“Stay logic & curious, ojo leren dadi wong apik, urip iku urup.”
-Qinarsyah Maulana Atmadani –
Setiap anak memiliki mimpi. Namun tidak semua anak berani memelihara rasa ingin tahunya hingga tumbuh menjadi jalan hidup. Sebagian mungkin berhenti pada kekaguman, sebagian lagi sekadar menjadi penonton. Berbeda dengan Qinarsyah Maulana Atmadani, sejak kecil, Qinar – ia biasa dipanggil – memilih bertanya, mengamati, dan belajar memahami alam semesta yang terbentang di hadapannya.
Dari lereng Merapi yang pernah bergolak, dari langit yang Qinar amati setiap hari, hingga dari diskusi-diskusi ilmiah yang ia ikuti dengan penuh antusias, tumbuh sebuah cita-cita besar untuk memahami bumi dan segala fenomenanya. Perjalanan panjang itu kini mengantarkannya menjadi salah satu murid MAN 1 Yogyakarta yang berhasil diterima di Program Studi Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kecintaan Qinarsyah terhadap geosains tidak lahir secara instan. Sejak kecil, kedua orang tuanya telah mengenalkannya pada alam. Berbagai perjalanan dan aktivitas di ruang terbuka menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa kagum terhadap ciptaan Allah SWT. Dari pengalaman-pengalaman sederhana itu, tumbuh rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana alam bekerja dan mengapa berbagai fenomena dapat terjadi.
Titik penting yang semakin menguatkan minat Qinar terjadi saat erupsi Gunung Merapi pada 11 Mei 2018. Saat itu, Qinarsyah masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah. Ketika banyak orang merasakan kepanikan, ia justru pulang dengan sebuah pertanyaan yang terus terngiang dalam benaknya, “Mengapa ini bisa terjadi?” Sejak saat itu, rasa ingin tahunya terhadap gunung api, gempa bumi, cuaca, dan berbagai fenomena kebencanaan semakin besar. Qinar mulai membaca berbagai sumber, mengikuti komunitas pemantau Merapi, bergabung dengan grup-grup siaga bencana, serta aktif mengikuti seminar dan webinar tentang mitigasi kebencanaan.
Semangat belajar itu terus berkembang. Qinarsyah tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga membiasakan diri berdiskusi dengan para pegiat geosains dan kebencanaan. Bahkan ketika terjadi gempa besar di Jepang pada Agustus 2024, anak muda ini terlibat dalam diskusi mengenai pemodelan gempa bersama para praktisi dan pakar kebencanaan. Dari berbagai diskusi tersebut, ia semakin tertarik pada teknologi mitigasi bencana dan sistem peringatan dini yang mampu menyelamatkan banyak nyawa.
Kekagumannya Qinar terhadap Early Warning System milik Jepang, khususnya J-Alert yang dikembangkan Japan Meteorological Agency (JMA), membuatnya semakin yakin bahwa ilmu pengetahuan dapat menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat yang besar bagi masyarakat. Qinar membayangkan suatu saat ia dapat berkontribusi dalam pengembangan teknologi dan instrumen mitigasi bencana bagi Indonesia yang memiliki potensi bencana alam sangat tinggi.
Ketika menempuh pendidikan di MAN 1 Yogyakarta, minat dan potensi tersebut mendapatkan ruang untuk berkembang. Lingkungan madrasah yang memadukan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman semakin memperkuat keyakinannya bahwa sains dan iman berjalan beriringan. Baginya, semakin dalam memahami alam, semakin besar pula kekaguman terhadap kebesaran Allah SWT. “Pelajaran-pelajaran IPTEK yang diintegrasikan dengan IMTAQ di MAN 1 Yogyakarta mendorong saya untuk semakin mendalami ilmu pengetahuan sekaligus memperkuat keimanan,” ungkap Qinar.
Selama tiga tahun belajar di MAN 1 Yogyakarta, Qinarsyah aktif mengikuti berbagai kompetisi akademik dan kegiatan ilmiah, seperti OSN, OMI, KOSSMI, NPMJ, NAGEON, dan berbagai ajang lainnya. Setiap kompetisi tidak hanya menjadi tempat menguji kemampuan, tetapi juga ruang belajar yang mempertemukannya dengan banyak pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi baru.
Di antara kisah itu, perjalanan menuju perguruan tinggi impian tidak selalu berjalan mulus. Kesempatan mengikuti SNBP yang semula diharapkan menjadi jalan menuju kampus impian ternyata belum membuahkan hasil. Kegagalan tersebut tidak membuat Qinar menyerah. Sebaliknya, pengalaman itu menjadi pemantik semangat untuk berjuang lebih keras menghadapi SNBT.
Berbekal tekad yang kuat, doa yang tak pernah putus, serta dukungan orang tua dan guru-guru, ia mempersiapkan diri sebaik mungkin. Hingga akhirnya, pada 25 Mei 2026, kabar yang dinanti datang. Setelah membuka pengumuman SNBT, Qinarsyah mendapati namanya diterima di pilihan pertama, Program Studi Geofisika FMIPA UGM. “Alhamdulillah, saya langsung sujud syukur bersama ibu,” kenang Qinar yang sang ayah, Dani Sartika S.Pd. telah dipanggil Allah SWT.
Di balik keberhasilan tersebut, Qinarsyah memiliki filosofi belajar yang unik. Ia menyebutnya sebagai “Deep Learning by Doing”. Baginya, belajar bukan sekadar menghafal, tetapi memahami konsep hingga ke akar logikanya, kemudian mengujinya dalam kehidupan nyata melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Prinsip tersebut diperkuat oleh nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil: cepat tanggap terhadap situasi, mampu melihat peluang, sadar terhadap lingkungan sekitar, dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Fondasi inilah yang membentuk karakter Qinarsyah sebagai pribadi yang kritis, dinamis, dan tidak pernah berhenti belajar.
Lebih dari sekadar meraih bangku kuliah di kampus impian, Qinarsyah memiliki cita-cita besar untuk berkontribusi bagi bangsa. Ia ingin mengembangkan sistem mitigasi bencana, pola-pola pencegahan risiko, serta teknologi peringatan dini yang dapat membantu masyarakat Indonesia hidup lebih aman dan siap menghadapi berbagai potensi bencana alam. “Motivasi saya sederhana, yaitu semakin beriman dan semakin bermanfaat bagi agama, bangsa, dan sesama,” tutur Qinar.
Kisah Qinarsyah menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak hanya lahir dari kecerdasan akademik, tetapi juga dari rasa ingin tahu yang terus dipelihara, ketekunan dalam belajar, keberanian untuk bangkit dari kegagalan, serta lingkungan pendidikan yang mampu menumbuhkan potensi peserta didik secara utuh. Keberhasilan ini sekaligus menjadi cerminan komitmen MAN 1 Yogyakarta dalam menghadirkan pendidikan yang memadukan keunggulan akademik, karakter, dan spiritualitas. Madrasah tidak hanya mengantarkan murid menuju perguruan tinggi terbaik, tetapi juga membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Penulis: Lilis Umi F. (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































