Di zaman digital ini sering disebut sebagai era banjir informasi. Tetapi, di zaman yang sudah canggih ini dan ditengah kemudahan mengakses segala informasi, masyarakat justru sering gagal dalam mengelola sebuah informasi di media sosial. Pernahkah anda melihat video “ramuan ajaib” yang di klaim bisa menyembuhkan segala penyakit?, atau sebuah teori konspirasi tentang dunia yang diatur oleh segelintiran orang? Meskipum sering kali informasi seperti ini tidak memiliki bukti kuat, uniknya beberapa orang bahkan ribuan dengan cepat membagikannya. Fenomena ini disebut sebagai era post-truth (pasca–kebenaran) dimana emosi dan keyakinan pribadi lebih laku di media sosial dari daripada fakta objektif. Inilah yang dimaksud dengan era banjir informasi. Namun kita justru sering mengalami “gagal nalar”.
Singkatnya, gagal nalar adalah kondisi ketika logika kita berhenti bekerja dan lebih memilih mempercayai mitos atau pseudosains yang biasa dikenal sebagai sains abal-abal, daripada data ilmiah yang valid. Mengapa ini bisa terjadi? Mari kita bedah fenomena ini melalui kacamata Logika Penyelidikan Ilmiah (LPI). Kita dapat membedah dari apa yang kita anggap nyata yaitu ontologis, bagaimana mencari tahu yaitu epistemologi dan manfaat serta nilai bagi kita yaitu aksiologi.
Dalam filsafat, ada istilah yang disebut ontologi, yaitu tentang “hakikat” atau apa yang sebenarnya ada. Menurut (Achmad & Syarif, 2025), dalam pandangan klasik plato, terdapat perbedaan atara episteme yaitu pengetahuan sejati dan doxa yaitu pendapat atau kepercayaan semata. Di media sosial batas antara fakta dan mitos sangat tipis. Banyak informasi yang dianggap seolah-olah informasi yang ilmiah, menggunakan istilah-istilah yang rumit untuk memperkuat informasi, Padahal isinya hanya asumsi tanpa bukti. Banyak orang kurang paham bahwa teknologi hanyalah alat, bukan sumber kebenaran itu sendiri.
Dalam penyelidikan ilmiah, terdapat perbedaan mendasar antara pengetahuan ilmiah dan non-ilmiah. Pengetahuan ilmiah memiliki ciri-ciri seperti sistematis, objektif, dan dapat diverifikasi atau dapat diuji ulang oleh siapa saja. Sedangkan, pengetahuan non-ilmiah seperti mitos, tradisi yang memiliki tempat tersendiri dan sering tidak bisa dibuktikan secara terbuka. Maka dari itu, masalah bisa muncul jika kita menganggap mitos yang beredar di media sosial sebagai informasi yang benar dan mutlak. Maka kita gagal mengenali “hakikat” dari informasi yang kita komsumsi.
Lalu, bagaimana kita bisa langsung menyimpulkan sebuah informasi sampai pada kesimpulan yang salah? Disinilah peran Epistemologi, yaitu ilmu yang mempelajari cara kita mendapatkan pengetahuan. Di masa lalu, sesuatu dianggap benar jika sesuai dengan kenyataan, ini ada pada teori korespondensi. Di zaman sekarang, hal ini mulai bergeser. Menurut (Gusri et al., 2025), manusia lebih condong pada kebenaran pragmatis, yaitu sesuatu dianggap benar hanya karena bermanfaat secara praktis dan cocok dengan selera mereka, bukan karena data yang valid atau data yang ilmiah. Dengan adanya algoritma pada media sosial, kita akan mendapatkan informasi yang kita sukai saja atau yang sudah ada sebelumnya. Sehinngga logika kritis kita menjadi lemah karena jarang atau bahkan tidak pernah di berikan dengan sudut pandang yang berbeda.
