Nganjuk – Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa KKN PSDKU Universitas Brawijaya Kediri Kelompok 16 Desa Banjarsari CERITA AKSARI di bawah bimbingan Dosen Pendamping Lapang (DPL) Dr. Atik Winarti, S.Pt. melaksanakan program pengelolaan limbah organik rumah tangga melalui pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dengan memanfaatkan galon bekas sebagai media fermentasi. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Banjarsari, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, pada Rabu, 8 Juli 2026.
Kegiatan ini diikuti oleh ibu – ibu PKK dan ibu rumah tangga di Desa Banjarsari serta mendapat dukungan dari Perangkat Desa Banjarsari. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair, sehingga dapat mengurangi timbulan sampah organik, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta mendukung penerapan pertanian ramah lingkungan dan ekonomi sirkular di tingkat rumah tangga.
Kelompok 16 Desa Banjarsari CERITA AKSARI terdiri atas mahasiswa PSDKU Universitas Brawijaya Kediri dari Program Studi Agroekoteknologi, Agribisnis, Akuakultur, Peternakan, dan Sosial Ekonomi Perikanan yang berkolaborasi dalam melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi serta penerapan teknologi tepat guna yang sederhana, ekonomis, dan mudah diterapkan oleh masyarakat.
“Program ini dilatarbelakangi oleh masih banyaknya limbah organik rumah tangga, seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah dapur lainnya yang belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar limbah tersebut hanya dibuang sehingga menimbulkan bau tidak sedap dan menambah volume sampah. Padahal, limbah organik memiliki potensi untuk diolah menjadi pupuk organik cair yang bermanfaat bagi tanaman. Oleh karena itu, mahasiswa KKN memperkenalkan pemanfaatan galon bekas sebagai media fermentasi POC agar masyarakat dapat mengolah sampah organik menjadi produk yang bernilai guna dengan cara yang mudah, murah, dan ramah lingkungan,” ujar Muhammad Fauzi, selaku Koordinator Kelompok 16 KKN Desa Banjarsari.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap persiapan berupa penyediaan lokasi, koordinasi dengan peserta, serta penyiapan alat dan bahan. Alat yang digunakan meliputi galon bekas berkapasitas 15 liter sebagai wadah fermentasi, selang aerasi sebagai saluran pembuangan gas hasil fermentasi, serta lem tembak untuk merekatkan sambungan selang pada galon agar tetap kedap udara sehingga proses fermentasi berlangsung secara anaerob. Kondisi tersebut bertujuan meminimalkan masuknya oksigen ke dalam wadah fermentasi sehingga pertumbuhan jamur dapat dicegah dan proses pembentukan pupuk organik cair berlangsung secara optimal.
Bahan yang digunakan dalam pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) terdiri atas 3 kg sampah organik rumah tangga berupa sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah dapur, 250 ml molase sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme, 100 ml EM4 sebagai aktivator fermentasi, serta 1 liter air cucian beras sebagai media fermentasi.
Selanjutnya, peserta mengikuti sesi penyampaian materi melalui presentasi mengenai manfaat pupuk organik cair, jenis limbah organik yang dapat dimanfaatkan, prinsip fermentasi pupuk organik cair (POC), tahapan pembuatan POC, serta cara pengaplikasiannya pada berbagai jenis tanaman. Untuk memudahkan peserta memahami materi, mahasiswa juga membagikan berkas cetak sebagai panduan pembuatan POC sehingga dapat dipelajari kembali dan dipraktikkan secara mandiri di rumah.

Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik secara langsung pembuatan Pupuk Organik Cair (POC). Peserta bersama mahasiswa melakukan pencacahan limbah organik, pencampuran bahan menggunakan molase, EM4, dan air cucian beras, kemudian merakit media fermentasi pupuk organik cair (POC) menggunakan galon bekas dan selang aerasi hingga siap digunakan. Sebagai bentuk pendampingan, mahasiswa juga membagikan contoh produk Pupuk Organik Cair yang telah selesai difermentasi dan siap diaplikasikan pada tanaman. Produk tersebut digunakan sebagai media pembelajaran agar peserta dapat mengenali karakteristik POC yang telah matang serta memahami cara penggunaannya secara tepat.

Inovasi yang diusung dalam program ini adalah penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) melalui pemanfaatan galon bekas sebagai media fermentasi anaerob pupuk organik cair berbahan limbah organik rumah tangga. Teknologi tersebut diimplementasikan melalui pemanfaatan galon bekas yang dimodifikasi menjadi wadah fermentasi anaerob dengan bantuan selang aerasi sehingga gas hasil fermentasi dapat keluar tanpa memungkinkan oksigen masuk ke dalam wadah. Sistem ini memungkinkan masyarakat memanfaatkan peralatan yang mudah diperoleh dengan biaya rendah namun tetap menghasilkan pupuk organik cair yang berkualitas.
“Limbah organik pada dasarnya berasal dari alam sehingga sudah seharusnya dikembalikan lagi ke alam dalam bentuk yang lebih bermanfaat. Melalui program ini kami ingin mengajak masyarakat mengolah sisa sayuran dan buah-buahan menjadi pupuk organik cair yang dapat menyuburkan tanaman. Maka dari itu, limbah tidak hanya berakhir sebagai sampah, tetapi menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna sekaligus membantu mengurangi penggunaan pupuk kimia,” ujar Elsa Ayu Winata, selaku Penanggung Jawab Program.
Sebagai penutup kegiatan, mahasiswa KKN membuka sesi diskusi dan tanya jawab bersama peserta. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan mengenai proses fermentasi, cara mengatasi kendala selama pembuatan POC, hingga teknik pengaplikasiannya pada tanaman. Melalui sesi tersebut, mahasiswa memberikan penjelasan dan solusi sehingga peserta diharapkan mampu mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair secara mandiri di rumah.
Salah satu ibu PKK di Desa Banjarsari, Sunarsih, mengungkapkan apresiasinya terhadap program tersebut. “Menurut saya, program kerja yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN PSDKU Universitas Brawijaya Kediri ini sangat membantu dalam mengelola sampah organik rumah tangga. Limbah yang biasanya hanya dibuang di pekarangan dan menimbulkan bau tidak sedap, kini dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair yang bermanfaat untuk menyuburkan tanaman hias di rumah,” ujar Sunarsih (08/07/2026).
Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat Desa Banjarsari mampu mengelola limbah organik rumah tangga secara mandiri, mengurangi penggunaan pupuk kimia, menekan biaya perawatan tanaman, meningkatkan kesuburan tanah, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pengelolaan limbah organik yang berkelanjutan.
Program pengelolaan limbah organik rumah tangga melalui pembuatan pupuk organik cair dengan memanfaatkan galon bekas ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana berbasis potensi lokal mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pemanfaatan pupuk organik untuk mendukung produktivitas tanaman, SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui kegiatan edukasi, pelatihan, dan praktik kepada masyarakat, SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan limbah organik rumah tangga dan galon bekas menjadi produk yang bernilai guna, SDGs 15 (Menjaga Ekosistem Daratan) melalui penggunaan pupuk organik yang mendukung kesehatan dan kesuburan tanah, serta SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN PSDKU Universitas Brawijaya Kediri, Pemerintah Desa Banjarsari, dan masyarakat dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer









































































