Di era digital seperti sekarang, bekerja dalam kelompok sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari tugas kuliah, organisasi kampus, komunitas online, hingga tim kerja, hampir semua aktivitas melibatkan komunikasi kelompok. Sekilas, kelompok yang kompak terlihat ideal karena anggotanya mudah mencapai kesepakatan. Namun, menurut teori komunikasi kelompok, kekompakan yang berlebihan justru bisa menjadi masalah. Fenomena ini dikenal sebagai groupthink atau pemikiran kelompok.
Saat ini, contoh groupthink sering ditemukan di media sosial. Tidak jarang sebuah kelompok atau komunitas online memiliki pandangan yang sama terhadap suatu isu. Ketika ada anggota yang berbeda pendapat, mereka sering kali memilih diam karena takut dikritik atau dianggap tidak sejalan dengan kelompok. Akibatnya, keputusan atau opini yang terbentuk bukan lagi hasil pertimbangan yang matang, melainkan karena dorongan untuk tetap diterima dalam kelompok.
Menurut Irving Janis, groupthink terjadi ketika anggota kelompok terlalu fokus mencapai kesepakatan sehingga kehilangan kemampuan untuk menilai alternatif lain secara realistis. Dalam kondisi ini, kelompok cenderung mengabaikan kritik, menolak pendapat berbeda, dan hanya menerima informasi yang mendukung keyakinan mereka. Salah satu cirinya adalah self-censorship, yaitu ketika anggota menahan pendapat yang berbeda, serta illusion of unanimity, yaitu munculnya anggapan bahwa semua anggota setuju meskipun sebenarnya ada yang tidak sepakat.
Fenomena ini juga sering terjadi dalam tugas kelompok mahasiswa. Misalnya, ketika ketua kelompok mengusulkan sebuah ide dan sebagian anggota sebenarnya memiliki solusi yang lebih baik. Namun karena tidak ingin memperpanjang diskusi atau dianggap menghambat pekerjaan, mereka memilih mengikuti keputusan mayoritas. Hasilnya, keputusan yang diambil belum tentu menjadi pilihan terbaik.
Selain groupthink, teori dalam komunikasi juga menjelaskan bahwa komunikasi kelompok yang sehat membutuhkan interaksi yang aktif antaranggota. Bales melalui Analisis Proses Interaksi menekankan pentingnya komunikasi terbuka dalam kelompok agar tercipta keseimbangan dan proses pengambilan keputusan yang lebih efektif. Dengan adanya ruang untuk bertukar ide dan kritik, kelompok dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang.
Menurut saya, perbedaan pendapat dalam kelompok tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman. Justru perbedaan tersebut dapat menjadi sumber inovasi dan solusi yang lebih baik. Kelompok yang sehat bukanlah kelompok yang selalu sepakat, melainkan kelompok yang mampu menghargai berbagai pandangan sebelum mengambil keputusan bersama.
Oleh karena itu, di tengah budaya media sosial yang sering mendorong orang untuk mengikuti arus mayoritas, kemampuan berpikir kritis dan keberanian menyampaikan pendapat menjadi hal yang sangat penting. Jangan sampai kekompakan yang terlihat positif justru membuat kelompok kehilangan objektivitas. Komunikasi kelompok yang baik adalah komunikasi yang memberi ruang bagi setiap anggota untuk didengar, bukan hanya untuk menyetujui.
Penulis : Zaskia Putri Malika
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































