Mengajarkan Anak Cinta Lingkungan: Tanggung Jawab Keluarga Kristen yang Terlupakan
Beberapa hari yang lalu, saya melihat seorang anak kecil membuang bungkus permen ke got. Padahal lima meter di depannya ada tempat sampah. Saya tegur dengan lembut. Anak itu menjawab dengan polos, “Ah, nanti juga hanyut, Bu.”
Saya mengalah.
Bukan karena saya tidak tahu harus berkata apa. Saya setuju karena anak itu tidak mengerti bahwa sampah yang dibuang ke got tidak akan “hanyut” begitu saja. Sampah itu akan menyumbat saluran udara, menyebabkan banjir saat hujan, dan pada akhirnya mengalir ke sungai, ke laut, lalu dimakan oleh ikan-ikan yang mungkin suatu hari akan ia santap.
Anak itu tidak tahu. Bukan salahnya. Dia belum diajari.
Pertanyaannya: oleh siapa dia harus diajari? Sekolah? Pemerintah? Aktivis lingkungan? Tentu semua itu bisa membantu. Tetapi tempat pertama dan utama seharusnya adalah keluarga. Dan bagi saya yang adalah seorang Kristen, keluarga Kristen seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengajarkan anak-anak mencintai ciptaan Tuhan.
Sayangnya, banyak keluarga Kristen yang sibuk dengan pelatihan rohani yang sempit: hafal ayat, bisa berdoa panjang, rajin ke gereja. Semuanya baik-baik saja. Tetapi anak-anak tidak pernah diajak bicara tentang pohon di halaman rumah, tentang sampah yang mereka hasilkan, atau tentang mengapa mereka tidak boleh membuang-buang air.
Kita lupa. Atau mungkin kita tidak pernah sadar bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari iman.
Coba buka Alkitab dari halaman pertama. Tuhan tidak menciptakan manusia lalu membiarkan berbuat seenaknya. Di Kejadian 2:15, Tuhan menempatkan manusia di taman Eden “untuk mengusahakan dan memelihara” taman itu. Dua kata kunci dalam bahasa Ibraninya: ‘avad (bekerja, mengolah, melayani) dan shamar (menjaga, merawat, melindungi).
Manusia tidak ditempatkan di taman untuk menjadi tiran yang mengeksploitasi. Manusia Ditempatkan di taman untuk melayani dan menjaga. Itu panggilan ekologis yang Tuhan berikan sejak awal mula.
Lalu kenapa kita, keluarga Kristen, begitu cuek?
Saya sering mendengar orang tua berkata, “Ah, nanti di sekolah anak saya belajar tentang lingkungan.” Atau, “Itu urusan pemerintah, bukan urusan saya.” Atau yang lebih parah, “Yang penting saya sudah masuk surga, bumi mau hancur ya terserah.”
Pikiran seperti ini, maaf, adalah pikiran yang egois dan tidak alkitabiah.
Mazmur 24:1 dengan tegas menyatakan: “Bumi serta segala isinya adalah milik TUHAN.” Kita bukan pemiliknya. Kita hanya pengelola. Suatu hari, Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita atas apa yang kita lakukan dengan rumah-Nya ini. Wahyu 11:18 bahkan menyebutkan bahwa Tuhan akan “membinasakan mereka yang membinasakan bumi.” Ini peringatan yang tidak bisa dianggap enteng.
Keluarga Kristen, oleh karena itu, harus segera pindah. Tidak perlu program besar yang rumit dan mahal. Mulailah dari hal-hal kecil.
Ajari anak mematikan keran saat sikat gigi. Itu tidak sulit. Hanya butuh konsistensi. Jadi anak lupa, ingatkan. Ulangi. Ulangi lagi. Sampai menjadi kebiasaan.
Ajari anak membawa botol minum dari rumah. Jangan membiasakan membeli kemasan udara setiap kali haus. Selain boros, sampah plastiknya akan menumpuk di bumi.
Ajari anak memilah sampah. Sediakan dua tempat sampah di rumah: satu untuk sampah basah (sisa makanan), satu untuk sampah kering (plastik, kertas, botol). Ajak anak dimasukkan ke tempat yang benar.
