Pernahkah kamu menonton film yang sama dengan temanmu, lalu setelah selesai menonton kalian justru berdebat panjang karena punya pendapat yang berbeda? Bagi sebagian orang, momen seperti itu terasa membingungkan. Namun, justru di titik inilah terlihat bagaimana manusia memahami dunia dengan caranya sendiri.
Fenomena ini tergambar jelas pada tahun 2025 melalui film animasi Jumbo, yang mencatat sejarah sebagai film animasi Indonesia pertama dengan lebih dari sepuluh juta penonton. Di satu sisi, film ini mendapatkan pujian karena visualnya yang memikat dan alur cerita yang menyentuh, sehingga menjadi tontonan yang ideal untuk anak-anak. Namun di sisi lain, menuai pro-kontra di media sosial. Salah satu pengulas di Google menyebutkan karakter Don sebagai sosok yang serakah, tidak empati, egois, dan menilai kehadiran tokoh-tokoh hantu dalam cerita sebagai sesuatu yang tidak layak dikonsumsi anak-anak (BBC News Indonesia, 2025).
Perbedaan reaksi terhadap satu film yang sama ini memicu pertanyaan, yaitu apakah ada satu penilaian yang lebih benar dibandingkan yang lain? Jika untuk urusan fiksi sesederhana sebuah film saja sudut pandang manusia bisa terbelah, bagaimana dengan ilmu pengetahuan? Selama ini, sains dan ilmu pengetahuan biasanya dipandang sebagai cara paling jujur untuk mencari kebenaran karena sifatnya yang objektif. Tetapi, mungkinkah ilmu pengetahuan benar-benar bebas dari campur tangan subjektivitas manusia?
Pertanyaan itu ternyata bukan sekadar soal sains, melainkan tentang bagaimana manusia dengan segala pengalaman dan nilai yang dibawa bisa menghasilkan pengetahuan yang benar-benar dapat dipercaya. Untuk menjawabnya, perlu dipahami dulu dua konsep yang selama ini sering diperdebatkan, yaitu subjektivitas dan objektivitas.
Dua Cara Manusia Memandang Dunia
Sederhananya, subjektivitas dapat dipahami sebagai pengalaman yang dimiliki seseorang dari sudut pandangnya sendiri. Hal ini tidak hanya mencakup proses mental seperti pikiran, perasaan, dan keinginan, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya tempat kita tumbuh. Dengan demikian, subjektivitas menunjukkan bahwa cara seseorang memahami realitas selalu dipengaruhi oleh pengalaman hidup dan kondisi sosial di sekitarnya (Teo, 2024). Ketika ada seorang pengulas yang mengatakan film Jumbo tidak mendidik, ia tidak sedang berbohong. Ia hanya sedang jujur berbicara dari sudut pandangnya, berdasarkan nilai-nilai yang selama ini ia yakini benar.
Selanjutnya, kita mengenal objektivitas. Menurut Stamenkovic (2023) objektivitas adalah prinsip penting dalam ilmu pengetahuan yang berfungsi untuk memastikan bahwa pengetahuan diperoleh melalui prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan berdasarkan pandangan atau kepentingan pribadi. Objektivitas tidak hanya menilai hasil akhir, tapi juga menguji metode, proses, dan sikap peneliti dalam melakukan penelitian. Lewat objektivitas inilah, hasil riset ilmiah bisa diterima oleh masyarakat sebagai informasi yang valid. Pada akhirnya, prinsip ini menjadi target utama dalam dunia sains agar ilmu yang dihasilkan tidak bias dan bisa dipercaya banyak orang.
Mengapa Ilmu Pengetahuan Mengutamakan Objektivitas?
Pada dasarnya, ilmu pengetahuan mengutamakan objektivitas karena sains berupaya memahami realitas apa adanya, tanpa bergantung pada pandangan satu individu saja. Menurut Stamenkovic (2023), pengetahuan ilmiah seharusnya bisa menggambarkan ciri asli dari objek yang diteliti, bukan hanya mencerminkan keyakinan atau pengalaman pribadi peneliti saja. Meskipun manusia tidak bisa lepas sepenuhnya dari bahasa, teori, atau sudut pandang pribadi saat melihat dunia, sains tetap berusaha dengan menggunakan metode yang sistematis agar tidak menimbulkan bias. Hal ini penting, karena fakta ilmiah tidak lahir begitu saja dari apa yang kita lihat atau kita dengar, melainkan dibangun melalui proses pengukuran, penggunaan instrumen, analisis, dan interpretasi berdasarkan kerangka teoritis tertentu. Oleh karena itu, objektivitas menjadi prinsip penting dalam ilmu pengetahuan agar pengetahuan yang dihasilkan tidak hanya bergantung pada satu individu, tetapi dapat diuji, dipahami, dan diterima oleh peneliti lain yang mengkaji fenomena yang sama (Stamennkovic, 2023).
