai pengusaha muda yang sukses pada saat itu. Hingga mereka di karuniai 2 anak yang bernama Gita dan Ragil. Namun seiring berjalannya waktu rumah tangga mereka mengalami konflik, mulai dari “suami” tokoh utama yang perusahaannya mengalami masalah hingga bangkrut dan sampai mengalami krisis ekonomi. Sebelum terjadinya konflik rumah tangga pada tokoh “aku” ini, ada orang tua yaitu “ibu” dari tokoh utama ini selalu memberikan pesan kepada anaknya untuk tidak lupa untuk rajin beribadah, tidak lupa juga membaca Alquran dan berdoa, serta tidak lupa selalu mengingatkan untuk bersedekah jika mempunyai rezeki lebih. Hal tersebut dilakukan oleh tokoh utama pada awal-awal saja hingga seiring berjalannya waktu ia mengabaikannya.
Setelah adanya konflik rumah tangga dengan masalah ekonomi yang membuat psikis suaminya terganggu, seperti perilaku suaminya yang menjadi lebih pendiam dan bahkan tiba-tiba mudah tersinggung. Hingga puncak konfliknya pada saat semakin tinggi aktivitas sosial dan agamanya oleh tokoh “aku”, semakin tidak terurus juga keluarganya sendiri sampai-sampai suaminya yang ternyata mengonsumsi obat-obatan. Dengan kebingungan yang dijalaninya antara mempertahankan rumah tangga, mengurus anak-anak, dan menjalankan aktivitas sosialnya, tokoh utama meminta saran mengenai jalan terbaik yang harus ditempuh.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































