Ada banyak cara yang ditempuh murid untuk mempersiapkan diri menghadapi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Sebagian menghabiskan waktu dengan tumpukan modul, sebagian lain menambah jam belajar hingga larut malam. Namun bagi Harsya Almira Nisaa, murid kelas XII C MAN 1 Yogyakarta, salah satu bekal yang membantunya meraih kursi di Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan Universitas Gadjah Mada (UGM) justru datang dari sebuah hobi: membaca novel berbahasa Inggris.
Kebiasaan itu awalnya tidak pernah ia niatkan sebagai strategi belajar. Membaca novel hanyalah aktivitas yang ia sukai. Namun tanpa disadari, halaman demi halaman yang ia baca setiap hari membuatnya semakin akrab dengan kosakata, struktur kalimat, dan penggunaan tanda baca dalam bahasa Inggris.
Manfaatnya baru benar-benar terasa saat menghadapi UTBK. Harsya mengaku terbantu ketika mengerjakan subtes Pemahaman Bacaan dan Menulis (PBM) serta Literasi Bahasa Inggris. Hasilnya pun cukup membanggakan. Skor kedua subtes tersebut berhasil menembus angka 700.
Keberhasilan itu menjadi salah satu potongan memori dalam perjalanan panjangnya menuju kampus impian. Ketika pengumuman SNBT dibuka, Harsya berada di rumah bersama kedua orang tuanya. Momen yang selama berbulan-bulan hanya menjadi harapan akhirnya hadir di depan mata.
Alih-alih langsung bersorak, pikirannya justru melayang pada seluruh proses yang telah dilewati. Berbagai tryout, sesi belajar, rasa lelah, doa, dan perjuangan yang selama ini dijalani seakan berputar kembali dalam hitungan detik. Air mata pun tak terbendung saat ia mengetahui dirinya diterima di UGM.
Menariknya, beberapa hari sebelum pengumuman, Harsya kerap membayangkan layar hasil SNBT yang menampilkan barcode kelulusan. Ia menjadikan bayangan itu sebagai bentuk motivasi agar tetap optimistis hingga hari pengumuman tiba.
Jika harus menggambarkan seluruh perjalanan tersebut dengan satu kata, Harsya memilih kata “memori”. Bagi dirinya, proses menuju SNBT bukan hanya tentang belajar dan mengerjakan soal, tetapi juga tentang pengalaman, kerja keras, doa, serta berbagai pelajaran hidup yang menyertainya.
Selama masa persiapan, Harsya termasuk tipe murid yang belajar secara konsisten. Meski tidak pernah membuat jadwal tertulis secara rinci, ritme belajarnya terbentuk dengan sendirinya. Ia membagi waktu belajar menjadi beberapa sesi sejak pagi hingga malam hari agar materi dapat dipelajari secara bertahap.

Sebelum mulai belajar, ia memiliki kebiasaan sederhana yang selalu dilakukan. Segelas minuman manis atau sepotong cokelat sering menjadi teman pembuka sebelum berhadapan dengan soal-soal latihan. Cara sederhana itu membantunya menjaga suasana hati tetap nyaman selama belajar.
Namun perjalanan menuju SNBT tentu tidak selalu berjalan mulus. Menjelang UTBK, Harsya beberapa kali mengalami burnout. Semangat belajar yang semula tinggi perlahan menurun. Bahkan ada masa ketika melihat soal saja sudah terasa melelahkan.
Saat kondisi itu datang, ia memilih memberi jeda pada dirinya sendiri. Waktu yang biasanya digunakan untuk belajar diganti dengan melakukan aktivitas yang disukai, mulai dari beristirahat hingga menghabiskan waktu bersama teman-teman. Baginya, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mengejar target akademik.
Selain burnout, tantangan lain yang sering muncul adalah distraksi dan overthinking. Harsya mengaku mudah kehilangan fokus ketika suasana belajar tidak nyaman. Di saat yang sama, keraguan tentang hasil yang akan diperoleh kerap muncul dan mengganggu konsentrasi.
Puncak tantangan itu datang ketika skor tryout yang diperolehnya masih bertahan di bawah target, sementara hari pelaksanaan UTBK semakin dekat. Situasi tersebut sempat membuat motivasinya menurun. Namun ia berusaha kembali mengingat tujuan awal yang ingin dicapai dan perlahan membangun semangat untuk terus melangkah.
Dalam belajar, Harsya banyak memanfaatkan berbagai platform latihan soal dan tryout. Akan tetapi, metode yang paling membantunya bukan sekadar mengerjakan soal sebanyak-banyaknya. Ia terbiasa melakukan evaluasi mendalam setelah tryout, mencari letak kesalahan, lalu mempelajari kembali materi yang belum dikuasai. Cara itu membuatnya lebih memahami kelemahan diri dan mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki.
Ia juga menyadari pernah melakukan kesalahan yang cukup umum di kalangan pelajar, yaitu menunda-nunda pekerjaan. Dampaknya tidak langsung terasa, tetapi menjadi masalah ketika waktu semakin sempit dan target semakin dekat.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, lingkungan MAN 1 Yogyakarta menjadi salah satu faktor yang turut membentuk dirinya. Menurut Harsya, budaya aktif dalam organisasi yang berkembang di madrasah memberikan ruang bagi murid untuk belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan beradaptasi dengan berbagai situasi. Keterampilan itu menjadi bekal penting sebelum memasuki dunia perkuliahan.
Dukungan teman-teman juga memiliki peran besar dalam perjalanannya. Suasana belajar yang saling mendukung membuat proses persiapan terasa lebih ringan. Mereka tidak hanya belajar bersama, tetapi juga saling membantu ketika ada materi yang belum dipahami.
Kini, setelah berhasil diterima di Program Studi Pembangunan Ekonomi Kewilayahan UGM, Harsya bersiap membuka babak baru dalam hidupnya. Ketertarikannya pada jurusan tersebut muncul dari keinginan untuk memahami bagaimana kebijakan ekonomi memengaruhi masyarakat di berbagai wilayah dengan kondisi yang berbeda-beda.
Bagi Harsya, keberhasilan meraih kampus impian bukanlah akhir perjalanan. Justru dari titik inilah perjalanan baru akan dimulai.
Ia pun menyimpan satu pesan sederhana bagi teman-teman yang mungkin belum mendapatkan hasil sesuai harapan. Tidak lolos di satu jalur bukan berarti mimpi telah berakhir. Sebab setiap orang memiliki jalan masing-masing menuju masa depan yang terbaik.
Kini barcode kelulusan yang dulu hanya hadir dalam bayangannya telah berganti menjadi kenyataan. Dan di balik keberhasilan itu, tersimpan cerita tentang halaman-halaman novel yang dibaca, latihan soal yang dikerjakan berulang kali, doa yang terus dipanjatkan, serta keyakinan untuk tetap berjalan meski jalan menuju impian tidak selalu terasa mudah. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































