Belakangan ini, setiap kali awan gelap mulai berkumpul dan hujan deras turun lebih dari satu jam, media sosial kita langsung dipenuhi oleh fenomena yang seolah telah menjadi tradisi musiman. Para netizen dengan cepat mengunggah status, foto, hingga video amatir yang memperlihatkan jalan-jalan perumahan yang berubah menjadi sungai berwarna cokelat, motor-motor yang terendam karena mogok, serta air dari drainase yang mulai naik melewati batas teras dan menyerbu ruang tamu. Komentar yang muncul hampir selalu serupa: dipenuhi dengan kritik terhadap pemerintah, kalimat cacian untuk sistem drainase kota yang dianggap buruk, serta keluhan tentang nasib yang merasa terjebak dalam ketidakadilan alam.
Kejadian banjir di daerah pemukiman ini bukanlah hal baru, melainkan krisis lingkungan yang terjadi setiap tahun di berbagai kota besar dan kawasan pinggiran di Indonesia setiap kali curah hujan meningkat. Namun, jika kita mau mundur sejenak dan melihat keramaian ini dari sudut pandang psikologi lingkungan, kita akan menemukan perbedaan yang sangat mencolok dan ironis: suatu ketidakseimbangan yang jelas antara cara kita mengeluh tentang dampak bencana dan tindakan kita sehari-hari terhadap lingkungan di sekitar kita. Kita adalah masyarakat yang dengan keras mengutuk banjir, tetapi di saat yang bersamaan, kita juga menjadi penyebab utama datangnya banjir itu melalui kebiasaan kecil yang diabaikan, seperti membuang sampah sembarangan.
Sebagai mahasiswa psikologi yang baru memasuki semester kedua, saya sering terkagum-kagum di kelas saat mempelajari seberapa rumit struktur kognisi manusia. Salah satu konsep dasar yang sangat relevan untuk menganalisis masalah banjir dan sampah ini adalah teori Disonansi Kognitif yang diperkenalkan oleh Leon Festinger. Disonansi kognitif adalah keadaan ketegangan mental yang muncul ketika seseorang memiliki dua keyakinan yang bertentangan, atau ketika perilaku mereka tidak sejalan dengan keyakinan yang mereka miliki.
Secara umum, hampir semua masyarakat Indonesia pasti sepakat bahwa membuang sampah sembarangan adalah tindakan yang merusak lingkungan dan menyebabkan banjir. Ini adalah pemahaman yang sudah kita pelajari sejak di taman kanak-kanak. Namun, kenapa dalam kehidupan sehari-hari kita masih sering melihat puntung rokok dibuang dari jendela mobil, plastik makanan dijatuhkan sembarangan di tepi lapangan, atau kantong sampah dibuang ke lahan kosong di samping rumah pada malam hari?
Ketika seseorang melakukan tindakan yang bertentangan dengan keyakinannya sendiri, mereka akan merasakan ketidaknyamanan secara psikologis. Untuk mengatasi ketidaknyamanan ini, otak kita memiliki cara yang luar biasa untuk melakukan rasionalisasi atau pembenaran atas perilaku buruk yang dilakukan. Ketika seseorang membuang bungkus kopi plastik ke dalam saluran air, ego kognitifnya segera mencari alasan untuk membenarkan bahwa hanya satu bungkus kecil tidak akan langsung menyebabkan banjir besar, atau beralasan bahwa banyak orang lain juga melakukannya sehingga merasa tidak adil jika hanya dia yang dianggap salah. Proses pembenaran diri inilah yang menjadikan perilaku merusak lingkungan terus berlanjut tanpa merasa bersalah, hingga akhirnya alam datang menagih akibatnya dalam bentuk banjir.
Jika kita analisis lebih dalam dari aspek interaksi ruang, keanehan perilaku ini juga disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat kita tentang Keterikatan Tempat. Dalam psikologi lingkungan, keterikatan tempat merujuk pada hubungan emosional positif yang terjalin antara seseorang dengan suatu ruang tertentu. Ketika individu memiliki ikatan yang kuat dengan tempat tinggalnya, mereka akan merawat rumah tersebut dengan sepenuh hati, menjaga kebersihan lantai, membersihkan ruang tamu, dan tidak akan rela mengotori ruang pribadinya.
Namun, kedekatan emosional ini sering kali berhenti di batas pagar properti mereka. Ruang publik—seperti jalan, taman, sungai, hingga saluran di depan pagar—dilihat sebagai area yang bukan tanggung jawab pribadi. Karakteristik kepemilikan bersama ini justru memunculkan fenomena psikologis yang dikenal dengan istilah Penyebaran Tanggung Jawab. Ketika setiap orang meyakini bahwa menjaga kebersihan saluran adalah pekerjaan petugas kebersihan pemerintah atau orang lain, maka tidak ada satu pun yang merasa memiliki tanggung jawab penuh terhadapnya.
