GRESIK – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya Sub Kelompok 4 membawa solusi inovatif bagi permasalahan sampah organik di Desa Raci Kulon, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Melalui penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa komposter aerob, sampah sisa dapur dan limbah pertanian yang sebelumnya hanya menumpuk kini dapat diolah menjadi pupuk organik padat maupun cair yang bernilai jual.
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada Selasa (8/7/2026) di Balai Desa Raci Kulon, dengan melibatkan perangkat desa, pengelola bank sampah, serta puluhan warga setempat. Ketua tim pelaksana sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan, Achmad Naufal Irsyadi, S.HUM., M.N.Li menjelaskan bahwa program ini lahir dari permasalahan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Selama ini sampah organik rumah tangga di Desa Raci Kulon kebanyakan hanya dibuang atau dibakar, sehingga menimbulkan bau tidak sedap dan mempercepat penumpukan di Tempat Pembuangan Sementara. Padahal limbah ini masih memiliki potensi besar jika diolah dengan tepat,” ujar Naufal.
Sistem Komposter Aerob, Lebih Cepat dan Minim Bau
Teknologi yang diperkenalkan berupa komposter aerob berkapasitas 220 liter yang dilengkapi sistem sirkulasi udara dari pipa berlubang di bagian tengah. Berbeda dengan pengomposan konvensional yang membutuhkan waktu berbulan-bulan dan sering menimbulkan bau tak sedap, sistem ini memanfaatkan bantuan mikroorganisme bioaktivator EM4 sehingga proses penguraian berjalan lebih cepat dan higienis.
Komposter ini dirancang untuk menghasilkan dua jenis pupuk sekaligus: pupuk organik cair (POC) yang dapat dipanen setiap 2–3 hari melalui keran di bagian bawah, serta pupuk kompos padat yang siap pakai setelah 3–4 minggu pengolahan.
“Kelebihan sistem ini sangat terasa bagi warga. Selain tidak berbau, hasil olahannya bisa langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian warga maupun dijual kembali sebagai produk bernilai ekonomi,” jelas Abidin Dwi Putra, salah satu mahasiswa pelaksana dari jurusan Teknik Mesin.
Dari Masalah Lingkungan Menjadi Sumber Pendapatan
Kegiatan ini tidak hanya berupa penyerahan alat, tetapi juga dilengkapi dengan pelatihan praktis cara pengoperasian komposter, penanganan kendala teknis, hingga panduan pengemasan produk pupuk agar layak dijual. Warga tampak antusias mengikuti demonstrasi dan berdiskusi mengenai potensi pengembangan skala lebih besar.
Kepala Desa Raci Kulon, Hendry Adha Asmoko, menyambut baik program ini dan berharap dapat berlanjut secara berkelanjutan. “Kami berterima kasih kepada tim KKN UNTAG Surabaya. Ke depannya kami berencana menggandeng BUMDes untuk memproduksi pupuk hasil komposter ini secara masif dan menjadikannya salah satu produk unggulan desa,” ungkapnya.
Sementara itu, tim juga telah menyusun buku panduan praktis serta membuka akses pendampingan digital bagi warga. “Kami berharap nantinya warga bisa mereplikasi alat ini secara mandiri, sehingga pengelolaan sampah di desa kita semakin efisien dan mandiri,” tambahnya.
Program ini diharapkan dapat menjadi tonggak awal pengelolaan sampah yang lebih baik di Desa Raci Kulon, sekaligus membuktikan bahwa sampah bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang bernilai jika dikelola dengan teknologi yang tepat.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