Selain itu, informasi yang dianggap valid dipercaya melalui seberapa banyak likes yang didapat dan muncul di bagian paling atas pada pencarian.dan munculnya tantangan dari budaya “klik dan bagikan”. Kita sering tertarik pada berita yang meiliki judul yang dramatis atau bombastis dan tidak membaca isinya secara menyeluruh, dimana kita lebih mementingkan kecepatan dari pada ketepatan data. Padahal hal tersebut tidak menjamin kebenaran ilmiahnya. kita sering lupa bahwa sebuah informasi tidak menjadi benar hanya karena kita sering melihat dan muncul berkali-kali di beranda. Fenomena ini yang membuat kita tidak berpikir panjang dengan kebenaran informasi dan menganggap bahwa yang populer itu informasi yang benar. Menurut (Shin, 2025), kebenaran tidak lahir dari hubungan langsung dengan manusia, melainkan diperantarai oleh mesin. Gagal nalar terjadi saat kita berhenti bertanya “apakah informasi ini benar?” dan menggantinya dengan “apakah informasi ini sedang viral?”.
Selanjutnya yaitu Aksiologi, yaitu tentang nilai dan etika dalam penggunaan ilmu pengetahuan. Di tengah kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), seharusnya kita juga berpikir “apakah teknologi memberi kebaikan manusia atau justru merugikan?”.
Gagal nalar memiliki dampak nyata dan sangat berbahaya. Misalnya, ketika orang lebih percaya pada mitos atau informasi yang tersebar di media sosial, dari pada percaya kepada saran medis, nyawa bisa menjadi taruhannya. Menurut (Gusri et al., 2025),menekankan pentingnya “epistemologi virtue digital”, sebuah karakter moral di mana kita harus berani mengakui kesalahan kita dan berhati-hati sebelum memberikan informasi. Dizaman yang sudah canggih ini banyak muncul akun anonim atau hal semacam deep fake yang digunakan untuk menyebarkan berita atau informasi yang menunjukkan bahwa teknologi juga bisa digunakan tanpa tanggung jawab moral. Jika tidak ada kompas moral ini, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan hanya akan berfungsi sebagai alat manipulatif yang dapat merusak struktur sosial. Terlalu percaya pada informasi di media sosial dan Ketergantungan pada media sosial juga tidak baik, karena bisa menurunkan kemampuan otak kita. Aksiologi disini berperan untuk mengarahkan kita agar tidak menyalahgunakan informasi demi keuntungan pribadi.
Gagal nalar di era digital bukanlah tanda bahwa kita kurang pintar, melainkan tanda bahwa kita kurang teliti dan kurang disiplin dalam menggunakan media sosial. Sebagaimana yang sudah diajarkan oleh filsuf Karl Popper, pengetahuan bisa maju jika kita berani mengevaluasi dan menganalisis serta terbuka terhadap koreksi. Dalam menggunakan media sosial kita harus berhati-hati dalam menerima informasi. Pastikan informasi yang diterima merupakan informasi yang benar dan terdapat data ilmiahnya. Pada era ini banyak orang yang menjadi sumber informasi, sehingga kejujuran intelektual menjadi kewajiban moral. Logika penyelidikan ilmiah adalah perisai agar kita tidak tersesaat dengan banyaknya informasi di zaman ini. Jangan biarkan algoritma atau emosi sesaat mengatur apa yang harus kita percaya. Dengan mengutamakan data yang ilmiah, fakta, kejujuran, dan etika, kita bisa memastikan bahwa fakta tidak akan terus-meneurs kalah dengan mitos digital.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, A. R. I. M., & Syarif, A. A. (2025). Post-Truth dan Tantangannya dalam Dunia Pendidikan. Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat, 7(1), 33-35. DOI: https://doi.org/10.15408/paradigma.v7i1.46905
Gusri, S., Efendi, E., & Zalnur, M. (2025). Perubahan Kriteria Kebenaran di Era Industri 4.0: Antara Koherensi, Korespondensi dan Pragmatisme. Al-Ilmiya: Jurnal Pendidikan Islam, 1(3), 472-482. https://journal.al-afif.org/index.php/al-ilmiya/article/view/314
Shin, D. (2025). Automating epistemology: how AI reconfigures truth, authority, and verification. AI & SOCIETY, 41, 1553-1559. https://doi.org/10.1007/s00146-025-02560-y
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































