Setiap individu memerlukan air yang bersih. Air digunakan untuk keperluan minum, memasak, mandi, dan mencuci. Namun, tidak semua desa memiliki akses kepada air yang benar-benar berkualitas. Salah satu desa yang mengalami hal ini adalah Desa Banjarmadu, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan. Selama bertahun-tahun, penduduk desa ini berhadapan dengan persoalan air yang keruh. Keadaan ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan. Pada tanggal 3 Juli 2026, sebuah harapan baru hadir di balai desa Banjarmadu. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 46 dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya datang dengan sebuah solusi, yaitu penerapan sistem penyaringan air yang sederhana.
Acara yang berlangsung pada tanggal 3 Juli 2026 diikuti oleh perangkat desa serta dua perwakilan dari setiap Rukun Tetangga (RT). Pemaparan materi dilakukan oleh mahasiswa KKN yang bertindak sebagai pemateri. Suasana terasa akrab dan penuh perhatian. Warga terlihat bersemangat karena mereka sudah lama menantikan solusi terhadap masalah air yang mereka hadapi setiap hari. Kehadiran mahasiswa tidak hanya untuk berbagi pengetahuan baru, tetapi juga untuk menunjukkan alat yang dapat dirakit sendiri menggunakan bahan yang tersedia di sekitar desa.
Kondisi Air Sebelum Penerapan Filter
Sebelum filter diperkenalkan, kelompok KKN 46 melakukan analisis dan uji awal terhadap air yang diambil dari beberapa keran rumah penduduk dengan sampel diambil dari dua rumah per RW. Temuan itu menunjukkan bahwa kualitas air di Desa Banjarmadu cukup keruh untuk pemakaian sehari-hari. Kekeruhan ini disebabkan oleh campuran partikel kecil dalam air. Secara fisik, air juga terlihat memiliki warna kecokelatan. Dalam hal bau, air mengeluarkan aroma yang kurang sedap.

Kondisi ini telah berlangsung cukup lama, warga desa telah terbiasa menyimpan air terlebih dahulu di dalam ember atau wadah penyimpanan selama beberapa jam sebelum memanfaatkannya. Metode ini memang memberikan sedikit bantuan, secara efektif dapat mengurangi aroma, rasa, dan partikel namun tidak menutup kemungkinan zat kima masih ada. Dari sudut pandang kesehatan, air yang kotor dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti gatal-gatal pada kulit. Oleh karena itu, keadaan air sebelum penerapan filter dapat dianggap sebagai isu yang mendesak dan perlu segera diselesaikan. Dengan demikian, kelompok mahasiswa KKN hadir untuk memberikan solusi serta kontribusi yang nyata terkait permasalahan ini.
Desain Filter yang Tepat untuk Banjarmadu
Pertanyaan krusial yang muncul adalah bagaimana filter yang tepat untuk situasi kekeruhan air di Banjarmadu. Mahasiswa KKN 46 menjawab pertanyaan tersebut dengan suatu rencana yang sederhana namun efisien, yaitu rancangan filter air yang memanfaatkan bahan-bahan yang gampang ditemukan di lingkungan desa.
Filter tersebut terbuat dari botol plastik bekas yang dipotong bagian bawah. Kemudian lapisan pertama adalah tisu dan kapas berfungsi untuk menyaring kotoran yang berukuran sangat kecil. Lapisan setelahnya adalah batu kerikil berfungsi untuk menyaring kotoran berukuran besar dan menjaga aliran air. Lapisan selanjutnya adalah karbon aktif atau arang di atas batu kerikil, bahan ini berfungsi sebagai penghilang bau, warna, dan zat kimia berbahaya. Lapisan setelahnya adalah kapas. Lapisan setelah kapas yakni pasir silika yang berfungsi untuk menyaring partikel kecil dan mengurangi kekeruhan. Lapisan berikutnya adalah kerikil. Setelah batu kerikil lapisan terakhir adalah kapas dan tisu digunakan untuk filter partikel kecil pada awal penyaringan.
Susunan lapisan ini bukan tanpa alasan. Batu kerikil berfungsi untuk menyaring endapan lumpur yang besar. Pasir silika menahan partikel halus yang masih terbawa air. Arang aktif berperan menyerap bau, rasa, dan sisa logam berat yang larut dalam air. Sementara itu, kapas dan tisu menjadi penyaring awal sebelum air masuk ke lapisan berikutnya. Kombinasi bahan-bahan tersebut terbukti mampu menurunkan tingkat kekeruhan dan mengurangi bau besi secara nyata.
Mahasiswa KKN juga memberikan alternatif bahan lain, yaitu rancangan ini bisa diubah sesuai dengan bahan yang tersedia di masing-masing rumah. Apabila arang sulit ditemukan, pilihan bahan alternatif adalah sabut kelapa. Meski kemampuan serapnya sedikit berbeda, output yang dihasilkan tetap sama. Ini sangat berarti karena menunjukkan bahwa penyaring air tidak perlu bergantung pada produk yang susah diperoleh, melainkan dapat memanfaatkan sumber daya lokal.
Perbedaan Kualitas Air Sebelum dan Sesudah Penerapan Filter
Untuk menentukan ada tidaknya perbedaan signifikan, kelompok KKN 46 menyelenggarakan workshop atau pelatihan yang diikuti oleh masyarakat dan pihak desa. Hasil yang diperoleh sangat memuaskan, yaitu air yang mengalir dari keran filter terlihat jernih dan tidak lagi memiliki warna kecokelatan serta bau yang menyengat hampir tidak tercium lagi. Pihak desa yang hadir juga mencoba mencium dan melihat secara langsung perbedaan antara air sebelum dan sesudah proses penyaringan, serta mereka mengakui bahwa perubahan itu sangat jelas. Mereka merasa bahwa selama ini kekurangan mereka hanya sebatas pengetahuan, bukan karena kurangnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Penutup
Penerapan alat penyaring air yang sederhana oleh KKN 46 UINSA di Desa Banjarmadu menunjukkan bahwa solusi terhadap isu sosial bisa muncul dari pendekatan yang mudah, melibatkan partisipasi, dan berakar pada kearifan lokal. Para mahasiswa tidak hadir dengan sikap superior, tetapi membawa semangat kolaboratif untuk berbagi pengetahuan dan belajar satu sama lain. Mereka menangani tiga masalah utama, yaitu situasi air yang memprihatinkan, pengembangan desain filter yang tepat, serta menunjukkan perubahan yang signifikan dan konkret.
Air yang bersih kini tidak lagi menjadi angan-angan bagi masyarakat Banjarmadu. Berkat kerjasama yang erat dan wawasan baru, mereka mulai bergerak menuju kehidupan yang lebih baik. Diharapkan inisiatif semacam ini dapat diteruskan di desa-desa lain yang mengalami masalah serupa. Karena pada dasarnya, perubahan signifikan selalu berawal dari tindakan-tindakan kecil yang dilaksanakan dengan sepenuh hati.
Ditulis oleh: KKN 46 UINSA
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































