Padang, Sebuah momentum bersejarah hadir di jantung Kota Padang. Imam Bonjol Hotel menjadi saksi bisu pertemuan agung para cendekiawan Islam dari berbagai penjuru dunia dalam 3rd International Conference on Islamic Civilization and Culture (ICC 2026) yang digelar pada 2-3 Juni 2026. Dengan tema besar “Islamic Civilization and Culture: Building a Sustainable Future for Global Society”, konferensi yang diprakarsai oleh Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang ini bukan sekadar forum ilmiah biasa ia adalah deklarasi bahwa peradaban Islam memiliki jawaban nyata atas tantangan dunia masa kini. (Selasa, 02/06/26).
Konferensi bergengsi yang diselenggarakan secara hybrid baik daring maupun luring ini berhasil menghimpun para pemikir dan akademisi terbaik dari Malaysia, Singapura, Belanda, hingga Indonesia. Hadir sebagai pembicara undangan antara lain Prof. Madya Dr. Syamsul Fozy bin Osman dari UPTM Malaysia, Dr. Azhar Ibrahim bin Alwee dari National University of Singapore, Suryadi Ph.D. dari Leiden University, serta segenap guru besar dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Kehadiran mereka membuktikan satu hal yang pasti: dunia menaruh perhatian pada apa yang lahir dari bumi Minangkabau.
Di antara puluhan makalah yang dipresentasikan, sorotan istimewa jatuh pada sebuah riset yang berangkat dari kedalaman lembah dan sawah Nagari Pagadih, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam. Mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang Ziana Prasetia Ningsih yang dibimbing oleh Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Dr. Hermawati, M.Si, dan Fitra Yanti, MA. Sehingga Ziana dari fakultas dakwah dan ilmu komunikasi UIN Imam Bonjol Padang, tampil dengan makalah berjudul “Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Melalui Program Kongsi Tahunan di Nagari Pagadih: Anyaman Ketangguhan Sosial dan Ekonomi di Pedesaan Minangkabau.” Judul itu sendiri sudah mengandung puisi tentang perempuan yang menganyam bukan hanya tikar, tetapi juga masa depan.
Nagari Pagadih bukanlah tempat yang mudah dijangkau. Dengan 39% wilayahnya bertopografi curam melebihi 45 derajat, infrastruktur jalan yang terbatas, dan mayoritas penduduk yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, nagari ini adalah potret nyata kerentanan pedesaan. Ironisnya, justru di tempat inilah tersimpan sebuah kearifan yang mampu menundukkan keterbatasan: Program Kongsi Tahunan, sebuah sistem kerja kolektif berbasis gotong royong yang telah menjadi tulang punggung ekonomi perempuan di sana selama generasi.
Apa yang membuat riset ini begitu menggugah? Para peneliti dengan tegas menunjukkan kesenjangan paradigma yang selama ini luput dari perhatian. Sementara kebijakan pemberdayaan perempuan konvensional selalu mengandalkan intervensi dari atas UMKM, koperasi formal, bantuan eksternal model tersebut seringkali gagal menembus batas geografis dan budaya. Kongsi Tahunan justru tumbuh dari bawah, lahir dari inisiatif perempuan-perempuan seperti Ibu Nurnis dan kaumnya, berdiri tanpa menunggu instruksi siapa pun.
Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan observasi partisipatif dan wawancara mendalam, tim peneliti mengungkap dimensi pertama yang menakjubkan yaitu akumulasi dan mobilisasi modal. Para perempuan anggota Kongsi Tahunan tidak hanya bekerja mereka membangun sistem keuangan mikro yang mandiri, mengumpulkan upah kolektif, dan mendistribusikan kas sosial sesuai kesepakatan bersama. Sebuah perbankan rakyat tanpa gedung mewah, namun jauh lebih kuat dari banyak lembaga formal.
Dimensi kedua yang terungkap tak kalah mengagumkan: eskalasi partisipasi dan kontrol. Para perempuan ini bukan sekadar pelaksana kerja di sawah mereka adalah pengambil keputusan. Mereka aktif bermusyawarah menentukan lokasi kerja, pembagian tugas, pengelolaan keuangan, hingga distribusi hasil. Dari pelaksana, mereka naik menjadi pengendali. Dari yang diperintah, mereka bergerak menjadi perencana. Otonomi ekonomi rumah tangga mereka pun meningkat, mengurangi ketergantungan absolut pada pendapatan suami sebuah lompatan kemandirian yang sungguh luar biasa.
