Mengenal konsep Post Traumatic Growth: Seni merakit kembali harapan dan makna hidup yang lebih kokoh di tengah badai trauma.
BANJARMASIN – Luka psikologis akibat kejadian traumatis sering kali dianggap sebagai titik akhir yang merusak kesejahteraan mental seseorang secara permanen. Namun, paradigma psikologi modern kini menawarkan sudut pandang berbeda: trauma bukan sekadar tentang kehancuran, melainkan peluang untuk tumbuh lebih tangguh melalui fenomena Post Traumatic Growth (PTG).
Fenomena PTG ini pertama kali dipopulerkan oleh Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun (1996). Mereka menemukan bahwa krisis hebat dapat menjadi katalisator bagi perubahan positif yang mendalam, mulai dari hubungan interpersonal yang lebih erat hingga apresiasi yang jauh lebih tinggi terhadap kehidupan.
Namun, transformasi ini tidak terjadi di ruang hampa. Meminjam kacamata Abraham Maslow melalui teori Hierarki Kebutuhan, kita diingatkan bahwa kesehatan mental yang paripurna mustahil tercapai jika fondasi dasarnya belum kokoh. Dalam proses pemulihan trauma, rasa aman adalah fondasi absolut yang tidak bisa ditawar. Tanpa lingkungan yang stabil dan suportif, energi psikis kita akan habis hanya untuk bertahan hidup dari rasa terancam, sehingga tidak ada lagi ruang tersisa bagi jiwa untuk tumbuh dan mengolah luka tersebut.
Prinsip ini serupa dengan seni Kintsugi dari Jepang, teknik memperbaiki tembikar pecah menggunakan emas murni. Dalam Kintsugi, retakan tidak disembunyikan, melainkan diperkuat sehingga hasil perbaikannya jauh lebih berharga daripada bentuk aslinya. Begitu pula dengan jiwa manusia; luka tidak perlu dihapus, tetapi diproses agar menjadi garis-garis kekuatan baru untuk tidak hanya sekedar sembuh, namun tumbuh.
Pada akhirnya, kesehatan mental yang paripurna bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan untuk terus tumbuh di tengah badai. Dengan memastikan akses terhadap rasa aman dan dukungan yang layak, kita sedang membantu sesama untuk mengubah retakan trauma menjadi emas kebijaksanaan yang menginspirasi.
Penulis: Athalia Madina Mahasiswi Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































