Di tengah tuntutan peningkatan kualitas pelayanan publik dan semakin besarnya kebutuhan pembiayaan pembangunan, pemerintah daerah dituntut mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai wujud kemandirian fiskal. Sayangnya, hingga kini masih banyak pemerintah daerah yang lebih bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat daripada menggali potensi ekonomi yang dimiliki daerahnya sendiri. Akibatnya, banyak aset daerah bernilai tinggi hanya berfungsi sebagai pelengkap wajah kota tanpa mampu memberikan kontribusi yang berarti terhadap keuangan daerah.
PAD bukan sekedar sumber pendapatan daerah, namun menjadi indikator kapasitas fiskal pemerintah daerah dalam membiayai pelayanan publik dan pembangunan secara mandiri. Ketika kontribusi PAD masih rendah, ruang gerak pemerintah dalam menyusun program prioritas menjadi terbatas karena bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat. Oleh karena itu, peningkatan PAD harus dipandang sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan keuangan daerah, bukan sekedar upaya menambah penerimaan.
Kondisi tersebut juga dapat dilihat pada kawasan pengelolaan Ancol Gentala Arasy di Kota Jambi. Kawasan yang menjadi salah satu ikon wisata Kota Jambi ini hampir setiap hari dipadati masyarakat. Aktivitas olahraga, wisata kuliner, hingga rekreasi keluarga membuat kawasan ini tidak pernah sepi, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Ironisnya, banyaknya pengunjung belum mampu diterjemahkan menjadi peningkatan PAD yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah masih belum berhasil mengubah potensi wisata menjadi sumber pendapatan yang produktif.
Persoalan utama bukan terletak pada kurangnya potensi, melainkan pada lemahnya tata kelola. Pengelolaan kawasan masih berjalan secara konvensional, kurang inovatif, dan belum didukung oleh sistem yang mampu mengoptimalkan setiap peluang ekonomi. Parkir sering kali belum tertata secara maksimal, penataan pedagang masih belum seragam, fasilitas umum belum sepenuhnya memenuhi standar kawasan wisata modern, dan berbagai aktivitas ekonomi berlangsung tanpa memberikan nilai tambah yang optimal bagi pemerintah daerah. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Ancol Gentala Arasy hanya akan menjadi ruang publik yang ramai, namun masyarakat miskin berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
Pemerintah daerah seharusnya menyadari bahwa pembangunan kawasan wisata tidak cukup hanya dengan mempercantik infrastruktur. Keberhasilan sebuah destinasi wisata diukur dari kemampuannya menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan. Jalan yang bagus, taman yang indah, dan jembatan yang megah tidak akan menimbulkan dampak besar jika tidak diikuti dengan strategi pengelolaan yang profesional. Tanpa inovasi, kawasan tersebut hanya menjadi tempat masyarakat menghabiskan waktu, bukan menghasilkan pendapatan bagi daerah.
Sayangnya, hingga saat ini pemerintah masih terlihat lebih fokus pada pembangunan fisik dibandingkan pembangunan sistem pengelolaan. Padahal, kebocoran potensi PAD sering kali terjadi bukan karena minimnya pengunjung, melainkan karena lemahnya manajemen. Tidak adanya digitalisasi pengelolaan kawasan, belum optimalnya sistem retribusi, serta minimnya pemanfaatan data pengunjung menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan belum mengikuti perkembangan zaman. Di era digital, cara-cara lama sudah tidak lagi cukup untuk meningkatkan pendapatan daerah.
Di sisi lain, pemerintah juga belum mampu menciptakan daya tarik wisata yang berkelanjutan. Wisatawan umumnya datang untuk menikmati pemandangan Sungai Batanghari atau sekedar kuliner.
Setelah itu mereka pulang tanpa aktivitas lain yang dapat memperpanjang waktu kunjungan. Kondisi ini menjadi bukti bahwa kawasan tersebut masih kekurangan daya tarik wisata yang mampu menciptakan perputaran ekonomi lebih besar. Padahal, Ancol Gentala Arasy memiliki peluang menjadi pusat wisata budaya Melayu, ruang ekonomi kreatif, lokasi festival daerah, hingga destinasi wisata sungai yang dapat menarik wisatawan dari berbagai daerah.
Yang lebih terpengaruh adalah apabila pemerintah merasa bahwa banyaknya pengunjung sudah menjadi indikator keberhasilan. Pandangan seperti ini harus segera diubah. Banyaknya masyarakat yang datang belum tentu berarti kawasan tersebut berhasil meningkatkan PAD. Ukuran keberhasilan seharusnya bukan sekadar jumlah pengunjung, melainkan besarnya manfaat ekonomi yang dihasilkan bagi daerah dan masyarakat. Jika ribuan orang datang setiap minggu tetapi penerimaan daerah tidak mengalami peningkatan yang berarti, maka ada masalah dalam tata kelola serius yang harus segera dibenahi.
Oleh karena itu, Pemerintah Kota Jambi perlu melakukan perubahan secara menyeluruh. Pengelolaan kawasan harus berbasis inovasi, transparansi, dan kolaborasi. Digitalisasi parkir dan retribusi harus diterapkan agar kebocoran pendapatan dapat diminimalkan. Penataan UMKM harus dilakukan secara profesional sehingga kawasan menjadi lebih tertib dan menarik. Pemerintah juga perlu menyelenggarakan agenda budaya, festival, dan berbagai kegiatan ekonomi kreatif secara rutin agar Ancol Gentala Arasy memiliki daya tarik sepanjang tahun, bukan hanya ramai di akhir pekan.
Selain itu, kerja sama dengan sektor swasta dan komunitas lokal perlu diperkuat. Pemerintah tidak harus bekerja sendiri dalam mengembangkan kawasan wisata. Kolaborasi yang tepat akan menciptakan inovasi baru sekaligus mengurangi beban anggaran daerah. Yang terpenting, setiap kebijakan harus terfokus pada peningkatan nilai ekonomi kawasan tanpa menghilangkan fungsi Ancol Gentala Arasy sebagai ruang publik yang nyaman bagi masyarakat.
Sudah saatnya pemerintah berhenti melihat Ancol Gentala Arasy hanya sebagai ikon kebanggaan Kota Jambi. Kawasan ini harus diposisikan sebagai aset ekonomi daerah yang mampu menghasilkan PAD secara berkelanjutan. Jika pengelolaannya tetap berjalan seperti saat ini, potensi besar yang dimiliki hanya akan menjadi angka dalam dokumen perencanaan tanpa pernah benar-benar memberikan manfaat bagi keuangan daerah. Sebaliknya, apabila dikelola dengan serius, profesional, dan penuh inovasi, Ancol Gentala Arasy dapat menjadi bukti bahwa aset daerah bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga mampu menjadi penggerak utama defisit fiskal Kota Jambi.

Penulis: Nayla Amania Findri
Universitas Nurdin Hamzah
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































