Bayangkan nenek moyang kita di Yunani Kuno, berdiri di tengah ladang setelah hujan berhenti. Di langit terlihat pelangi dengan berbagai warna. Reaksi yang diberikan? “Dewa pelangi sedang mencari air!” atau “Itu naga raksasa yang terbang!”
Begitulah cara orang-orang zaman dahulu memahami alam. Fenomena alam tidak dilihat sebagai kejadian biasa, tetapi sebagai perbuatan para dewa. Gempa bumi terjadi ketika Dewa Bumi menggoyangkan kepalanya. Petir bukan hanya aliran listrik di atmosfer, tetapi Thor yang marah melemparkan palunya. Pelangi bukan hanya cahaya matahari yang dipantulkan oleh tetesan air, tetapi dewa yang hadir.
Sekarang, kita tertawa saat membaca legenda itu. Tapi bagaimana kita bisa mencapai kondisi ini? Dari “Dewa Pelangi” menuju “pantulan cahaya”? Jawabannya terletak pada revolusi pemikiran: transisi dari mitos menuju logos.
Apa Itu Mitos dan Logos?
Mitos adalah cerita rakyat yang melibatkan tokoh dewa, dianggap benar tanpa perlu pembuktian. Dalam pola pikir mitosentris, masyarakat percaya dan mengandalkan mitologi untuk menjelaskan segala kejadian.
Ciri-ciri mitos:
Diterima secara mentah, tidak boleh diubah
Tidak rasional, bersifat simbolis
Kebenaran mutlak berdasarkan kepercayaan
Penjelasannya bergantung pada kekuatan gaib
Logos berarti kata, rasio, atau akal. Logos mengacu pada upaya memahami realitas dengan cara yang rasional. Dalam pola pikir logosentris, manusia mulai menggunakan akal dan penelitian untuk menjelaskan setiap hal yang terjadi.
Ciri-ciri logos:
Dapat diteliti dan diperdebatkan
Logis, dapat diterima akal sehat
Kebenaran relatif, tergantung argumentasi rasional
Berdasarkan observasi dan pembuktian
Revolusi Abad ke-6 SM: Ketika Filsafat Lahir
Sekitar abad ke-6 Sebelum Masehi, terjadi perubahan dramatis di Yunani Kuno. Manusia mulai mencari jawaban rasional tentang masalah-masalah yang ada di alam semesta. Logos (akal budi, rasio) menggantikan mitos (mythos), dan filsafat dilahirkan.
Seperti kata seorang filsuf: “Eh, tunggu dulu. Bagaimana kalau dunia ini sebenarnya teratur? Bagaimana kalau ada logika di balik semua ini?”
Para Filsuf Alam yang Mengubah Segalanya
Revolusi ini dimulai oleh sekelompok pemikir yang disebut kaum Pra-Sokrates, antara lain:
Thales sebagai pelopor filsafat yang mengubah cara pandang dari mitos ke akal sehat dan logika untuk penjelasan alam
Anaximander yang mengkritik Thales dengan menolak penjelasan supranatural, mencari prinsip dasar (arche) yang alamiah
Anaximander: Contoh Nyata Demitologisasi
Anaximander adalah contoh sempurna bagaimana logos menggantikan mitos. Sebagai murid Thales, ia justru mengkritik pandangan gurunya yang menyatakan air sebagai prinsip dasar segala sesuatu.
Anaximander berpendapat bahwa prinsip dasar segala sesuatu adalah to apeiron (yang tanpa batas) suatu prinsip abstrak yang ilahi, abadi, tak terubahkan, dan meliputi segala sesuatu.
Yang menakjubkan: pemikiran apeiron Anaximander merupakan usaha penjelasan realitas secara rasional (logos) dan mengganti pemikiran mythos yang telah ada. Ini adalah upaya demitologisasi penjelasan natural terhadap realita alam yang mengganti pemikiran supranatural.
Anaximander bahkan mengembangkan teori evolusi! Ia berpendapat bahwa makhluk hidup pertama di bumi adalah manusia yang berasal dari hewan air yang berevolusi menjadi manusia (Aliyah et al., 2024). Teori ini pada abad ke-24 kemudian dikembangkan oleh para ahli lain, sehingga Anaximander dapat dikatakan pelopor evolusi.
Mengapa Pergeseran Ini Terjadi?
Filsafat muncul sebagai cara berpikir yang lebih rasional dan kritis sebagai respons terhadap perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang sedang terjadi di Yunani Kuno.
Orang Yunani mulai:
Bertanyakan penjelasan mitos tradisional
Mencari cara baru memahami dunia berdasarkan akal dan bukti, bukan otoritas
Mempertanyakan keberadaan diri dan alam semesta
Apakah Mitos Benar-Benar Hilang?
Dalam dunia ilmu pengetahuan, tidak pernah ada referensi yang menjelaskan bahwa mitos-mitologi bisa dipertentangkan dengan logos, bahkan sains dan teknologi. Justru logos dan sains adalah kelanjutan dari pemikiran rasional.
Walaupun filsafat muncul setelah logos mengalahkan mitos, bukan berarti semua mitologi ditinggalkan secara tiba-tiba. Mitos tetap ada dalam budaya, seni, dan bahkan dalam cara kita mendongeng. Yang berubah adalah cara kita mendeskripsikan alam dari dewa kepada logika.
Warisan Revolusi Ini untuk Kita Hari Ini
Cara orang Yunani Kuno mempertanyakan, merumuskan teori, dan menyusun logika ilmiah telah menjadi fondasi peradaban ilmiah global.
Ketika Anda:
Melihat pelangi dan berpikir “pantulan cahaya”, bukan “dewa”
Mendengar petir dan berpikir “listrik atmosfer”, bukan “Thor marah”
Bertanya “mengapa?” daripada menerima “begitu saja”
Anda sedang menggunakan logos yang diperjuangkan oleh Thales, Anaximander, dan filsuf alam lainnya 2.600 tahun lalu.
Reference
Aliyah, D., Hasna, A. M., & Pratama, M. A. (2024). Konsep Infinity Dan Keadilan Kosmik Anaximander. Praxis: Jurnal Filsafat Terapan, 1(02).
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