Dimensi ketiga menyentuh lapisan terdalam kemanusiaan: transformasi kepercayaan diri dan pengakuan sosial. Kongsi Tahunan telah menjadi ruang di mana perempuan Minangkabau belajar mengangkat suaranya, menghargai kemampuannya sendiri, dan diakui oleh komunitasnya. Ini bukan sekadar pemberdayaan ekonomi ini adalah kebangkitan martabat. Dan Islam, sebagaimana ditegaskan dalam nilai-nilai yang mendasari penelitian ini, tidak pernah melarang perempuan untuk berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
Yang paling mencengangkan adalah keunggulan keberlanjutan model Kongsi Tahunan dibanding program formal top-down. Saat program pemerintah sering layu setelah anggaran berakhir, Kongsi Tahunan terus hidup dan beradaptasi merespons perubahan cuaca, fluktuasi harga, bahkan tekanan ekonomi yang datang silih berganti. Inilah ketangguhan organik; bukan produk rekayasa birokrasi, melainkan buah dari kepercayaan yang tumbuh antar sesama perempuan selama bertahun-tahun.
Riset ini sekaligus menjadi jawaban cerdas atas pertanyaan besar yang selama ini menghantui dunia pembangunan: mengapa begitu banyak program pemberdayaan yang mahal justru gagal? Jawabannya ada di Nagari Pagadih karena kekuatan sejati tidak bisa disuntikkan dari luar, ia harus ditumbuhkan dari dalam. Modal sosial organik, seperti yang diteladankan oleh perempuan-perempuan Kongsi Tahunan, adalah akar yang tidak mudah dicabut oleh angin perubahan sekalipun.
Dalam konteks ICC 2026 dengan tema keberlanjutan global, presentasi ini menjadi bukti nyata bahwa peradaban Islam tidak perlu mencari jauh-jauh model pembangunan yang berkelanjutan. Ia ada di kampung-kampung, di sawah-sawah, dalam percakapan ibu-ibu setelah menuai padi tersimpan dalam kearifan lokal yang menunggu untuk didengar dan diteladani oleh dunia. Islam telah lama mengajarkan bahwa ta’awun (tolong menolong) adalah fondasi peradaban yang kokoh.
Forum ICC 2026 sendiri membuktikan semangat keilmuan yang menggelora di UIN Imam Bonjol Padang. Dengan dukungan penuh dari Rektor Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd., dan kepemimpinan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Prof. Dr. Taufiqurrahman, M.Ag., M.Hum., konferensi ini berhasil menghadirkan lebih dari dua puluh sub-tema kajian dari Aqidah dan Pemikiran Islam, Ekonomi Syariah, Kebudayaan dan Warisan Islam, hingga Naskah Melayu Islam. Setiap tema adalah undangan untuk berpikir, berdebat, dan menemukan jalan terbaik bagi umat.
Seperti yang terukir indah dalam pesan penutup presentasi Kongsi Tahunan: “Ketika perempuan pedesaan menenun solidaritas, mereka tidak hanya sedang bertahan hidup. Mereka sedang membangun ulang fondasi ekonomi komunitas.” Kalimat itu bukan sekadar kesimpulan riset nya adalah seruan kepada seluruh akademisi, pembuat kebijakan, dan pemimpin masyarakat untuk menoleh ke bawah, menghargai kearifan yang sudah ada, dan memberdayakannya dengan ilmu pengetahuan.
ICC 2026 ini melahirkan keyakinan yang makin kuat yakni masa depan peradaban Islam yang berkelanjutan bukan hanya dibangun di menara-menara universitas ternama dunia, tetapi juga di pematang sawah Nagari Pagadih, di tangan perempuan-perempuan tangguh yang setiap hari membuktikan bahwa gotong royong adalah teknologi tertua dan terkuat yang pernah diciptakan manusia. Selama kearifan lokal seperti Kongsi Tahunan terus dipelajari, dijaga, dan diangkat ke panggung dunia, maka masa depan yang berkelanjutan bukan sekadar impian ia adalah sesuatu yang sedang dianyam, helai demi helai, oleh tangan-tangan ibu di pelosok Minangkabau.
By. Muhammad Yunus
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































