BANDUNG – Libur semester seharusnya menjadi waktu yang paling saya tunggu. Setelah berbulan-bulan bergelut dengan tugas, ujian, organisasi, dan berbagai aktivitas kampus, saya membayangkan akhirnya bisa menikmati beberapa hari tanpa deadline dan alarm pagi. Saya bisa bangun lebih siang, menonton list film yang sudah menumpuk, melakukan hobi yang disukai, atau sekadar scroll tik-tok tanpa merasa dikejar apa pun.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Pada minggu pertama, saya menikmati waktu istirahat tersebut. Akan tetapi, ketika hari hari-hari berikutnya, muncul perasaan guilty. Saya mulai merasa tidak tenang, rasanya seperti ada sesuatu yang salah padahal tidak sedang mengabaikan kewajiban apa pun. Tidak ada tugas yang terlambat dikumpulkan, tidak ada janji yang harus saya tepati. Saya hanya sedang beristirahat.
Perasaan itu semakin kuat ketika saya membuka media sosial.
Di layar ponsel, orang-orang membagikan berbagai aktivitasnya selama liburan. Ada yang sedang menjalani magang, mengikuti kursus, bekerja paruh waktu, menjadi relawan, atau membagikan sertifikat yang baru mereka peroleh. Melihat semua itu, saya mulai bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa saya hanya diam?”
Yang aneh, sebelum membuka media sosial saya merasa baik-baik saja. Namun beberapa menit setelah melihat pencapaian orang lain, saya mulai merasa tertinggal.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya:
Mengapa istirahat terasa seperti sebuah kesalahan?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun semakin dipikirkan, semakin saya menyadari bahwa persoalannya bukan tentang liburan atau rebahan. Persoalannya adalah bagaimana saya memaknai produktivitas.
Saya menyadari bahwa saya sebenarnya tidak membenci waktu istirahat. Saya juga tidak merasa bersalah untuk beristirahat setelah menyelesaikan suatu pekerjaan. Yang membuat saya gelisah adalah ketika saya merasa tidak mengalami perkembangan selama beberapa hari, sementara orang lain berlari-lari untuk terus maju.
Di titik inilah saya mulai bertanya: apakah saya benar-benar ingin berkembang, atau saya hanya takut tertinggal?
Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada Social Comparison Theory yang dikemukakan oleh Leon Festinger. Menurut teori ini, manusia memiliki kecenderungan alami untuk menilai dirinya dengan membandingkan dirinya dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kecenderungan ini mungkin tidak terlalu terasa. Namun media sosial membuat proses perbandingan tersebut berlangsung tanpa henti.
Setiap hari kita melihat seseorang memenangkan perlombaan, memperoleh beasiswa, mengikuti seminar, diterima magang. atau memulai proyek baru. Yang kita lihat adalah hasil akhirnya. Kita jarang melihat penolakan, kegagalan, rasa lelah, atau hari-hari ketika mereka juga hanya ingin beristirahat. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan potongan-potongan terbaik dari kehidupan orang lain.
Namun, setelah merenungkan hal tersebut, saya merasa penjelasan psikologi saja belum cukup.
Mengapa pencapaian orang lain bisa begitu memengaruhi cara saya memandang diri sendiri?
Mengapa saya merasa bahwa beberapa hari tanpa menghasilkan sesuatu sudah cukup untuk membuat saya merasa gagal?

Pertanyaan ini membawa saya pada pemikiran filsuf Korea Selatan, Byung-Chul Han. Dalam bukunya The Burnout Society, Han menjelaskan bahwa masyarakat modern telah berubah menjadi achievement society, yaitu masyarakat yang menempatkan pencapaian sebagai ukuran utama keberhasilan seseorang. Menurutnya, tekanan terbesar saat ini bukan lagi berasal dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri. Kita terus merasa harus berkembang, produktif, dan harus melakukan sesuatu. Akibatnya, kita menjadi pengawas sekaligus penekan bagi diri kita sendiri.
Saya merasa pemikiran itu sangat dekat dengan pengalaman saya.
Tidak ada dosen yang mewajibkan saya mengikuti kursus selama liburan, tidak ada orang tua yang memaksa saya bekerja paruh waktu, bahkan tidak ada teman yang mengatakan bahwa saya gagal karena memilih beristirahat.
Namun saya tetap merasa bersalah. Artinya, tekanan tersebut berpindah ke dalam diri saya sendiri.
Lalu saya mulai bertanya lebih jauh.
Sejak kapan istirahat kehilangan nilainya?
Mengapa seseorang yang sibuk sering kali dianggap lebih bernilai daripada seseorang yang sedang menikmati waktu luang?
Bukankah tubuh dan pikiran memang membutuhkan jeda?
Saya kemudian teringat pada pemikiran Erich Fromm dalam To Have or To Be?. Fromm membedakan dua cara manusia menjalani hidup. Yang pertama adalah orientasi to have, yaitu kecenderungan menilai hidup berdasarkan apa yang dimiliki: gelar, sertifikat, jabatan, pengalaman, atau pencapaian. Yang kedua adalah orientasi to be, yaitu menjalani hidup sebagai proses menjadi manusia yang lebih utuh, lebih sadar, dan lebih bermakna.
Ketika saya merasa bersalah karena tidak memperoleh sertifikat baru selama liburan, mungkin yang sedang saya kejar bukanlah proses bertumbuh, melainkan bukti bahwa saya sedang bertumbuh.
Padahal keduanya tidak selalu sama.
Saya juga teringat bahwa jauh sebelum media sosial hadir, Aristoteles telah berbicara tentang eudaimonia, yaitu kehidupan yang baik. Menurutnya, hidup yang baik bukan sekadar hidup yang sibuk atau dipenuhi aktivitas tanpa henti, melainkan hidup yang dijalani dengan kebajikan dan keseimbangan. Jika demikian, bukankah kemampuan untuk beristirahat, menikmati waktu bersama keluarga, atau memberi ruang bagi diri sendiri juga merupakan bagian dari kehidupan yang baik?
Namun perlahan saya mulai menyadari bahwa produktivitas seharusnya menjadi alat untuk mencapai kehidupan yang bermakna, bukan ukuran dari nilai diri seseorang.
Barangkali masalahnya bukan karena kita terlalu sering beristirahat.
Masalahnya adalah kita hidup dalam budaya yang membuat istirahat terasa seperti kemunduran.
Kita hidup di masa ketika pencapaian mudah dipamerkan, tetapi jeda jarang diperlihatkan. Akibatnya, kita mulai percaya bahwa semua orang selalu bergerak maju, sementara hanya kita yang berhenti. Padahal setiap orang memiliki ritme kehidupan yang berbeda, termasuk kebutuhan untuk berhenti sejenak.
Pada akhirnya, saya belum menemukan jawaban yang benar-benar tuntas atas pertanyaan mengapa saya merasa bersalah ketika beristirahat. Namun saya mulai menyadari bahwa mungkin pertanyaan yang selama ini saya ajukan kurang tepat.
Bukan lagi, “Apa yang sudah saya hasilkan hari ini?”
Melainkan,
“Apakah saya menjalani hidup sesuai dengan nilai yang benar-benar saya yakini, atau hanya mengikuti ukuran keberhasilan yang ditentukan oleh orang lain?”
Mungkin, di era yang memuliakan produktivitas, keberanian terbesar bukanlah bekerja tanpa henti.
Melainkan memberi diri kita izin untuk beristirahat tanpa merasa kehilangan nilai sebagai manusia.
Oleh: Medina Anwar, Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































