Yogyakarta, 01 Juni 2026 — Hamparan hutan pinus yang kini menghijau di kawasan perbukitan Gunungkidul, Bantul, dan Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyimpan sejarah panjang perjuangan pemulihan lahan. Beberapa dekade silam, kawasan-kawasan tersebut merupakan lahan tandus yang kritis akibat erosi dan penebangan hutan yang tidak terkendali. Kini, keberhasilan rehabilitasi hutan pinus di Yogyakarta tidak hanya menjadi simbol pemulihan ekosistem, tetapi juga menjadi contoh nyata implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Poin 15: Ekosistem Daratan — yang menekankan pentingnya perlindungan, restorasi, dan pengelolaan ekosistem terrestrial secara berkelanjutan.
Pada era 1960–1970-an, kawasan perbukitan di sekitar Yogyakarta mengalami degradasi lingkungan yang serius. Aktivitas pertanian tidak terencana, penebangan kayu bakar secara masif, serta minimnya kesadaran masyarakat akan konservasi lahan menyebabkan erosi besar-besaran. Tanah yang gersang dan berbatu tidak lagi mampu menahan air hujan, sehingga bencana kekeringan di musim kemarau dan banjir bandang di musim hujan menjadi ancaman tahunan bagi masyarakat sekitar.
Kondisi ini mendorong pemerintah, melalui Perum Perhutani dan Dinas Kehutanan DIY, untuk memulai program penghijauan masif dengan menanam pohon pinus (Pinus merkusii) sebagai tanaman pelopor. Pinus dipilih karena kemampuannya tumbuh di tanah miskin hara, toleran terhadap kekeringan, serta mampu memperbaiki struktur tanah secara bertahap. Program ini didukung oleh keterlibatan aktif masyarakat lokal yang turut serta dalam penanaman dan pemeliharaan pohon.
Puluhan tahun setelah program penghijauan dimulai, hasil nyata mulai terlihat. Hutan pinus yang kini menutupi ribuan hektare perbukitan DIY membawa sederet manfaat ekologis yang signifikan:
Pencegahan erosi dan longsor. Akar pinus yang kuat mengikat tanah dan mencegah erosi. Laporan BPBD DIY mencatat penurunan signifikan kejadian longsor di kawasan yang telah tertutup hutan pinus dibandingkan dua dekade lalu.
Pemulihan sumber air. Hutan pinus berperan sebagai penyimpan air tanah (aquifer). Banyak mata air yang sempat mengering kini kembali mengalir berkat vegetasi yang memadai, menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat desa di sekitarnya.
Penyerapan karbon. Kawasan hutan pinus DIY berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dioksida. Setiap hektare hutan pinus dewasa mampu menyerap rata-rata 5–10 ton CO₂ per tahun, mendukung target mitigasi perubahan iklim nasional.
Pemulihan keanekaragaman hayati. Tegakan pinus yang lebat menjadi habitat bagi berbagai satwa liar, termasuk burung endemik, serangga polinator, dan mamalia kecil yang sempat menghilang akibat kerusakan ekosistem.
Regulasi iklim mikro. Keberadaan hutan menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk dan lembap, mengurangi dampak gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim global.
Keberhasilan rehabilitasi hutan pinus tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang luar biasa bagi masyarakat lokal. Kawasan hutan pinus kini menjadi destinasi wisata alam unggulan di DIY, menarik ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya:
Ekowisata dan wisata petualangan. Kawasan seperti Hutan Pinus Mangunan di Bantul, Hutan Pinus Imogiri, dan berbagai spot di Gunungkidul telah berkembang menjadi destinasi camping, hiking, dan fotografi yang diminati wisatawan lokal maupun mancanegara.
Pendapatan masyarakat lokal. Ribuan warga sekitar hutan kini berprofesi sebagai pengelola wisata, pedagang kuliner, pemandu lokal, dan penyedia jasa camping. Desa-desa penyangga hutan mencatat peningkatan pendapatan per kapita yang signifikan sejak kawasan wisata dibuka.
Hasil hutan non-kayu. Getah pinus dimanfaatkan untuk produksi gondorukem dan terpentin yang bernilai ekonomi tinggi. Komoditas ini menjadi sumber pendapatan tambahan bagi Perhutani dan warga sekitar hutan.
Pertanian terpadu di bawah tegakan. Program agroforestri memungkinkan petani memanfaatkan lahan di bawah pohon pinus untuk menanam tanaman empon-empon, palawija, serta jamur yang laku di pasaran, mengintegrasikan kelestarian hutan dengan ketahanan pangan.
Keberhasilan pengelolaan hutan pinus di Yogyakarta secara langsung berkontribusi pada pencapaian SDGs Poin 15 (Life on Land), yang menargetkan restorasi ekosistem darat yang terdegradasi, pengentasan deforestasi, serta perlindungan keanekaragaman hayati pada tahun 2030. Namun, dampaknya tidak berhenti di sini. Program ini juga mendukung:
SDGs Poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim): melalui peran hutan sebagai penyerap karbon dan penyeimbang iklim.
SDGs Poin 6 (Air Bersih dan Sanitasi): melalui peran hutan dalam menjaga ketersediaan dan kualitas sumber air tanah.
SDGs Poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): melalui penciptaan lapangan kerja di sektor wisata dan kehutanan berbasis komunitas.
SDGs Poin 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan): melalui peran ruang hijau hutan dalam meningkatkan kualitas hidup dan ketahanan komunitas lokal.
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Pusat Studi SDGs terus berkomitmen mendukung keberlanjutan kawasan hutan pinus DIY melalui program penelitian ekologi, pemberdayaan masyarakat, dan edukasi lingkungan. Ke depan, program serupa diharapkan dapat direplikasi di daerah-daerah lain di Indonesia yang masih menghadapi masalah lahan kritis, guna mendukung target nasional pemulihan ekosistem dan pencapaian SDGs 2030.
Kisah kebangkitan hutan pinus Yogyakarta adalah bukti nyata bahwa dengan ketekunan, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi, lahan yang paling tandus sekalipun dapat bertransformasi menjadi sumber kehidupan yang lestari — menjawab tantangan terbesar zaman: hidup selaras dengan alam.
Az Zahra Nur Utami Rahmat
Eillen Durrotul ‘Aini
Universitas Negeri Yogyakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































