Sebagai Ketua Kopri Komisariat Sunan Drajat pada periode 2023–2024, saya masuk dengan semangat besar: menyiapkan program-program kaderisasi, merancang kurikulum sekolah gender, bahkan menyusun peta advokasi untuk isu perempuan santri. Hampir setiap pekan saya sibuk menuliskan konsep, menyusun timeline dan merapikan proposal. Namun, ada satu hal yang saya terlalu abaikan: kondisi nyata di dalam tubuh kepengurusan.
Minimnya jumlah pengurus aktif menjadi tantangan pertama. Tidak semua posisi terisi, sementara beban kerja terus menumpuk. Lebih berat lagi, ada pengurus yang tiba-tiba “menghilang dari radar”, tidak hadir dalam rapat, sulit dihubungi dan perlahan menjauh dari aktivitas organisasi. Akibatnya, program yang seharusnya menjadi agenda kolektif berubah menjadi beban segelintir orang saja.
Di titik ini saya belajar bahwa organisasi bukan sekadar deretan program yang indah di atas kertas. Kepemimpinan tidak bisa hanya berpusat pada desain, melainkan harus mampu merawat orang-orang yang menjalankan desain itu. Tanpa pengurus yang solid, gagasan sehebat apapun akan mandek. Bahkan saya merasakan langsung bagaimana rasa lelah, kecewa dan hampir putus asa muncul ketika rencana yang disusun berbulan-bulan tidak bisa dijalankan hanya karena kurangnya SDM yang konsisten.
Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa sustainability organisasi terletak pada manusia di dalamnya, bukan pada program yang tertulis di proposal. Program hanyalah alat, yang utama adalah memastikan orang-orang yang menggerakkan roda organisasi tetap hadir, termotivasi dan merasa memiliki.
Strategi Penting untuk KOPRI
Pengalaman ini tidak hanya relevan bagi saya secara personal, tetapi juga menjadi catatan penting bagi seluruh KOPRI di tingkat komisariat, cabang, bahkan rayon. Ada beberapa strategi yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan agar masalah serupa tidak terus berulang:
1. Bangun Kepengurusan yang Realistis, Bukan Sekadar Lengkap di Atas Kertas
Jangan tergoda mengisi struktur dengan nama sebanyak mungkin hanya demi terlihat besar. Lebih baik sedikit tapi aktif daripada banyak tapi kosong. Kepengurusan harus diisi oleh orang-orang yang benar-benar punya komitmen, meski jumlahnya terbatas.
2. Rawat dan Jaga Motivasi Kader Inti
Program kaderisasi bisa menunggu, tapi kehilangan kader inti akan melumpuhkan organisasi. Lakukan pertemuan informal, ngobrol santai atau sekadar ruang curhat untuk menjaga ikatan emosional. Kader yang merasa diperhatikan akan lebih sulit “menghilang”.
3. Rotasi dan Distribusi Tugas Sejak Awal
Jangan biarkan hanya segelintir pengurus yang bekerja. Terapkan rotasi tugas kecil sejak awal periode, misalnya siapa yang bertanggung jawab atas forum bulanan, siapa yang mengurus publikasi dan siapa yang mengelola jejaring. Rotasi akan mencegah beban menumpuk di satu orang dan melatih tanggung jawab kolektif.
4. Program Kecil tapi Konsisten
KOPRI tidak harus selalu membuat program besar. Lebih baik ada kegiatan kecil, rutin, dan relevan, misalnya diskusi bulanan, kelas menulis atau kajian tematik daripada merancang agenda besar yang akhirnya tidak terlaksana. Program kecil yang konsisten jauh lebih terasa dampaknya bagi kader.
5. Membangun Budaya Evaluasi Internal
Biasakan ada evaluasi jujur, misalnya setiap dua bulan. Evaluasi bukan untuk mencari siapa salah, tapi untuk menegaskan siapa yang masih komitmen dan apa yang bisa disesuaikan. Dengan begitu, jika ada pengurus yang mulai melemah, bisa segera dicari jalan keluarnya.
6. Sediakan Mekanisme Regenerasi Non-Formal
Tidak semua kader harus langsung masuk struktur formal. Ada banyak kader potensial yang lebih nyaman di luar struktur tapi tetap mau bekerja. Beri mereka ruang: tim ad-hoc, panitia kegiatan atau fasilitator diskusi. Strategi ini bisa menjadi cadangan kader ketika struktur inti melemah.
7. Fokus pada Kaderisasi, Bukan Seremonial
Tantangan KOPRI sering kali terjebak dalam kegiatan seremonial yang melelahkan tetapi tidak berdampak panjang. Padahal inti organisasi adalah mencetak kader kritis dan berdaya. Maka, setiap kegiatan harus ditimbang dengan pertanyaan sederhana: apakah kegiatan ini membentuk kader?
Penutup: Dari Rasa Lelah Menjadi Pelajaran
Saya pernah merasa gagal ketika banyak rencana tidak terlaksana karena pengurus yang berkurang satu per satu. Tetapi setelah merenung, saya menyadari bahwa kegagalan ini sebenarnya hadiah. Dari sini saya belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan soal seberapa hebat rencana yang dibuat, melainkan seberapa mampu seorang ketua menjaga timnya tetap ada, tetap berjalan dan tetap percaya bahwa mereka bagian penting dari perjuangan.
Untuk seluruh KOPRI, saya titip satu pesan: jangan terlalu sibuk merancang sampai lupa merawat. Karena tanpa tim yang solid, semua rancangan akan tinggal tulisan. Tetapi dengan tim yang setia dan dirawat, bahkan rancangan sederhana bisa menjadi gerakan besar.
Penulis:
Mamlu’atul Hidayah (Ketua KOPRI PK PMII Sunan Drajat Lamongan Masa Khidmat 2023-2024)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































