Suara gamelan terdengar sangat merdu di telinga. Menengok lebih dalam di gedung biru itu, ternyata sekelompok siswa sedang memainkan alunan gamelan. Terlihat di depan mereka sejumlah siswi yang menari dipandu seorang Ibu Guru. Suara alunan gamelan dan tarian siswa siswi itu terlihat sangat harmonis dan menarik untuk terus disaksikan. Namun sebenarnya apa yang mereka sedang mereka lakukan di jam pelajaran ini?
Kegiatan yang dilakukan siswa-siswi tersebut ternyata merupakan bagian dari proses belajar yang ada dalam kurikulum Komunitas Kanisius Merapi, terdiri dari TK-SD-SMP Kanisius Sumber. Contextual Project-Based Learning (CPBL) adalah pedoman kurikulum yang dirancang oleh Yayasan Kanisius Cabang Magelang. Setiap unit sekolah yang berada di berbagai wilayah Magelang diharapkan menyesuaikan proses belajar mengajar dengan konteks dan potensi wilayahnya. Proses pembelajaran yang dirancang harus mencakup 4 kriteria yang harus dipenuhi yaitu akademik, artistik, ekonomi, dan sosial. “Amazing Merapi” menjadi tema pedoman pembelajaran Komunitas Kanisius Merapi di tahun ini. Konteks geografis sekolah yang berada di lereng Gunung Merapi dan kedekatan dengan berbagai jenis kesenian lokal melatarbelakangi penyusunan tema ini. Pada semester ini, Gelar Karya dan Budaya akan menjadi acara puncak yang ditujukkan untuk menampilkan hasil belajar selama satu semester.
“Kalau disini anak-anak sangat semangat kalau sudah mendengar gamelan. Pendekatan budaya kami rasa paling efektif dalam melaksanakan pengajaran.” jelas Suster Maria Immacullatien, AK, koordinator CPBL Komunitas Kanisius Merapi dalam wawancara. Melalui kesenian dan kebudayaan, siswa-siswi diajak untuk belajar hal-hal di dalamnya seperti ilmu pengetahuan alam, matematika, olah raga, dan mata pelajaran lainnya. Proses belajar yang kontekstual seperti inilah yang menjadikan belajar mengajar menjadi hal yang mudah dan lebih menyenangkan untuk dilakukan.

Kurikulum CPBL secara sinergis dirancang berkesinambungan dari tingkat TK sampai dengan SMP. Pada tingkat TK, siswa diajak untuk mengenal lingkungan sekitarnya seperti dengan menanam daun bawang untuk kemudian dimanfaatkan. Pada tingkat SD, siswa diajak untuk mengenal perilaku budaya masyarakat di sekitarnya. Salah satu contoh pelaksanaannya adalah dengan melakukan observasi masalah sampah di lingkungan desa. Pada tingkat SMP, siswa diajak untuk melestarikan sumber daya alam di sekitarnya. Contoh nyata program ini adalah melalui kegiatan sekolah sawah dan penelitian inovatif. Dengan demikian, kelas bukan menjadi satu-satunya tempat untuk mendapatkan pengetahuan. Lingkungan sekitar menjadi sumber primer dalam proses produksi pengetahuan.
“Kami sangat mengusahakan agar siswa-siswi tidak lepas dari ketiga tingkatan jaringan ini, sehingga dapat mengalami proses pembelajaran yang utuh.” jelas Suster kemudian.
Dalam realisasinya sekolah memang memiliki keterbatasan sumber daya pengajar, tetapi kedekatan dengan komunitas seni dan institusi keagamaan dalam masyarakat menciptakan bentuk kemitraan yang menarik. Pak Untung sebagai seniman lokal digandeng untuk dapat menjadi pendamping para siswa dalam berkesenian. Siswa-siswi dibimbing untuk dapat memainkan alat musik, menari, menciptakan alur cerita, dan kemudian menampilkannya. Dalam proses ini, guru di sekolah bukan menjadi satu-satunya tokoh yang dapat memberikan sumber pengajaran.
Dukungan pembelajaran juga diberikan oleh pihak Gereja Katolik Paroki St. Maria Lourdes Sumber. Untuk mendukung proses pelestarian lingkungan, Gereja memberikan kesempatan kepada sekolah untuk dapat memanfaatkan lahan yang tidak terpakai sebagai lokasi kegiatan sekolah sawah. Para siswa diajak untuk dapat mengimplementasikan pengetahuannya secara langsung dalam kegiatan tersebut. Sinergi ini menjadi bukti nyata bahwa proses pembelajaran akan sangat efektif dan berdampak apabila didukung dengan keterlibatan komunitas dan institusi masyarakat sekitar.
Contextual Project-Based Learning Komunitas Kanisius Merapi menjadi bentuk implementasi pendidikan multikultural yang diterapkan tidak hanya sebagai satu mata pelajaran semata, tetapi sebagai suatu hal dilakukan dalam setiap tahap pembelajaran bahkan di luar kelas. Pendidikan multikultural terinternalisasi dalam setiap proses produksi pengetahuan yang dialami oleh siswa-siswi. Pengetahuan yang diproduksi kemudian diarahkan untuk dapat kembali dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, proses belajar ini menjadi sebuah ekosistem yang berkesinambungan dan saling menciptakan manfaat.
Kembali ke lapangan SMP Kanisius Sumber. Penampilan seni siswa siswi mengenai ketidakharmonisan lingkungan akibat perilaku manusia akan menjadi salah satu penampilan dalam acara puncak Gelar Karya dan Budaya pada 19 Juni 2026 nanti. Penampilan yang mereka bawa bukanlah sebuah tarian semata, namun hasil pengetahuan yang diproduksi bersama dengan seniman dan masyarakat di tanah Merapi. Proses belajar di Komunitas Kanisius Merapi menunjukkan bahwa tempat belajar tidak pernah benar-benar dibatasi oleh ruang. Kurikulum Contextual Project-Based Learning nyatanya dapat berdampak besar dan efektif karena diiringi sinergi dan kontribusi berbagai pihak.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