Ketika Subjektivitas Tidak Bisa Ditinggalkan
Meskipun ilmu pengetahuan mengutamakan objektivitas, pada kenyataannya subjektivitas tidak benar-benar dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Thomas Teo (2024) menjelaskan bahwa subjektivitas selalu tertanam dalam kehidupan sehari-hari dan tidak dapat terpisahkan dari cara kita menjalani hidup. Sudut pandang pribadi terbentuk oleh banyak hal mulai dari kehidupan batin, interaksi sosial, konteks budaya, sejarah, dan masyarakat sekitar. Selain itu, pengalaman hidup seseorang juga dipengaruhi oleh berbagai kondisi nyata, seperti lingkungan sosial, ketimpangan ekonomi, perubahan sosial, maupun peristiwa besar yang terjadi dalam masyarakat. Oleh karena itu, cara kita memahami dan memaknai dunia akan selalu terikat pada konteks tertentu. Realitas inilah yang membuat subjektivitas tetap hadir dalam setiap pengalaman manusia. Pada akhirnya, seketat apa pun metodenya, subjektivitas ini pula yang diam-diam ikut menyelinap masuk ke dalam aktivitas ilmiah.
Bukan Memilih, Melainkan Menyeimbangkan
Perdebatan antara subjektivitas dan objektivitas dalam ilmu pengetahuan sebenarnya bukan soal memilih salah satu. Dalam praktik penelitian, terutama penelitian kualitatif, subjektivitas tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus dihapus sepenuhnya, melainkan sesuatu yang perlu disadari dan dikelola secara kritis. Morrow (2005) menjelaskan bahwa keterpercayaan penelitian dibangun melalui keterbukaan terhadap proses penelitian, deskripsi yang mendalam, serta upaya reflektif terhadap posisi peneliti. Sementara itu, Patton (2002) menekankan pentingnya triangulasi, yaitu memeriksa data dari berbagai sudut pandang berbeda untuk mengurangi pengaruh bias dan memperkuat kredibilitas temuan. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak menuntut peneliti menjadi sepenuhnya netral, melainkan mengharuskan mereka untuk menyadari keterbatasan perspektifnya dan menggunakan metode yang memungkinkan hasil penelitian tetap dapat dipertanggungjawabkan. Pada akhirnya hubungan antara subjektivitas dan objektivitas lebih tepat dipahami sebagai upaya mencapai keseimbangan daripada saling menghilangkan.
Kembali ke kasus film Jumbo, sebenarnya tidak ada penonton yang salah. Ada yang menilai dari sudut pandang nilai moral atau agama, ada juga yang melihatnya murni sebagai hiburan dan fantasi. Keduanya sama-sama valid dan manusiawi. Perbedaan itu muncul karena setiap orang membawa pengalaman dan cara pandangnya masing-masing.
Hal yang sama juga berlaku dalam ilmu pengetahuan. Objektivitas tetap penting untuk diupayakan agar pengetahuan yang dihasilkan dapat dipercaya. Namun, subjektivitas tidak pernah benar-benar hilang karena penelitian selalu dilakukan oleh manusia yang memiliki latar belakang, pengalaman, dan perspektif tertentu. Pada akhirnya, yang terpenting bukan memilih antara subjektivitas atau objektivitas, melainkan menyadari keduanya. Dengan begitu, kita dapat lebih memahami kapan suatu penilaian didasarkan pada fakta yang dapat dipertanggungjawabkan dan kapan dipengaruhi oleh cara pandang pribadi.
Sumber:
BBC News Indonesia. (2025, April 17). Di balik pujian dan kritikan terhadap Jumbo, film animasi terlaris se-Asia Tenggara – “Mengungkap bagaimana anak memproses duka kehilangan orang yang dicintai”. https://www.bbc.com/indonesia/articles/clyw777yz6no
Morrow, S. L. (2005). Quality and trustworthiness in qualitative research in counseling psychology. Journal of Counseling Psychology, 52(2), 250–260. https://doi.org/10.1037/0022-0167.52.2.250
Patton, M. Q. (2002). Qualitative research and evaluation methods (3rd ed.). Sage Publications.
Stamenkovic, P. (2023). Facts and objectivity in science. Interdisciplinary Science Reviews, 48(2), 277–298. https://doi.org/10.1080/03080188.2022.2150807
Teo, T. (2024). Towards a theory of subjectivity. Rivista Internazionale di Filosofia e Psicologia, 15(1), 1–14.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