Akibat dari kesalahan penyebaran tanggung jawab ini, egoisme kolektif berkembang dengan pesat. Masyarakat menganggap wajar menutup saluran air di depan rumahnya dengan semen demi estetika tempat parkir tanpa memikirkan aliran air, atau membiarkan sampah menyumbat gorong-gorong tetangga karena berasumsi akan ada petugas yang membersihkan nantinya. Kita memperlakukan lingkungan di luar rumah sebagai tempat pembuangan sampah besar, lalu terkejut dan marah saat limbah tersebut meluap dan menggenangi tempat tidur kita.
Hukum sebab-akibat lingkungan bekerja berdasarkan mekanika yang kaku, objektif, dan tidak dapat dipengaruhi oleh retorika atau ungkapan di media sosial. Ketika ribuan sampah plastik kecil menghalangi sistem drainase di pemukiman dan bertemu dengan hujan yang ekstrem, kapasitas tampung air di tanah danau menjadi tidak berfungsi. Air hujan yang tak dapat meresap ke tanah terpaksa tergenang di permukaan, bergerak mencari lokasi lebih rendah, merobohkan batasan, dan mengubah pemukiman menjadi kolam besar dalam beberapa menit. Di sinilah, kelalaian perilaku di masa lalu berdampak langsung pada kondisi mental kolektif masyarakat, menghasilkan trauma psikologis yang sangat nyata.
Bagi mereka yang tinggal di daerah langganan banjir, rumah menjadi tidak nyaman ketika musim hujan tiba. Dalam bidang psikologi, rumah berfungsi sebagai tempat yang sangat penting—sebuah ruang aman di mana seseorang bisa melepaskan semua identitas sosialnya, merasa terlindungi dari bahaya luar, dan mengembalikan energi mental yang terkuras setelah beraktivitas. Ketika fungsi perlindungan ini terganggu oleh masuknya air banjir yang tak terduga, keseimbangan emosional penghuninya pun akan terganggu.
Keadaan psikologis semacam ini menyebabkan munculnya tanda-tanda Solastalgia, yaitu stres dan kecemasan yang dialami seseorang ketika lingkungan di sekitarnya mengalami kerusakan mendalam, sementara mereka masih tinggal di tempat tersebut. Hal ini menyebabkan trauma kecil yang berlangsung terus-menerus; setiap kali langit mulai mendung, petir menggelegar, dan hujan pertama jatuh, detak jantung penduduk langsung meningkat karena kecemasan yang terus-menerus.
Trauma ini juga mengarah pada fenomena insomnia bencana, di mana warga di area rawan tidak dapat lagi tidur nyenyak saat hujan lebat karena harus terjaga semalaman untuk mengawasi air yang mengalir. Ketika banjir terjadi berkali-kali selama setahun tanpa solusi yang jelas, masyarakat akhirnya mengalami Learned Helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari. Ini adalah keadaan di mana mereka merasa pasrah dan putus asa, percaya bahwa usaha apapun tidak akan berdampak. Ini menjelaskan mengapa kita sering melihat video viral warga yang santai makan mi instan atau anak-anak yang dengan gembira bermain di tengah banjir; itu bukan ketahanan, melainkan mekanisme pertahanan yang muncul dari keputusasaan bersama yang akhirnya dijadikan hal biasa.
Ketidakselarasan antara cara kita memperlakukan lingkungan saat musim kering dan cara kita meratapi kerusakan saat hujan adalah siklus buruk yang perlu dihentikan. Kita tidak bisa terus bertahan dengan kepribadian ganda, menjadi pelanggar aturan pada hari-hari biasa, lalu tiba-tiba bertransformasi menjadi korban yang merana dan mengeluh saat hujan datang.
Melalui artikel ini, saya sebagai mahasiswa psikologi ingin mengajak kita semua untuk meninjau kembali etika lingkungan kita. Merawat kebersihan lingkungan—dimulai dengan disiplin membuang sampah dengan benar hingga mencari tempat pembuangan yang sesuai, serta saling membantu menjaga saluran air di pemukiman—bukanlah sekadar gaya hidup yang hanya terlihat baik di media sosial. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral yang penting dan merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga kesehatan mental kita serta orang-orang di sekitar kita.
Pemerintah daerah pasti memiliki tanggung jawab utama untuk memperbaiki infrastruktur besar, menciptakan waduk penampung air, dan memberikan sanksi tegas kepada mereka yang merusak peraturan tata ruang. Akan tetapi, sebagai anggota masyarakat yang menjalani kehidupan sehari-hari, kita memiliki kontrol penuh atas tindakan bersama kita. Mari kita berhenti menyalahkan orang lain dan pada saat yang sama tetap membiarkan diri kita terlibat dalam masalah ini. Jika kita sungguh-sungguh ingin mengatasi perasaan cemas, trauma, dan detak jantung yang menyiksa setiap kali awan gelap muncul, maka langkah pertama yang paling logis adalah memperbaiki kepedulian kita ketika kita memiliki sepotong sampah plastik di tangan. Ayo kita hentikan lingkaran paradoks psikologis ini dari diri kita sendiri, sekarang juga, sebelum hujan selanjutnya datang dan menghancurkan akal sehat kita lagi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































