Tidak semua cita-cita datang sejak awal. Ada yang tumbuh pelan-pelan, berawal dari rasa suka yang sederhana, lalu tanpa disadari mengubah arah perjalanan seseorang.
Begitulah kisah Raudyatuzzahra, murid XII PK 2 MAN 1 Yogyakarta yang berhasil lolos SNBT 2026 di Program Studi Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor (IPB).
Jika melihat hasil akhirnya hari ini, orang mungkin mengira Raudy telah lama menargetkan jurusan tersebut. Padahal, saat awal kelas XII, ia bahkan belum terpikir untuk mengikuti SNBT. Saat itu, sekolah kedinasan justru menjadi pilihan yang lebih menarik karena membuka jalan untuk langsung bekerja.
Namun semuanya berubah ketika ia mulai mengenal dunia Arsitektur Lanskap.
Raudy menyadari bahwa jurusan itu seolah menggabungkan berbagai hal yang selama ini ia sukai: menggambar, alam, dan perjalanan. Bukan karena ia merasa paling ahli menggambar, tetapi karena ia benar-benar menikmati prosesnya.
Sebagai murid Program Keagamaan (PK), pilihannya sempat dianggap tidak biasa. Namun Raudy percaya bahwa menjadi anak PK bukan berarti harus membatasi cita-cita pada bidang tertentu.
Ia teringat pesan guru-gurunya yang selalu mendorong murid untuk berkembang ke mana pun, selama tetap memegang nilai-nilai yang telah dipelajari. Baginya, banyak tokoh besar dalam peradaban Islam yang mampu menjadi ulama sekaligus ilmuwan.
Perjalanan menuju IPB pun tidak berjalan mulus. Raudy tidak mengikuti bimbingan belajar besar seperti sebagian teman-temannya. Ketika akhirnya memutuskan fokus mengejar SNBT, ia merasa tertinggal jauh. Rasa minder kerap muncul, terlebih setelah pengumuman SNBP menyatakan dirinya tidak lolos.
Namun justru kegagalan itulah yang menjadi titik balik.
“Kalau dipikir sekarang, saya justru beruntung tidak lolos SNBP karena di situlah saya mulai belajar dengan sungguh-sungguh,” ungkapnya.

Sejak saat itu, ia memperkuat kembali materi-materi dasar, rutin mengerjakan latihan soal, mengikuti tryout, lalu mengulang dan mengevaluasi kesalahan berkali-kali. Tantangan terbesarnya bukan materi pelajaran, melainkan rasa puas terlalu cepat.
Sering kali muncul pikiran bahwa belajar yang dilakukan hari itu sudah cukup, padahal waktu menuju UTBK semakin dekat dan usaha perlu terus ditingkatkan.
Di tengah proses tersebut, Raudy dan teman-teman asramanya memiliki kebiasaan yang kini menjadi kenangan tersendiri. Mereka sering belajar bersama di berbagai sudut Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, mulai dari area Collab Hub hingga bangku-bangku taman yang teduh. Mereka bahkan bercanda menyebut diri sebagai “pengunjung setia GIK”.
Selain usaha akademik, Raudy juga memperkuat apa yang ia sebut sebagai jalur langit. Ia memperbanyak doa dan mujahadah, memohon agar Allah memberikan jalan terbaik untuk masa depannya.
Ketika pengumuman SNBT tiba, Raudy mengaku masih dipenuhi keraguan. Banyak orang tidak terlalu yakin ia bisa diterima di pilihan pertamanya. Bahkan dirinya sendiri sempat merasa demikian.
Namun ia tetap meminta satu hal kepada Allah: kejutan yang menyenangkan. Dan kejutan itu benar-benar datang. Namanya tercantum sebagai mahamurid baru Arsitektur Lanskap IPB.
Kini Raudy bersiap mempelajari lebih banyak tentang desain lanskap, tanaman, dan ruang terbuka hijau. Ia ingin menggabungkan kecintaannya pada menggambar dan alam untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman dan hijau bagi banyak orang.
Kisah Raudy menjadi pengingat bahwa masa depan tidak selalu ditentukan oleh rencana yang sudah tersusun rapi sejak awal. Terkadang, jalan terbaik justru muncul setelah kegagalan, keraguan, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dibayangkan sebelumnya.
Penulis: Deti Prasetyaningrum, S.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































