Ancaman resesi global kembali menjadi perbincangan serius dalam lanskap ekonomi internasional. Perlambatan pertumbuhan di negara-negara maju, disrupsi rantai pasok, serta ketidakpastian geopolitik telah menciptakan tekanan multidimensional bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampak lanjutan dari Perang Rusia-Ukraina yang memicu krisis energi dan pangan global, ditambah perlambatan ekonomi di Amerika Serikat dan China sebagai mitra dagang utama, semakin mempertegas kerentanan sistem ekonomi global yang saling terhubung. Dalam konteks ini, Indonesia dihadapkan pada dilema klasik: sejauh mana ketahanan ekonomi domestik mampu meredam guncangan global, dan sejauh mana ketergantungan eksternal justru memperbesar risiko tersebut.
Secara struktural, Indonesia memiliki sejumlah modal penting dalam menghadapi tekanan resesi global. Salah satu kekuatan utama terletak pada besarnya pasar domestik yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Konsumsi domestik yang relatif stabil telah lama menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan ketika terjadi kontraksi di sektor eksternal. Selain itu, kebijakan fiskal yang adaptif dan responsif, termasuk pengelolaan subsidi dan stimulus ekonomi, menunjukkan kapasitas negara dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Reformasi struktural melalui hilirisasi sumber daya alam juga menjadi strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah ekspor dan mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.
Namun demikian, narasi ketahanan ekonomi Indonesia tidak dapat dilepaskan dari realitas ketergantungan eksternal yang masih signifikan. Struktur ekspor Indonesia yang masih didominasi oleh komoditas primer menjadikan perekonomian nasional rentan terhadap fluktuasi harga global. Ketika harga komoditas menurun akibat perlambatan ekonomi global, pendapatan ekspor turut tertekan, yang pada gilirannya berdampak pada penerimaan negara dan stabilitas nilai tukar. Di sisi lain, ketergantungan terhadap investasi asing juga menciptakan kerentanan tersendiri. Dalam situasi ketidakpastian global, arus modal cenderung berbalik ke negara maju yang dianggap lebih aman, sehingga berpotensi memicu tekanan pada pasar keuangan domestik.
Lebih lanjut, integrasi Indonesia dalam sistem ekonomi global membawa konsekuensi berupa transmisi krisis yang semakin cepat dan kompleks. Globalisasi ekonomi yang sebelumnya dipandang sebagai peluang kini juga menjadi sumber kerentanan baru. Gangguan pada rantai pasok global, misalnya, dapat secara langsung memengaruhi sektor industri dalam negeri, terutama yang bergantung pada bahan baku impor. Dalam konteks ini, ketahanan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh faktor internal, tetapi juga oleh kemampuan negara dalam mengelola interdependensi global secara strategis.
Oleh karena itu, menghadapi ancaman resesi global memerlukan pendekatan kebijakan yang tidak semata reaktif, tetapi juga transformatif. Pemerintah perlu memperkuat basis ekonomi domestik melalui diversifikasi struktur ekonomi, peningkatan produktivitas sektor industri, serta penguatan peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di saat yang sama, strategi pengurangan ketergantungan eksternal harus dilakukan secara bertahap dan terukur, misalnya melalui penguatan industri substitusi impor dan perluasan pasar ekspor non-tradisional.
Selain itu, penguatan kapasitas kelembagaan dan koordinasi kebijakan menjadi aspek krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi. Sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil perlu terus ditingkatkan guna merespons dinamika global secara efektif. Dalam jangka panjang, investasi pada sumber daya manusia dan inovasi teknologi juga menjadi prasyarat penting untuk menciptakan ekonomi yang lebih tangguh dan berdaya saing.
Pada akhirnya, posisi Indonesia dalam menghadapi resesi global mencerminkan suatu paradoks antara ketahanan dan ketergantungan. Di satu sisi, fondasi ekonomi domestik memberikan ruang optimisme bagi kemampuan bertahan dari guncangan eksternal. Namun di sisi lain, keterikatan yang kuat dengan sistem ekonomi global tetap menyisakan kerentanan yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, tantangan utama bagi Indonesia bukan sekadar bertahan dari resesi global, tetapi juga mentransformasikan struktur ekonomi menuju kemandirian yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, resesi global tidak hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi juga sebagai momentum untuk melakukan pembenahan mendasar dalam arah kebijakan pembangunan nasional.
Penulis: Muhammad Rafael Azizi Rosyidi
Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




























































