“Man Jadda Wa Jada”
Barang siapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.
Tidak semua kisah sukses dimulai dari kemenangan. Kisah Abdullah Rasheed Azka, murid kelas XII-G MAN 1 Yogyakarta yang biasa dipanggil Azka, adalah salah satu bukti bahwa terkadang takdir terbaik datang setelah seseorang memilih untuk tetap bertahan ketika hampir menyerah.
Sejak duduk di bangku kelas X, Azka sudah memiliki ketertarikan yang kuat terhadap dunia mineral, logam, dan material. Ketika banyak murid seusianya masih mencari arah, ia mulai memikirkan bidang yang tidak hanya sesuai minatnya, tetapi juga dapat memberikan manfaat besar bagi bangsa. Dari berbagai pencarian dan bacaan yang ia pelajari, Azka menemukan ketertarikan pada Teknik Metalurgi, sebuah bidang yang mempelajari pengolahan dan pemanfaatan logam serta material hasil tambang.
Ketertarikan Azka pada bidang metalurgi bukan tanpa dasar. Baginya, Indonesia adalah negeri yang dianugerahi kekayaan sumber daya mineral yang luar biasa. Namun kekayaan itu akan memiliki nilai lebih apabila dikelola oleh sumber daya manusia yang kompeten. Kesadaran itulah yang menumbuhkan cita-cita besar dalam dirinya: suatu hari nanti ia ingin berkontribusi melalui ilmu Teknik Metalurgi agar sumber daya alam Indonesia dapat diolah secara lebih optimal dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. “Karena itu, saya ingin mendalami Teknik Metalurgi agar suatu saat bisa ikut berkontribusi dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia,” ujar Azka.
Perjalanan menuju Institut Teknologi Bandung tidak berlangsung semulus yang dibayangkan. Azka harus menghadapi kenyataan yang tidak mudah ketika namanya tidak muncul dalam daftar murid yang diterima melalui jalur SNBP. Ia mencoba bangkit dan kembali berjuang melalui jalur SNBT. Namun hasil yang diterima kembali sama: belum berhasil. Belum cukup sampai di situ, kesempatan melalui jalur SM ITS Flat pun tidak berpihak kepadanya. Tiga penolakan datang berturut-turut.
Bagi sebagian orang, tiga kegagalan mungkin cukup untuk membuat langkah terhenti. Azka mengakui bahwa saat itu ia sempat merasa kecewa dan sedikit kehilangan semangat. “Rasanya hancur sih, tapi saya harus realistis. Harus terus berjuang untuk mendapatkan perguruan tinggi terbaik,” kenang Azka. Terlebih, pada beberapa pilihan sebelumnya, ia bahkan telah menurunkan ekspektasinya dengan memilih program yang dianggap memiliki peluang lebih besar untuk diterima. Ironisnya, pilihan-pilihan tersebut justru semakin menjauh dari impian awalnya untuk mendalami Teknik Metalurgi.
Di tengah situasi tersebut, orang tuanya hadir sebagai sumber kekuatan yang tidak pernah lelah memberikan dukungan. Mereka meyakinkan Azka bahwa Allah SWT selalu memiliki rencana yang lebih baik daripada apa yang mampu direncanakan manusia. Kalimat sederhana itu menjadi penawar di tengah kekecewaan yang ia rasakan. Ia kembali menata langkah dan mempersiapkan diri untuk kesempatan berikutnya, yaitu melalui jalur Seleksi Siswa Unggul (SSU) ITB.
Tidak hanya keluarga, dukungan dari teman-teman terdekat juga menjadi sumber energi yang membuat Azka tetap bertahan. Ketika rasa kecewa mulai muncul akibat beberapa kali penolakan, mereka hadir memberikan semangat dan meyakinkannya untuk terus mencoba.
Ada satu peristiwa yang hingga kini masih dikenangnya dengan jelas. Saat menyusun motivation letter untuk pendaftaran SSU, dokumen yang telah selesai dikerjakannya justru hilang. Situasi itu terjadi menjelang batas akhir pendaftaran. Banyak orang mungkin akan menyerah atau memilih mengirimkan versi seadanya. Namun Azka memilih untuk memulai dari awal. “Akhirnya saya tulis ulang seluruh isi motivation letter, bahkan harus begadang hingga larut malam demi menghasilkan tulisan terbaik yang mampu merepresentasikan impian dan perjuangan saya,” kata Azka.

Hari demi hari berlalu hingga tibalah saat yang paling menentukan. Pengumuman SSU ITB bertepatan dengan Hari Arafah, salah satu hari yang sangat dimuliakan dalam Islam. Pada hari itu, Azka mengaku memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, setelah berbagai usaha yang telah dilakukan, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pemilik Takdir.
Untuk pertama kalinya, Azka benar-benar menerima kemungkinan apa pun yang akan terjadi. Jika diterima, ia bersyukur. Jika tidak diterima, ia juga berusaha ikhlas. Namun takdir ternyata sedang menyiapkan kejutan yang jauh lebih indah daripada yang pernah ia bayangkan. Di layar komputer muncul tulisan berwarna hijau yang sederhana, tetapi mampu mengubah segalanya:
“Selamat, Anda Lulus.” “Sejenak saya tidak percaya dengan apa yang muncul di layar komputer, sebelum akhirnya saya jatuh tersungkur bersujud syukur. Terima kasih ya Allah,” kenang Azka.
Setelah tiga kali menghadapi penolakan, justru pada kesempatan inilah seorang Azka, murid MAN 1 Yogyakarta, diterima di pilihan yang benar-benar ia inginkan sejak awal: Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB Kampus Ganesha, rumah bagi Program Studi Teknik Metalurgi yang selama ini menjadi impiannya. Sebuah Program Studi yang dikenal sebagai salah satu pilihan paling kompetitif dan paling banyak diminati di Indonesia.
Saat itu Azka memahami satu hal penting: terkadang kegagalan bukanlah tanda bahwa kita harus berhenti, melainkan cara Allah SWT mengarahkan kita menuju tempat yang memang telah dipersiapkan untuk kita.
Di luar prestasi akademiknya, Azka adalah pribadi yang gemar berolahraga dan membaca buku. Ia percaya bahwa kesuksesan tidak hanya dibangun melalui kerja keras, tetapi juga melalui keseimbangan hidup. Dalam belajar, ia selalu berusaha mempersiapkan materi sebelum pembelajaran dimulai, menyusun jadwal yang efektif, dan menetapkan target yang jelas. Ia juga sangat memperhatikan kesehatan fisik dan mental agar terhindar dari burnout belajar. Baginya, pikiran yang segar dan tubuh yang sehat merupakan modal penting untuk mencapai prestasi.
Prinsip hidup yang selalu ia pegang berasal dari pesan yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil yaitu Man Jadda Wa Jada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Kalimat itu bukan sekadar slogan baginya, melainkan keyakinan yang terus menguatkan setiap kali ia menghadapi kesulitan.
Kepada adik-adik kelasnya, Azka berpesan agar berani menentukan tujuan sejak dini. Menurutnya, tujuan yang jelas akan membantu seseorang memahami apa yang harus diprioritaskan dan diperjuangkan. Ia juga mengingatkan bahwa usaha terbaik harus selalu disertai doa dan keyakinan kepada Allah SWT.
Penulis: Lilis Ummi Fa’iezah, S.Pd., M.A. (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