Berkebunlah bersama. Tidak perlu lahan yang luas. Satu pot di halaman sudah cukup. Tanam kangkung atau cabai. Libatkan anak dari menanam benih hingga memanen. Mereka akan belajar bahwa makanan tidak datang dari supermarket, tetapi dari tanah, udara, dan matahari.
Jalan-jalanlah ke alam. Ajak anak ke kebun raya, taman hutan, atau sekadar ke lapangan rumput. Matikan gawai. Ajak anak mengamati kupu-kupu, mendengar suara burung, mencium bau tanah setelah hujan. Katakan dengan sederhana, “Lihat, betapa hebatnya Tuhan menciptakan semua ini. Kita harus menjaganya, ya.”
Dan yang paling penting: jadilah teladan. Anak tidak mendengarkan omongan kita. Anak mencontoh apa yang kita lakukan. Jika kita mengajarkan anak untuk membuang sampah pada tempatnya, tetapi suatu hari kita membuang puntung rokok sembarangan karena malas, maka semua yang kita ajarkan akan hancur dalam sekejap. Anak akan berpikir, “Oh, ternyata membuang sampah sembarangan itu boleh juga. Yang penting tidak ketahuan.”
Jika kita gagal, akui di depan anak. Katakan, “Maaf Nak, Ibu tadi lupa mematikan lampu. Besok Ibu akan lebih mengingatnya.” Itu lebih berharga dari seribu ceramah.
Saya tahu, sebagai orang tua, kita lelah. Pekerjaan menumpuk. Rumah tangga perlu diurus. Anak-anak kadang rewel. Tetapi pendidikan lingkungan tidak perlu menjadi beban tambahan. Integrasikan saja ke dalam rutinitas yang sudah ada. Saat mandi, ajari anak untuk tidak membuang-buang air. Saat makan malam, ajari anak untuk menghabiskan makanan (tidak ada sisa). Saat perjalanan ke sekolah, ajak anak mengamati pohon di pinggir jalan.
Kecil-kecil mulailah perubahan dimulai.
Saya tidak naif. Saya tahu bahwa masalah lingkungan tidak akan selesai hanya karena satu keluarga memilah sampah atau seorang anak mematikan keran. Tetapi perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil. Dan jika ribuan, bahkan jutaan keluarga Kristen di Indonesia melakukan hal yang sama, bukankah itu akan menjadi kekuatan luar biasa?
Gereja juga harus turun tangan. Para pendeta harus berani berkhotbah tentang tanggung jawab ekologis. Sekolah Minggu harus memiliki kurikulum yang mengajarkan anak-anak untuk mencintai ciptaan Tuhan. Kegiatan gereja harus menjadi contoh pengelolaan lingkungan yang baik: mengelola sampah, hemat listrik, menanam pohon di halaman gereja.
Ini bukan soal ikut-ikutan gerakan penghijauan. Ini soal ketaatan kepada Tuhan. Ini soal mencintai sesama yang akan terkena dampak buruk dari perusakan lingkungan. Ini soal mewariskan warisan yang layak bagi anak cucu kita.
Anak kecil yang membuang bungkus permen ke dalamnya suatu hari akan tumbuh dewasa. Entah ia akan menjadi bagian dari masalah atau bagian dari solusi, sangat tergantung pada apa yang kita ajarkan hari ini. Di rumah. Di keluarga. Oleh orang tuanya.
Maka, marilah kita mulai dari rumah kita masing-masing. Matikan lampu yang tidak dipakai. Bawa tas belanja sendiri. Ajak anak memilah sampah. Berdoalah bersama untuk pohon-pohon di hutan dan sungai-sungai yang tercemar.
Bumi ini bukan milik kita. Bumi adalah milik Tuhan. Kita hanya pengelola. Suatu hari, kami akan dimintai pertanggungjawaban.
Jangan sampai Tuhan bertanya, “Di mana taman yang Kuberikan untuk kau jaga?” dan kita hanya bisa memikirkannya karena taman itu telah berubah menjadi gurun sampah.
Mulai dari rumah. Mulai dari hari ini. Mulai dari hal kecil.
Penulis: [cindy marbun]
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


































































