Istilah kata (wisuda) kini bukan lagi hanya sekadar simbol perayaan terhadap pencapaian keberhasilan akademik bagi mahasiswa tingkat akhir. Gelar tersebut menjadi penanda akan dimulainya sebuah fase hidup yang penuh lika liku dalam dunia pekerjaan. Mahasiswa bagi jurusan tertentu seperti jurusan Sastra Inggris kini sedang merasakan arti ketidakpastian tersebut, karena sedang dihadapkan pada fase kelulusan tersebut.

Pembelajaran mengenai suatu teori linguistik dan analisis yang sangat mendalam, tersimpanlah rasa dari kecemasan yang kolektif: sebuah bayangan mendatangi pikirannya, apakah suatu gelar yang telah diraih selama empat tahun yang didapatkan dari perjuangan yang berat akan mampu bersaing dalam lingkup dunia pekerjaan yang semakin canggih serta banyaknya persaingan yang harus dihadapi?.
Kecemasan yang dipikirkan ini semakin memuncak saat mereka dihadapkan pada pertanyaan yang sering muncul, “setelah lulus nanti akan kemana?”. Bagi mahasiswa yang di semester akhir, pertanyaan tersebut sangat terasa seperti tekanan dari kenyataan yang akan datang.
“Munculnya rasa cemas yang bukan hanya dari tugas akhir saja, melainkan sebuah ketakutan terhadap waktu kehidupan yang mendatang. Rasa malu kepada orang tua karena setelah lulus belum mendapatkan suatu pekerjaan,” lontaran dari Fera (8/04/2026) seorang mahasiswa Sastra Inggris saat diwawancarai. Beban moral dan mental terhadap sebuah ekspektasi keluarga dan kesedihan harus berpisah dengan lingkungan kampus tempat mencari ilmunya menjadi tekanan mental yang begitu nyata di tengah perjuangan dalam meraih gelar sarjana.

Mahasiswa Sastra Inggris juga sering kali mendapatkan stigma dari lingkungan sekitarnya yang membuat semakin memperparah serta membuat keraguan dari diri mereka terhadap prospek kerja mereka yaang telah diraih. Komentar yang kerap didapatkan bisa berupa halus namun tajam seperti, “Memangnya kuliah sastra itu kerjanya menjadi apa?”, komentar tajam itu membuat kepercayaan serta mental diri mereka menjadi hilang.
Hal ini dapat memicu keraguan diri yang mendalam mengenai pilihan jurusan mereka apakah sudah tepat atau belum, keraguan ini kerap muncul terutama saat melihat lulusan dalam bidang mereka, apakah teknis dan kemampuan mereka siap pakai oleh industri dalam bidang tertentu.
Meskipun dibayang-bayangi rasa takut, kebanyakan mahasiswa masih memendam pemikiran idealisme untuk berkarier sesuai dengan keahlian dalam bidangnya, seperti dunia kepenulisan kreatif, editor, atau penerjemah. Sedangkan, realitas industri yang dinamis mulai melenturkan idealisme tersebut. Sekarang semakin banyak mahasiswa yang mulai bersiap jika harus melakukan (banting stir) ke bidang apa pun asalkan bisa bertahan hidup serta memiliki pekkerjaan. Pada akhirnya, sebuah ijazah Sastra Inggris bukan hanya sekadar tanda lulus saja, melainkan sebuah tiket masuk ke pertarungan di dunia pekerjanan zaman sekarang yang sering menuntut ketangguhan mental dan adaptasi lebih dari sekadar kemahiran serta berbahasa.

Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































