“Every journey has an end. There’s no need to rush.”
Berawal dari rasa penasaran tentang kehidupan kampus di Surabaya, Putri Bening Nurani, murid kelas XII PK 2 MAN 1 Yogyakarta, justru menemukan jalannya menuju kampus impian. Bagi Nuran, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bukan sekadar kampus ternama. Dari berbagai informasi yang ia cari, ITS tampak sebagai tempat yang penuh peluang berkembang, lingkungan belajar yang solid, dan ruang bagi mahasiswa untuk terus bertumbuh.
Tak pernah ia sangka, impian yang selama ini hanya ia bayangkan akhirnya menjadi nyata. Nuran resmi diterima di Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian (FTSPK) ITS melalui jalur SNBT 2026. Namun, perjalanan menuju titik itu ternyata tidak sesederhana yang terlihat. Di balik keberhasilannya, ada kebingungan, keraguan, hingga proses panjang yang harus ia lalui.
Pada awal tahun 2026, Nuran lebih dahulu mencoba kesempatan lain dengan mengikuti seleksi masuk STMM MMTC Yogyakarta melalui jalur skor TKA. Karena memilih Program Studi Animasi, ia juga harus mengikuti tes menggambar sebagai bagian dari seleksi. Tanpa diduga, pada awal Maret 2026, Nuran dinyatakan lolos dan diterima di program studi tersebut.
Di saat yang hampir bersamaan, peluang lain datang menghampiri. Salah satu teman kelas yang masuk kategori eligible mengundurkan diri dari jalur SNBP. Kesempatan itu kemudian ditawarkan kepada Nuran. Ia sempat mempertimbangkannya, tetapi akhirnya memilih mundur.
“Saya merasa kesempatan ini akan lebih bermanfaat kalau diberikan kepada teman yang memang menginginkan jalur ini,” ungkapnya.
Setelah diterima di STMM MMTC, kegundahan mulai muncul. Nuran bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia masih perlu terus belajar dan mengikuti SNBT. Di satu sisi, ia sudah memiliki tempat untuk melanjutkan pendidikan. Namun di sisi lain, masih ada impian yang belum benar-benar ingin ia lepaskan.

Di tengah keraguan tersebut, dukungan dari orang tua menjadi penguat langkahnya. Orang tuanya terus meyakinkan agar ia tetap mencoba SNBT dan totalitas dalam menentukan kampus serta jurusan yang benar-benar diinginkan.
Tak hanya keluarga, lingkungan pertemanan juga menjadi salah satu alasan Nuran mampu bertahan dalam proses panjang tersebut. Ia mengaku senang berdiskusi dengan teman-teman kelasnya karena banyak mendapatkan insight baru tentang strategi belajar maupun impian masa depan. Salah satu temannya bahkan mengajak Nuran mengikuti bimbingan belajar yang dinilai mampu membantu proses persiapan SNBT. Dari sana, semangat Nuran perlahan tumbuh kembali.
Bagi Nuran, salah satu momen paling berkesan selama perjuangan itu justru datang dari kebersamaan sederhana bersama teman-temannya.
“Yang membuat saya tetap bertahan adalah teman-teman saya yang suka menyemangati. Bagian yang paling saya suka itu ketika teman-teman mengajak saya belajar bersama di GIK UGM sambil bercerita tentang strategi belajar dan dunia kuliah. Mendengar cerita dan keluh kesah teman-teman menjadi semangat yang tidak saya temukan di tempat lain,” tuturnya.
Pilihan Nuran terhadap Program Studi Arsitektur juga bukan keputusan yang datang secara tiba-tiba. Nuran sudah memiliki basic skill menggambar yang kemudian semakin diasah setelah diterima di Program Studi Animasi STMM MMTC. Hal ini yang menjadi salah satu alasan utama dirinya memilih arsitektur.
Menurutnya, Program Studi Arsitektur juga memberi ruang yang luas untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mempelajari berbagai software dan keterampilan visual seperti yang ia temukan di dunia animasi. Selain itu, ia ingin menuangkan ide-ide yang ada di pikirannya menjadi sesuatu yang dapat bermanfaat bagi banyak orang.
Meski begitu, Nuran menyadari bahwa perjalanan di dunia arsitektur masih panjang. Untuk menjadi seorang arsitek profesional, seseorang masih harus melanjutkan pendidikan profesi setelah lulus sarjana. Namun justru di situlah ia melihat menariknya jurusan tersebut. Ia percaya bahwa ilmu, relasi, dan pengalaman yang akan ia dapatkan selama kuliah nantinya akan membawanya menuju jalan terbaiknya sendiri.
Dari seluruh perjalanan itu, Nuran belajar banyak hal tentang keberanian mencoba, bertahan di tengah keraguan, dan pentingnya dukungan orang-orang sekitar.
“Kalau mau mencoba sesuatu, setelah dipikirkan dan minta izin ke orang tua, percaya saja sama Allah dan usaha kita. Tetap maju walaupun masih ragu, dengan terus minta petunjuk,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki proses belajar yang berbeda. Belajar dari pengalaman orang lain memang penting, tetapi tidak boleh dijadikan patokan mutlak.
“Harus tahu diri sendiri seperti apa. Mendoakan, menghargai, dan membantu orang lain juga penting, karena mereka bisa jadi alasan urusan kita dipermudah,” tambahnya.
Penulis: Malya Adzillina Silmi, S.Si., (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































