Di era digital yang segala halnya bergerak begitu cepat, banyak generasi Z (Gen Z) yang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari kewajiban belajar, tuntutan pekerjaan, hingga ekspektasi sosial yang kerap muncul di media sosial. Dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut, kini muncul sebuah tren yang cukup populer, yaitu self-reward atau memberi hadiah kepada diri sendiri setelah berhasil mencapai sesuatu atau sekadar bertahan untuk melewati hari yang melelahkan.
Makna dan Manfaat Positif Self-Reward
Pada dasarnya, self-reward merupakan bentuk apresiasi diri yang bisa memberikan dampak positif bagi kesehatan mental. Dengan memberikan penghargaan pada diri sendiri, seseorang akan merasa lebih termotivasi dan mampu mengurangi stres. Self-reward sering diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti membeli makanan favorit, berbelanja, atau sekadar menonton film untuk mengistirahatkan pikiran dari rutinitas.
Batas Tipis Antara Apresiasi Diri dan Perilaku Konsumtif
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut muncul pertanyaan: apakah self-reward benar-benar sehat atau malah akan menjadi kebiasaan yang berlebihan? Dalam praktiknya, tidak sedikit individu yang menggunakan self-reward sebagai alasan untuk menjaga kesehatan mental, namun tidak memikirkan dampak jangka panjangnya. Misalnya, kebiasaan belanja impulsif atau mengonsumsi sesuatu secara berlebihan hanya demi mendapatkan kepuasan sesaat.
Hal tersebut semakin diperkuat oleh pengaruh media sosial yang sering menampilkan gaya hidup konsumtif. Konten-konten yang berisi “hadiah untuk diri sendiri” secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa segala sesuatu yang telah kita lakukan perlu dihadiahi suatu barang atau pengalaman tertentu. Sehingga, hal ini mendorong Gen Z untuk melakukan pengeluaran berlebihan yang bukan lagi murni sebagai bentuk penghargaan diri.
Mengembalikan Esensi Self-Reward yang Bijak
Padahal, inti dari self-reward bukanlah tentang seberapa mahal atau seberapa besar penghargaan yang didapat, melainkan tentang bagaimana kita mampu menikmati dan menghargai proses dari pencapaian itu sendiri. Self-reward yang dilakukan secara bijak justru dapat menjadi sarana untuk menjaga keseimbangan mental serta membangun hubungan yang positif dengan diri kita sendiri.
Oleh karena itu, penting bagi Gen Z untuk mengerti batasan dalam menerapkan self-reward. Penghargaan diri sebaiknya dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi, serta tidak mengarah kepada perilaku konsumtif. Self-reward bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, seperti meluangkan waktu dengan orang terdekat, istirahat yang cukup, atau melakukan hobi.
Kesimpulan: Pengendalian Diri adalah Kunci
Kesimpulannya, self-reward dapat menjadi gaya hidup yang sehat apabila dilakukan dengan kontrol diri yang baik. Sebaliknya, jika self-reward dilakukan secara berlebihan tanpa adanya batasan, hal tersebut akan menjadi kebiasaan yang merugikan. Oleh karena itu, pengendalian diri menjadi kunci utama agar self-reward dapat benar-benar memberikan manfaat.
Oleh: Karida Bandini, Universitas Sebelas Maret Surakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































