Pernahkah kita sadar seberapa sering jari kita menekan tombol share hanya dengan melihat sebuah unggahan video atau berita yang terkesan lagi heboh di media sosial? Di zaman digital saat ini, arus informasi sangat berputar dengan cepat, namun sering kali tidak berbanding lurus dengan kebenarannya. Menyebarkan informasi palsu dapat merusak reputasi, menimbulkan kebingungan, dan bahkan mengancam nyawa masyarakat (Rahman et al., 2023). Grup WhatsApp keluarga, tiktok, hingga x kerap dipenuhi dengan berita yang lagi viral untuk dipercaya padahal informasinya belum tentu benar atau bisa jadi itu hanya berita hoax. Tantangan moral muncul dalam tanggung jawab menyebarkan informasi dan kemampuan membedakan informasi sah dan palsu (Sari & Munir, 2024). Fenomena ini menunjukkan adanya masalah serius dalam cara masyarakat menerima dan memproses informasi.
Untuk bisa mempertahankan diri dari paparan berita hoax atau yang belum valid, kita tidak hanya bisa mengandalkan literasi digital yang bersifat teknis. Kita juga harus membutuhkan fondasi berpikir yang lebih mendasar melalui 3 pokok filsafat ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. 3 pokok filsafat ini terkesan teoritis, tetapi ini merupakan alat uji yang praktis. Ontologi merupakan sifat dasar untuk menyelidiki apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas (wujud) dari kategori-kategori logis yang berlainan (objek-objek fisik, hal universal, abstraksi dapat dikatakan ada dalam rangka tradisional (Purnomo & Mansur, 2024). Untuk Epistemologi merupakan karakteristik dari pengetahuan moral, perasaan moral, tindakan moral. Jadi kompetensi yang diharapkan adalah mengetahui menjadi baik, menginginkan yang baik, berbuat baik, hal-hal tersebut diharapkan menjadi kebiasaan dalam bertindak dan berpikir (Sari & Munir, 2024). Terakhir, Aksiologi Merupakan ranah pemberian nilai terhadap sesuatu sampai pada hakikatnya (Sari & Munir, 2024) .
Tahap pertama yang sering diabaikan sebelum berkomentar dengan marah atau cepat menyebarkan berita adalah mengenali informasi itu sendiri. Di sinilah ontologi berfungsi. Ontologi, sebagai ajaran yang menyelidiki hakikat eksistensi atau wujud suatu hal, meminta kita untuk sejenak berhenti dan mengamati bentuk sejati dari konten yang ada di layar hp kita. Di zaman digital, perbatasan antara fakta objektif dan konstruksi menjadi sangat samar karena fenomena hyperreality atau pasca-kebenaran. Banyak individu terjebak dalam hoaks akibat tidak mampu mengenali bentuk konten secara ontologis. Oleh karena itu, secara ontologis, kita perlu dapat memilih jenis informasi yang kita terima, seperti apakah ini fakta?, apakah hanya sekadar opini, konten hiburan, atau sebenarnya sebuah bentuk kebohongan yang sengaja dibuat untuk menipu. Menghadapi dilema etis di zaman digital saat ini memerlukan pemikiran, kesadaran dan tindakan yang cerdas. Pendidikan tentang etika digital, kebijakan yang mendukung prinsip-prinsip etika, serta kesadaran individu tentang dampak tindakan online merupakan langkah penting untuk menghadapi tantangan ini. Membangun pemahaman etika yang kuat dalam penggunaan teknologi adalah kunci untuk untuk memastikan kehidupan digital selaras dengan nilai-nilai moral dan etika (Afif et al., 2024).
Setelah berhasil mengenali wujud informasi melalui kacamata ontologi, langkah selanjutnya ialah melakukan proses pengujian melalui epistemologi. Pada ontologi berbicara tentang apa objeknya, maka epistemologi berfokus pada bagaimana cara kita mengetahui bahwa informasi tersebut benar. Banyaknya beredar informasi di media sosial, epistemologi bekerja sebagai metode fact-checking atau penyaring kebenaran.
Tahap terakhir yaitu cara kita menyikapi informasi di zaman digital saat ini. Di media sosial, aksiologi bertindak sebagai tanggung jawab moral kita sebelum menekan tombol share. Informasi yang kita bagikan seharusnya memberikan manfaat bagi orang lain. Tapi masalahnya, berita hoaks sengaja dibuat untuk tujuan yang tidak berguna. Oleh karena itu, kita harus bisa berpikir kritis. Memilih untuk tidak menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya adalah bentuk nyata dari etika berpikir yang bertanggung jawab.
Kesimpulan yang bisa kita ambil bahwasanya Menghadapi banyaknya berita hoaks di media sosial sebenarnya tidak harus membutuhkan aplikasi yang canggih. Hal mendasar yang kita butuhkan adalah bagaimana mengubah cara berpikir dan menerima informasi. Dengan memahami 3 pokok ilmu filsafat yang sudah dijelaskan, adanya ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Pada antologi paham bagaimana melihat wujud asli sebuah konten, sehingga tidak mudah tertipu pada sebuah konten yang sebenarnya tidak benar. Lewat epistemologi, punya metode dan logika yang jelas untuk menguji kebenaran sebuah beritanya bukan sekadar percaya apa kata orang. Terakhir, melalui aksiologi diajak untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab dengan memikirkan dampak dan manfaat dari informasi yang didapat sebelum dibagikan ke orang lain. Pada akhirnya, tiga pokok ilmu filsafat ini membuat kita sebagai pengguna media sosial lebih bijak dalam mendapatkan dan menyaring sebuah informasi dari media sosial serta mampu menggunakan akal yang sehat dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan dan menyaring sebuah informasi.
Daftar Pusaka :
Afif, N., Mukhtarom, A., Qowim, A. N., & Fauziah, E. (2024). Pendidikan Karakter Dalam Era Digital: Pengintegrasian Nilai-Nilai Moral Dalam Kurikulum Berbasis Teknologi. Tadarus Tarbawy, 6(1), 18–32.
Purnomo, D., & Mansur, A. (2024). Studi Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Dalam Dunia Pendidikan. Jurnal Jendela Pendidikan, 4(04), 398-406.
Rahman, F. A., Rohmah, M., Rustiani, S., Fatmawati, I. Y., & Zahro, N. A. D. S. (2023). Pendidikan Karakter Dalam Era Digital: Bagaimana Teknologi Mempengaruhi Pembentukan Moral Dan Etika. Journal of Creative Student Research, 1(6), 294-304.
Sari, A. P., & Munir, M. (2024). Peran filsafat ilmu dalam membangun karakter pendidikan di era digital dan teknologi. Digital Transformation Technology, 4(2), 952-958.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































