Pernahkah kalian scroll media sosial lalu menemukan pasangan artis atau influencer yang tampaknya begitu sempurna? Foto bersama, caption penuh rasa syukur, dan komentar warganet yang membanjiri kolom komentar. Semuanya terasa hangat dan membahagiakan. Lalu suatu hari, salah satu di antara mereka mengumumkan perpisahan. Yang menarik bukanlah reaksi dari artis atau influencernya, karena saat mereka menunjukkannya di media sosial, berarti mereka sudah siap akan semua hal yang terjadi. Justru yang tampak riuh dalam kolom komentar adalah warganet, “Kok bisa sih?” “Padahal harmonis banget kelihatannya.” “Sedih banget, padahal relationship goals.” Seolah-olah yang kehilangan bukan mereka yang berpisah, tapi kita yang melihatnya.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum era media sosial, sastrawan Abdoel Mustofa Bisri atau yang biasa dikenal Gus Mus sudah menangkap dinamika ini dengan sangat jeli dalam cerpennya “Sang Primadona,”dari kumpulan cerpen Konvensi. Lewat tokoh seorang artis yang terjebak antara kehidupan rumah tangganya yang retak dan citra sempurna yang diharapkan penggemarnya, Gus Mus seolah bertanya kepada kita, “siapa sebenarnya yang menciptakan penjara itu?”
Dalam cerpen Sang Primadona, ada momen yang terasa sangat familiar ketika warganet memuji-muji keharmonisan rumah tangga si Primadona, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi dalam rumah tangganya yang retak. Pujian mereka tulus, tidak ada niat jahat. Tapi justru di situlah masalahnya. Kita hidup di era di mana komentar “relationship goals!” atau “semoga langgeng ya!” terasa seperti hadiah. Tapi bagi si penerimanya, komentar-komentar itu pelan-pelan menumpuk menjadi ekspektasi yang tidak pernah mereka minta. Setiap pujian yang datang seolah berbisik, “jangan sampai kamu mengecewakan kami.” Hal inilah yang bisa disebut sebagai toxic positivity dari warganet terutama penggemar. Mereka tidak jahat, tapi karena kekaguman yang berlebihan, tanpa sadar menciptakan standar yang mustahil dipenuhi. Si idola tidak lagi bisa menjadi manusia biasa yang bisa gagal, bisa terluka, serta memilih jalan yang berbeda.
Menariknya, di zaman sekarang banyak artis atau influencer yang sudah tidak terbebani akan citra tersebut. Ketika mereka memutuskan untuk bercerai dan menunjukkannya secara terbuka di media sosial, mereka tampak biasa saja karena mereka sudah berdamai dengan keputusannya. Yang justru belum berdamai adalah kita, penontonnya. Reaksi “kok bisa sih?” atau “padahal kukira harmonis banget,” itu tanpa disadari mengungkapkan sesuatu, yang ternyata selama ini membutuhkan ilusi kesempurnaan adalah kita, daripada artis atau influencer itu sendiri. Kita yang membangun narasi tentang mereka, kita yang percaya narasi itu, dan kita yang kecewa ketika narasi itu runtuh atau berbeda dari apa yang kita bayangkan. Melalui Primadona-nya, Gus Mus seolah sudah mengetahui atau sadar akan hal ini. Pertanyaan “apa yang harus dilakukan Primadona?” di akhir cerpen bukan hanya untuk si tokoh, tapi juga untuk kita sebagai penonton yang tanpa sadar ikut andil menciptakan dilema itu kepada tokoh “Primadona” di dunia nyata.
Gus Mus tidak memberikan jawaban di akhir cerpennya dan mungkin memang tidak perlu, sehingga kita sebagai pembaca dibuat untuk bertanya-tanya “keputusan apa yang akan Primadona pilih?” Karena pertanyaan sesungguhnya bukan tentang apa yang harus dilakukan Primadona, melainkan tentang kita. Sudahkah kita sebagai penonton, sebagai penggemar, sadar bahwa kekaguman yang kita berikan kadang tanpa sadar berubah menjadi tuntutan? Mengagumi seseorang itu tidak salah. Tapi membiarkan mereka menjadi manusia seutuhnya dengan segala kerapuhan, kekurangan, serta pilihannya itu jauh lebih bermakna.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































