Ada mimpi yang tumbuh sejak kecil, bertahan melewati waktu, lalu menemukan jalannya untuk menjadi nyata. Bagi Feivel Adhya Luvaistha, murid kelas XII A MAN 1 Yogyakarta, mimpi itu telah ia simpan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Kini, mimpi tersebut membawanya menuju Universitas Gadjah Mada (UGM), tepatnya Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea.
Rasa syukur dan bahagia menjadi hal pertama yang hadir ketika kabar penerimaan itu akhirnya datang. Setelah melewati proses panjang yang tidak selalu mudah, Feivel akhirnya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di kampus yang selama ini menjadi impiannya. “Of course, aku bersyukur banget dan super senang sudah diterima di kampus impian saya sejak SD, khususnya Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea. Setelah proses yang super panjang itu akhirnya aku bisa sampai pada kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke tempat yang aku yakini jadi awal dari perjalanan buat mimpi-mimpi aku ke depan,” ungkap Feivel.
Bagi Feivel, UGM bukan sekadar pilihan. Kualitas pendidikan yang baik serta lingkungan belajar yang mendukung mahasiswa untuk berkembang menjadi alasan kuat untuk memilih kampus tersebut. Sementara itu, pilihannya terhadap Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea lahir dari rasa ingin tahu yang terus tumbuh selama menjalani proses belajar di MAN 1 Yogyakarta.
Ketertarikannya terhadap bahasa dan kebudayaan dunia semakin terasah ketika ia belajar di kelas Bahasa dan Kebudayaan. Pelajaran Antropologi juga membuatnya semakin tertarik memahami bagaimana sebuah masyarakat mempertahankan budaya dan identitasnya di tengah perkembangan zaman.
Korea menjadi salah satu negara yang membuat rasa ingin tahunya semakin besar. Di balik kemajuan negaranya, Feivel melihat adanya budaya dan nilai yang tetap mengakar kuat. Ia ingin memahami lebih jauh bagaimana bahasa dan budaya dapat menjadi bagian dari cara sebuah bangsa berkembang sekaligus membangun hubungan dengan dunia.
Ketertarikan tersebut kemudian bertemu dengan pengalaman lain yang ia dapatkan selama bersekolah di MAN 1 Yogyakarta. Keterlibatannya dalam Model United Nations (MUN) memperkenalkannya pada dunia diplomasi dan isu-isu global. Dari pengalaman tersebut, ketertarikannya terhadap komunikasi antarnegara semakin tumbuh dan perlahan mengarahkannya pada pilihan studi yang kini ia perjuangkan.
Namun, perjalanan Feivel menuju kampus impian tentu tidak selalu berjalan mulus. Ada fase ketika rasa lelah, tekanan, dan kekhawatiran datang silih berganti. Melihat teman-temannya lebih dahulu mendapatkan universitas juga sempat membuatnya merasa tertekan.

Ketika sebagian teman dinyatakan eligible untuk mengikuti SNBP, Feivel sempat merasakan kesedihan. Namun, ia kemudian melihat kesempatan lain melalui UTBK. Ia belajar dan berjuang dengan sungguh-sungguh. Ketika hasil yang diharapkan belum menjadi takdirnya, rasa kecewa tentu hadir.
Namun, Feivel memilih untuk tidak berlama-lama dalam kesedihan. Dukungan dan keyakinan dari orang tua membuatnya kembali bangkit. Ia percaya bahwa apa yang telah ditetapkan Tuhan tidak akan pernah tertukar. “Aku yakin banget rencana Tuhan itu selalu indah. Aku juga yakin yang sudah tertakar tidak akan tertukar. Pasti konsistensi yang aku jalani sekarang itu akan berbuah hasil,” tuturnya.
Hingga akhirnya, kesempatan itu datang melalui Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM. Sebuah kesempatan yang membuat Feivel kembali percaya bahwa setiap perjalanan, bahkan yang sempat terasa gagal, mungkin sebenarnya sedang mempersiapkan seseorang menuju tempat yang tepat.
Kini, Feivel ingin membawa seluruh pengalaman yang diperolehnya selama di MAN 1 Yogyakarta sebagai bekal untuk perjalanan baru. Ia percaya bahwa setiap pengalaman memiliki peran dalam membawanya sampai ke titik ini. Mulai dari pembelajaran di kelas, ketertarikannya pada Antropologi, pengalaman menulis karya ilmiah dan riset, hingga keterlibatannya dalam MUN.
Semua pengalaman tersebut perlahan membentuk rasa penasaran yang akhirnya membawanya pada satu pilihan: mempelajari Bahasa dan Kebudayaan Korea secara lebih mendalam.
Untuk adik-adik MAN 1 Yogyakarta yang masih berjuang mengejar kampus impian, Feivel berpesan agar tidak takut memiliki mimpi dan tidak mudah menyerah ketika perjalanan yang ditempuh tidak sesuai dengan rencana. “Jangan pernah takut punya mimpi. Cari betul apakah mimpi yang kamu pegang itu sudah benar dan tepat saat kamu jalani. Kalau ada yang tidak sesuai rencana, itu bukan perjalanannya yang salah, tetapi memang ada takdir yang lebih besar menunggu kalian semua di depan sana,” pesannya.
Feivel juga mengingatkan bahwa mimpi membutuhkan keberanian untuk diperjuangkan. Sebab, berharap tanpa bergerak tidak akan membawa seseorang lebih dekat pada tujuannya. “Do something, to get something. Lakukanlah sesuatu agar kamu bisa mendapatkan sesuatu juga, karena kalau kamu cuma diam dan berharap, juga tidak ada gunanya,” pungkasnya.
Perjalanan Feivel menjadi pengingat bahwa jalan menuju mimpi tidak selalu lurus. Ada kegagalan yang harus diterima, ada rencana yang harus dilepaskan, dan ada kesempatan baru yang harus diperjuangkan. Namun, selama seseorang terus bergerak dan percaya pada prosesnya, selalu ada kemungkinan bahwa jalan yang sempat dianggap sebagai kegagalan justru sedang mengantarkannya menuju takdir terbaik.
Sebab, mimpi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh mungkin saja tertunda, tetapi tidak akan pernah tertukar.
Penulis: Widiatush Muthia Fahma, M.Pd (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































